Kisah Betawi
-
Kisah-kisah Ulama Betawi
Oleh Alwi Shahab. Melaksanakan ibadah haji saat ini — dengan pesawat udara — hanya perlu waktu 10 jam. Tidak demikian ketika perjalanan masih menggunakan kapal layar. Perlu waktu berbulan-bulan, mungkin lebih setahun, dengan berbagai resiko selama pelayaran. Dalam suasana demikian, sejak abad ke-18 orang Betawi banyak yang pergi ke kota suci Mekah. Mereka menjalankan ibadah… Continue reading
-
Dua Buku Sastrawan Betawi S.M Ardan Diterbitkan Kembali
Jakarta (ANTARA News) – Kumpulan cerpen “Terang Bulan Terang di Kali, Cerita Keliling Jakarta” dan “Nyai Dasima” diterbitkan ulang untuk memperingati ulang tahun ke-75 sastrawan Betawi S.M Ardan, di Jakarta, Jumat.Pengarang yang mempunyai nama asli Syahmardan tersebut meninggal dunia pada November 2006 akibat kecelakaan lalu lintas.Rencana penerbitan kembali buku pengarang tersebut tetap dilakukan untuk menghormati… Continue reading
-
Hari-hari Akhir Si Pitung
oleh alwishahab. Betawi Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia, setelah tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi, kematian si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi… Continue reading
-
Sejarah Salah Kaprah Lenong dan Topeng Betawi
Dalam sebuah keluarga bernama teater rakyat Betawi, lenong dan topeng betawi ibarat saudara kandung. Wajah mereka mirip, membuat banyak orang salah terka. Bertahun-tahun, H. Bokir, Nasir T(openg) atau Mpok Nori dianggap sebagai pentolan lenong. “Itu salah kaprah. Mereka sebenarnya orang topeng,” ucap S.M Ardan. Penontonnya seperti tak memperhatikan, dari papan namanya saja jelas terbaca, kumpulan… Continue reading
-
Gambang Kromong dan Tradisi Cina Benteng
Kompas. Usianya masih belasan tahun, Ong Gian (47) sudah mengenal gambang kromong. Petani di Neglasari, Tangerang, ini termasuk salah satu pemain gambang kromong dan sering tampil dalam acara-acara pesta perkawinan masyarakat Cina Benteng Tangerang. Pada malam Imlek 2554, Ong Gian dan kelompoknya, “Sinar Harapan”, yang asal Desa Jelupang, Serpong, tampil di Khongcu Bio (tempat peribadatan masyarakat… Continue reading
-
Naik Eretan Kwitang-Kalipasir
Menjelang tahun baru Imlek hujan hampir tiap hari mengguyur Ibukota. Bagi masyarakat Cina, hujan saat Imlek dianggap seperti rezeki ngocor dari langit. Tapi malapetaka akibat banjir lebih berat. Lebih-lebih mereka yang tinggal di bantaran sungai. Dari lebih 10 juta penduduk Jakarta, ratusan ribu mungkin juga lebih yang mendiami bantaran sungai.Hingga, gubernur Sutiyoso minta agar mereka… Continue reading
-
Mester-Condet-Cililitan
Mungkin banyak yang belum tahu bahwa nama Jatinegara, sebuah kecamatan di Jakarta Timur, baru muncul pada tahun 1942. Yakni, pada awal masa pendudukan Jepang sebagai pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda.Nama Jatinegara — ‘negara sejati’ — sebetulnya sudah dipopulerkan oleh Pangeran Ahmad Jakatra. Saat pangeran dan pengikutnya hengkang dari Sunda Kelapa dan keratonnya dihancurkan… Continue reading
-
Senja di Sunda Kalapa
Orang Betawi selama empat abad (12-16 Masehi) pernah menjadi rakyat Pajajaran. Pusat kotanya ada di Pakuan, sekitar Bogor sekarang. Pada masa itu orang Betawi telah berbahasa Melayu, sementara kerajaan Pajajaran berbahasa Sunda. Sejak abad ke-12 pelabuhan Kalapa dikuasai Pajajaran dan berganti nama jadi Sunda Kelapa.Kerajaan ini beragama Budha. Tidak heran kalau pendeta Budha punya kedudukan… Continue reading
-
Keturunan Portugis di Tugu
Pada tahun 1641, VOC atawa Kompeni berhasil menaklukkan Malaka, kota dagang Portugis di Malaysia, yang kala itu merupakan saingan utama Batavia. Salah satu benda peninggalan Portugis yang diboyong Belanda dari Malaka adalah ‘meriam si jagur’ — kini disimpan di Musium Sejarah DKI Jakarta, setelah selama 200 tahun pernah dikekramatkan.Dan, sebagai lazimnya mereka yang kalah perang… Continue reading
-
Yang Kokoh Hingga Saat ini
Masjid Luar Batang Berlokasi di jalan Luar Barang V, kampung Luar Batang, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Masjid ini dibangun pada tahun 1739 M oleh Sayid Husein Bin Abubakar di atas lahan yang dihadiahkan oleh Gubernur Jenderal VOC pada waktu itu. Pada masjid ini terdapat kentongan berukuran 140 cm dari kayu berwarna hijau dan sumur tua… Continue reading
