Jakarta, Kompas — Jenazah Brigjen TNI (Purnawirawan) Abdul Latief Hendraningrat dimakamkan di TMP (Taman Makam Pahlawan) Kalibata dengan Inspektur Upacara Menko Kesra Soerono, Selasa siang kemarin.

Almarhum tutup usia Senin malam pukul 21.00 dalam umur 72 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Ia dirawat sekitar dua minggu, menderita bronchitis.

Almarhum yang lahir di Jatinegara, Jakarta, 15 Februari 1911, terkenal sebagai pengerek Sang Saka Merah Putih ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Peristiwa itulah yang paling membekas dalam hatinya, hingga setiap peringatan hari kemerdekaan RI mempunyai arti khusus bagi dirinya pribadi, selain juga secara nasional.

Pada waktu itu ia adalah chudancho pada Jakarta-sho Dai Ichi Daidan pimpinan Mr. Ismoyo Singodimedjo. Mengenai peristiwa di Jl. Pegangsaan Timur dan peranan Latief Hendraningrat, jenazah Rukmito Hendraningrat, adik almarhum dari lain ibu, ketika berbicara atas nama keluarga pada upacara kenegaraan kemarin, mengutip beberapa bagian dari buku riwayat hidup Bung Karno yang ditulis Cindy Adams.

Bagian yang dikutip dari buku itu di antaranya, seperti yang dituturkan Bung Karno pada Cindy Adams, berbunyi:

“Upacara sederhana saja. Akan tetapi apa-apa yang kurang dalam kemegahannya kami penuhi dalam pengharapan. Aku (Bung Karno; red) berjalan ke arah pengeras suara yang dicuri dari stasiun radio Jepang dan dengan ringkas mengucapkan pernyataan kemerdekaan kami.

Istriku (Fatmawati; red) telah membuat sebuah bendera dari dua potong kain. Sepotong kain putih dan sepotong kain merah. Ia menjahitnya dengan tangan. Ini adalah bendera resmi yang pertama dari Republik. Tiang bendera dibuat sepanjang batang bambu yang dipotong secara tergesa-gesa, dijadikan tiang bendera darurat dan ditanamkan hanya beberapa saat sebelum itu. Buatannya kasar, dan tidak begitu tinggi.

Tidak ada orang yang ditugaskan untuk mengerek bendera.”

Si Pengerek — (Sambungan dari halaman II)

Tiada persiapan untuk itu. Dan tak seorang pun berpikir sampai ke situ. Kapten Latief Hendraningrat sebagai salah seorang di antara beberapa gelintir orang berpakaian seragam berada dekat tiang.

Setiap orang menunggu dengan tegang, ketika dia (Latief Hendraningrat) mengambil bendera itu, mengikatkan pada tali yang kasar dan mengibarkannya… seorang diri… dengan kebanggaan… yah, untuk pertama kali setelah tiga setengah abad.

Tidak ada musik. Tiada korps musik. Setelah bendera berkibar di pucuk tiang, kami semua menyanyikan “Indonesia Raya”.

Selesai itu kudengar anggota PETA di kamar kerjaku berteriak melalui telepon, “Ya, sudah selesai!”

Kemudian ia meletakkan gagang telepon dan aku berjalan ke dalam dan masuk ke kamarku. Hari jam 10.00. Revolusi sudah dimulai.

Ulet

Menko Kesra yang bertindak sebagai Inspektur Upacara di pusara Latief Hendraningrat menyebutkan, almarhum sebagai “pejuang yang ulet dan konsisten sejak usia muda hingga menjelang wafatnya”.

Almarhum berhasil mendirikan Tugu Peringatan Perang Rakyat di Desa Mboro, Kulon Progo pada tahun 1981 yang diresmikan oleh Presiden Soeharto. Tugu semacam itu didirikan pula di Klaten dan diresmikan Desember 1982 oleh Wakil Presiden Adam Malik.

Sebelum tutup usia, ia juga merencanakan pendirian tugu di wilayah Jawa Barat.

Yang melayat ke kediaman almarhum di Jl. Ki Mangunsarkoro 41, Jakarta, di antaranya bekas Wakil Presiden Adam Malik, Jenderal TNI (Purn) Dr. A.H. Nasution, Drs. Frans Seda, bekas Gubernur DKI Ali Sadikin, bekas Kepala Kepolisian RI Hoegeng, Menteri Agama Alamsyah, bekas Panglima Kopkamtib Jenderal TNI (Purn) Soemitro, bekas Menteri Negara dalam “Kabinet Seratus Menteri” J.K. Tumakaka.

Jenderal TNI (Purn) Soemitro juga nampak pada upacara pemakaman di Kalibata serta perwira tinggi lainnya seperti Brigjen TNI (Purn) Drs. Soekendro, Letjen TNI (Purn) Hidayat, Brigjen TNI (Purn) R. Ng. Soenario, bekas Menteri Olahraga Maladi. Juga nampak Komandan Garnisun Ibukota Mayjen TNI Try Sutrisno, Panglima Komando Paduan Tempur Udara Marsekal Muda Arief Ryadi, dan Asisten Sosial Politik Departemen Hankam Brigjen TNI Gunarso SF.

Ketika akan diturunkan ke liang lahat, peti jenazah didampingi empat perwira tinggi purnawirawan dengan pangkat mayor jenderal, masing-masing Mardanus, Sudarsono, Purnomo dan Drs. Suryadi.

Sebelum diberangkatkan ke Kalibata dari kediaman almarhum, jenazah disemayamkan sebentar di Gedung Joang, Menteng Raya No. 31. Di Gedung Joang, Letjen TNI (Purn) GPH Djatikoesoemo bertindak sebagai Inspektur Upacara.

Almarhum yang ayahnya bekas Wedana Betawi, semula ingin menjadi meester in de rechten. Tetapi uang kuliah yang tiga ribu gulden setahun di Rechtshogeschool Batavia menyebabkan ia hanya setahun saja kuliah di sana. Ia lulusan AMS bagian B, pernah menjadi guru untuk mata pelajaran Bahasa Inggris di Perguruan Rakyat.

Militer

Memulai karier militer sebagai Komandan Kompi PETA di Jakarta (1943–1945), kemudian menjadi perwira staf TKR.

Dengan pangkat letkol pernah menjadi Panglima Pertempuran di Mojokerto (1947–1948), Komandan KMK Yogyakarta (1948–1949) dan Kepala Staf Gubernur Jatim (1952–1955), menjadi Atase Militer di Manila (1952–1955) dan dengan pangkat kolonel diangkat sebagai atase militer di Washington (1956–1957).

Komandan Seskoad (1957–1958), Perwira Staf Umum AD-V (SUAD V). Tahun 1962 menjadi brigjen, menjabat Sekretaris Militer Presiden RI, kemudian anggota DPRGR. Tahun 1966 menjabat Rektor IKIP Jakarta, tahun 1967 pensiun.

Ketika pensiun, putra Raden Mus Said Hendraningrat ini tetap saja giat. Ia ikut memimpin “Yayasan 19 Desember 1948”, menjadi Ketua Umum Perguruan Rakyat, Komisaris Daerah IM (Indonesia Muda) DKI, di samping ia masih memimpin sebuah biro perjalanan. Ia juga menjadi Ketua Rukun Tetangga di Jl. Mangunsarkoro.

Dari perkawinannya dengan Sophia, Latief memperoleh empat anak: tiga perempuan dan satu laki-laki yakni Ny. Tuning Sukobagyo, Ny. Citrawati Muis, Ir. Citraseno dan Sitti Nurhayati. Dari anak-anaknya almarhum memperoleh delapan cucu.

(Ag)

KOMPAS — RABU, 16 MARET 1983

Leave a comment

Quote of the week

"People ask me what I do in the winter when there's no baseball. I'll tell you what I do. I stare out the window and wait for spring."

~ Rogers Hornsby

Designed with KlipStori.com