Rezeki.
Issue mendatangkan coach luar negeri untuk memperbaiki mutu Kesebelasan Nasional (PSSl) belakangan ini mendjadi-djadi – terutama setelah Team Pra-Olimpik Indonesia gagal di Rangoon, meski sesungguhnja ichtiar mendatangkan coach dari luar negeri sudah termasuk dalam rentjana kerdja Komisi Bidang Teknik PSSI. Tetap mengapa baru sekarang PSSI mengkon kritkan rencananja. Inipun dapat di mengerti, mengingat bahwa PSSI tidak ingin mendatangkan coach jang kepalang tanggung, disamping pertimbangan kemampuan finansilnja waktu itu belun memungkinkannja mengundang coach kelas satu.
Adakah dengan kontrak ini PSSI jan ketiban rezeki atau Orlando jang njari djadi penganggur – konon Coiach Cruzeiro ini sedang mengalami sengketa dengan para asuhannja. Tapi jang djelas dibalik kontrak itu tersimpul motif PSSI jang oleh Sjarnubi dikatakan sebagai “sepakbola Brazil mengutamakan skill perorangan dan tjiri-tjiri permainannja lebih tjotjok bagi orang Indonesia”. Sjarnubi kemudian menambahkan: anti selang dua tahun kita akan datangkan coach dari Djerman Barat Dengan basis ketrampilan perorangan jang ada, para pemain akan dibina kearah team work ala kesebelasan Eropa”. Ada kah perkawinan mazhab Amerika Latin dan Eropa akan melahirkan “sepakbola Indonesia”? Dan adakah bisa-bisa itu akan mendjadi fakta atau sekedar ilusi semata? Tjukup meragukan, meski orang tidak perlu pesimis berlebihan. Soalnja: sedjauh mana pemain-pemain inti PSSI sekarang dapat ditingkatkam Beberapa penindjau beranggapan bahwa mereka sudah djenuh, meski tidak kurang pula jang berpaling pada peran coach luar negeri untuk mendobrak kedjenuhan team PSSI sekarang.
Lowongan.
Mengingat usia pemain inti PSSI pukul rata sekitar 25 tahun, persoalan pembinaan “djangka pendek” dengan memindjam tangan coach asing agaknja tidak mudah untuk menbapai kestabilan pada puntjak permainan mereka lebih lama dari 2 tahun. Inipun sudah tertjakup pemain-pemain muda dari PSSI B dan “Junior” jang diperhitungkan dalam masa 4 tahun ini dapat mengisi beberapa lowongan jang ditinggalkan pemain-pemain tua. Setelah itu persoalan kembali menjangkut material pemain tjadangan untuk mengisi tempat pemain jang berangkat tua.Kehadiran coach asing dalam masa peralihan dewasa ini paling kurang harus didjadikan unsur penjegar dalam kehidupan sepakbola nasional.
Adakah PSSI akan melakukan tindak-landjut untuk mengisi gap antara pemain tua dan muda tanpa menggoncangkan kestabilan standar permainan jang dicapai dengan bantuan coach asing? Pertjuma sadja djika basis PSSI didaerah-daerah tidak dapat mengikuti pembaharuan ditingkat pusat. Soal inilah agaknja tidak boleh melengahkan PSSI dalam program pembinaan “djangka pandjang”-nja.Dan disamping penjegaran hubungan pusat-daerah, struktur organisasi PSSI agaknja perlu disesuaikan dengan nilai-nilai sepakbola profesionalisme (atau amatirisme-negara) jang kini sedang melanda Indonesia. Supaja profesionalisasi tidak berlaku hanja ditingkat coach sadja, tetapi bisa merata sampai ditingkat pemain. Dengan demikian problem “masuk keluar TC dengan alasan menengok keluarga atau mertua” dapat ditekan sekurang mungkin.
Sumber : Arsip Majalah Tempo
Leave a comment