Jakarta. Berangkat dari sebuah fakta sejarah, almarhum tokoh Angkatan Laut Jepang, Laksamana Maeda, dalam suatu pertemuan (15 tahun yang lalu), mengisahkan kembali suasana di rumah bekas kediaman pribadinya pada saat-saat menjelang Proklamasi Republik Indonesia.
Dalam pertemuan yang berlangsung di rumah Mr. Subardjo, Jl. Cikini Raya 82, Jakarta, Maeda menyampaikan kisahnya dalam bahasa Jepang yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Terutake Kikuaki dari restoran “Kikugawa”, Jl. Kebon Binatang III/3, Jakarta.
Kata Maeda, dengan suara yang cukup tenang dan tegas:
“Pada 15 Agustus 1945, ketika saya mendengar kabar dari radio bahwa Jepang kalah, saya tidak dapat tidur semalam suntuk. Ada dua hal yang saya pikir malam itu: keadaan anak buah saya dan bangsa Indonesia.”
(Foto: Maeda tampak di ujung kanan bertolak pinggang. Di tengah berdiri Mr. Subardjo, dan di ujung kiri (berjenggot putih) Mr. Budiarto. Pertemuan sederhana ini berlangsung Sabtu malam di rumah Mr. Subardjo, Jl. Cikini Raya 82.)
Akhirnya, Laksamana itu dibebaskan oleh Sekutu dan kembali ke negerinya. Sebelum usianya terlalu lanjut, Maeda yang berasal dari Pulau Kyushu itu bekerja sebagai konsultan di Tokyo. Kini ia sudah tidak bekerja lagi dan menjalani masa pensiun. Istrinya sudah tiada dan ia tidak memiliki anak.
Pertemuan Sabtu malam di rumah Pak Banjo merupakan malam perpisahan, karena pada hari Selasa berikutnya Maeda akan kembali ke Tokyo. Meskipun demikian, menurut Terutake Kikuaki, sebenarnya Maeda ingin tinggal di Indonesia. Ia datang ke Indonesia sebagai tamu pemerintah, terutama untuk menghadiri perayaan peringatan ke-28 Kemerdekaan Indonesia.
Suatu catatan: para ahli sejarah dan mereka yang pernah mengalami masa awal perjuangan kemerdekaan tentu memiliki penilaian sendiri mengenai benar tidaknya keterangan Maeda itu. Tentu saja penilaian tersebut didasarkan pada fakta. Maeda sendiri menyatakan bahwa keterangannya kepada Sekutu dapat diperiksa langsung melalui dokumen-dokumen yang masih ada, khususnya dokumen mengenai pemeriksaan terhadap para “penjahat perang”.
(PS)
sumber : KOMPAS – SENIN, 3 SEPTEMBER 1973

Leave a comment