Kisah Betawi
-
Sastra Betawi: Karya Agung yang Dilupakan
Betawi, sejak kelahirannya 479 tahun lalu, memiliki beragam khasanah budaya. Salah satunya adalah sastra Betawi yang di daerahnya sendiri kini seolah-olah terpendam. Padahal, di mancanegara sudah lama mendapat perhatian sejumlah ilmuwan. Terbukti dengan terbitnya berbagai telaah tentang sastra Betawi masa lalu itu, yang naskah-naskahnya tersebar di berbagai perpustakaan perguruan tinggi di negara-negara maju, termasuk di… Continue reading
-
Korupsi Tahun 1950-an
Akhir pekan lalu di Jakarta telah dilakukan peluncuran buku Gambang Jakarta karya almarhum Firman Muntaco, maestro sastrawan Betawi tahun 1950-an dan 1960-an. Kala itu, karya-karya Firman Muntaco yang dimuat di mingguan Berita Minggu dengan judul Gambang Jakarta sangat digemari para pembaca. Tidak heran kalau mingguan itu mencapai teras ratusan ribu eksemplar berkat daya tarik tulisan… Continue reading
-
Gedung Proklamasi yang Diruntuhkan
Rumah dengan pekarangan luas ini adalah kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi) 56, Jakarta Pusat. Bukan di istana seperti banyak diperkirakan orang, tapi di halaman kediaman Presiden RI pertama inilah proklamasi kemerdekaan RI dikumandangkan pada Jumat, 17 Agustus 1945, bertepatan dengan bulan Ramadhan.Foto ini diabadikan setelah proklamasi, karena pada saat Bung… Continue reading
-
Gedung Ex Chartered Bank Batavia
Gedung tiga lantai yang masih berdiri megah dan kokoh ini merupakan sebuah gedung tua di kawasan Oud Batavia (Kota Tua) Jakarta Kota. Keistimewaan gedung yang terletak di sudut Jalan Kalibesar Barat No 1-2 di atas areal 2.275 m2 memiliki ciri kubah seperti terlihat dalam foto. Gedung ini dibangun pada 1920-an, saat ekonomi Hindia Belanda maju… Continue reading
-
Habib Ahmad Mencari Kampung Arab
Menjelajahi Jl Gajah Mada dari arah Harmoni kita diminta untuk bersabar menghadapi macetnya lalu lintas ke arah Glodok. Berbelok ke kiri sebelum mencapai gedung Arsip Nasional yang dulu tempat tinggal gubernur jenderal de Klerk, yang dibangun pada abad ke-18, terdapat kampung Krukut. Continue reading
-
Ngibing di Malam Capgome
Setelah lebih dari 40 tanun kagak muncul, pawai dan arak-arakan Capgome sebagai penutup Imlek atawa tahun baru Cina hari Ahad menyedot puluhan ribu orang. Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada serta sejumlah jalan di kawasan Kota dipadati pengunjung hingga memacetkan arus lalu lintas. Tradisi perayaan Capgome jatuh pada tanggal 15 menurut perhitungan penanggalan lunar… Continue reading
-
Dari Jayakarta ke Tumenggung Mataram
Ketika VOC (Kompeni) menaklukkan Jayakarta (Mei 1619), JP Coen bukan saja menghancurkan keraton, tapi juga memporakporandakan masjid Kesultanan Jayakarta yang kini letaknya kira-kira di Kalibesar Timur. Pangeran sendiri dan para pengikutnya kemudian hijrah ke Jatinegara Kaum, dekat Pulogadung, Jakarta Timur. Mengikuti jejak Rasulullah, Pangeran Ahmad Jaketra di tempatnya yang baru membangun sebuah masjid yang diberi… Continue reading
-
Kompeni Kewalahan Hadapi Banjir
Awal pekan lalu akibat hujan deras semalaman nyaris melumpuhkan aktivitas warga di sejumlah wilayah Ibukota dan sekitarnya. Di kawasan yang jadi langganan banjir warga mengungsi: di masjid, sekolah, dan gereja. Di Cawang dan Kampung Melayu, Jakarta Timur, banjir ada yang mencapai ketinggian tiga meter. Dan, sampai awal pekan ini belum semua korban banjir meninggalkan tempat… Continue reading
-
Ketika VOC Menyerbu Jayakarta
Siang itu sejumlah bus, mikrolet dan angkot yang berdatangan dari arah selatan, harus mengantri ketika memasuki terminal Jakarta Kota. Kawasan tempat terminal itu berada lebih dikenal sebagai Kota Inten. Pasalnya, di sini dulu terdapat sebuah benteng VOC yang disebut Benteng Intan (Diamond). Continue reading
-
Jenderal Coen Digusur Jepang
Untuk mengenang Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen, pemerintah kolonial Belanda telah mendirikan sebuah monumen dan patung pendiri Kota Batavia itu. Gubernur Jenderal VOC (1619-1623 dan 1627-1629) ini, dibuat patungnya pada 1869, bertepatan dengan 250 tahun usia kota Batavia oleh gubernur jenderal Pieter Mijer (1866-1872). Patung Coen yang berdiri dengan angkuh sambil menunjuk jari telunjuknya dengan… Continue reading
