Politik Militer

  • Awas atau Aman

    Tempo 28 Februari 1976 BERITANYA kembali bermula dari Radio Australia, khususnya siaran bahasa Inggeris ABC (Australian Broadcasting Commission), 17 Pebruari lalu ABC memberitakan bahwa gangguan gerilyawan OPM (Organisasi Papua Merdeka) telah meningkat menyusul penyerbuan ‘sukarelawan’ Indonesia di Timor-Timur. Menurut koresponden ABC, Albert Asbury, hal itu telah dibenarkan oleh sumber-sumber intelijen Papua Nugini di Port Moresby,… Continue reading

  • Desember Hitam Buat 100 Sandera

    Tempo 13 Desember 1975 SELASA malam, 2 Desember di stasiun kecil Beilen, Negeri Belanda sebelah Utara. Lima orang Maluku duduk di bangku stasiun yang sepi itu. Menunggu kereta api yang menuju Amsterdam, sambil mengepit beberapa kotak besar yang dibungkus rapi. Kondektur stasiun yang mondar-mandir sepanjang peron masih sempat omong-omong dengan mereka. “Saya tidak curiga apa-apa”,… Continue reading

  • Setelah Proklamasi Sepihak itu

    Tempo 06 Desember 1975 JUMAT sore, 2 Nopember 1975 jam 14.15 WIB (atau jam 7.15 GMT) Fretilin telah memproklamirkan kemerdekaan Timor Timur. Reuter dari Dili memberitakan, proklamasi sefihak itu ditandai dengan penurunan bendera Portugal di alun-alun Dili disusul dengan pengibaran bendera hitam-merah-kuning Fretilin, hening cipta semenit dan pembacaan teks proklamasi oleh ketua Fretilin FX do… Continue reading

  • “Nggak Ada Fretilin” (?)

    Tempo 22 November 1975. KEPALA Bakin Letnan Jenderal Yoga Sugama Rabu malam minggu lalu dengan resmi memberitahukan Duta Besar Australia Richard Woolcot. Bahwa nasib kelima wartawan Australia (seorang di antaranya warganegara Inggeris) diduga telah turut terbunuh dalam serangan gabungan tentara UDT- Apodeti-Kota ke Balibo pertengahan Oktober kemarin. Yoga menyatakan hal ini setelah pemerintah Indonesia menerima… Continue reading

  • Setelah Ramadhan Usai

    Tempo 18 Oktober 1975. FRANSISCO Xavier Lopez da Cruz senyum-senyum saja ketika ia ditanya tentang rencana aksi militer dari Gerakan Revolusioner Anti Komunis (MRAC) untuk merebut kembali wilayah Timor Timur. “Anda semua sebaiknya menunggu beberapa hari lagi”, katanya kepada sekelompok wartawan Jakarta di markasnya di daerah Batugade. Ia pun kembali menghadapi mesin tik Hermesnya melanjutkan… Continue reading

  • Di Perbatasan Yang Tenang: Berapa …

    Tempo 20 September 1975 . SEBELUM KRI Monginsidi menjemput konsul Tomodok dari Dili akhir Agustus yang lalu kapal perusak milik ALRI itu mendarat di pelabuhan Atapupu – 14 Km dari perbatasan NTT Timor Dili. Ketika menurunkan seregu penyelidik para-amfibi dengan perahu karet tiba-tiba dari arah daratan terdengar ledakan keras. Ledakan apa itu? Mortir? Atau meriam?… Continue reading

  • Masuk Indonesia ? Timor, Tanpa Jadi Tumor

    Tempo 20 September 1975. DR Santos agak bingung dan capek. Buat pengacara yang pernah selama 20 tahun menjalankan profesinya di Mozambique – di mana dia dikenal sebagai simpatisan Frelimo – 2 hari perundingan di Jakarta itu tampaknya melelahkan juga. Kerumunan wartawan asing dan dalam negeri mengerubunginya setiap kali mau masuk dan ke luar ruang sidang… Continue reading

  • Bagaimana Belajar Bersatu Sambil… (Kongres KNPI Pertama)

    Tempo 02 November 1974. KONGRES I Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dibuka pekan ini. Perhatian cukup besar di kalangan generasi muda. Spanduk terpasang di seantero pelosok Ibukota. Jumlah peserta jauh lebih banyak dari pada yang pernah dihimpun oleh organisasi pemuda & mahasiswa lain. Sementara itu tanggapan berhamburan dari generasi muda di Jawa dan di luar… Continue reading

  • Menjelang yang ke-27 (Timtim)

    Tempo 14 September 1974. MULA-MULA tidak banyak orang tertarik pada koloni Portugis yang bertetangga dengan propinsi NTT. Kecuali orang-orang di pulau Timor, mungkin. Namun dengan kunjungan 2 tokoh politik propinsi ‘seberang-lautan’ Portugis itu ke Jakarta, suasananya lantas berubah. Kunjungan Ramos Horta ke mari bulan Juni yang lalu mulai menyadarkan orang, bahwa bola mulai menggelinding di… Continue reading

  • Dengan Percikan Api

    02 Maret 1974. EKOR huru-hara 15 Januari rupanya tidak pendek. Berbagai desas-desus dan bentuk-bentuk perang urat syaraf lainnya terlempar ke sana-sini “yang tujuannya mengalihkan opini masyarakat”. Misalnya disebutkan seakan-akan pemerintah telah bertindak sewenang-wenang tanpa mengindahkan hukum. Dan banyak lagi. Tetapi untuk memben-dung semua kabar angin inilah Kepala Staf Kopkamtib Laksamana Sudomo pekan lampau secara pasti… Continue reading