Badminton

  • Menang Dengan Sambel Terasi (Rebut 4 Gelar All England 1979)

    Tempo 07 April 1979. Ia adalah orang yang pernah dikecewakan. Hampir 1� tahun namanya tak tercantum di antara atlit terpilih yang memasuki pelatnas.Tahun 1977, seusai PON IX, ia dipanggil kembali, dan dijodohkan dengan Verawaty Wiharyo. Ternyata tak mengecewakan Dalam Asian Games 1978 di Bangkok, mereka berhasil merenggut medali emas dalam nomor perorangan.Di final All England,… Continue reading

  • Bintang Baru ? (Lius Pongoh)

    Tempo 03 Maret 1979. DALAM seleksi pemain untuk turnanen All England di gedung C Senayan, Jakarta, seorang pemain muda, belum begitu terkenal, mengalahkan Heryanto Saputra — jago yang mempecundangi Luan Chin dari RRC dalam Asian Games VIII, Bangkok. Lius Pongoh, 18 tahun, pelajar kelas II IPS di sekolah khusus olahragawan SMA Ragunan, bukan hanya mengalahkan… Continue reading

  • King Jadi Raja (Juara Asian Games 1978)

    Tempo 23 Desember 1978. Dalam final perorangan, King sekali lagi menjatuhkan juara RRC, Han Tsien. Penampilannya mantap. Sejak ronde pertama, ia tak pernah kehilangan satu set pun. Juga dalam menghadapi Luan Chin, juara dunia versi Federasi Bulu tangkis Dunia (WBF) di semi final, King menang bersih. Pertarungan antara kedua finalis yang berbeda kiblat ini tampak… Continue reading

  • Tidak Apalah Kita Menyimpang Sedikit (Asian Games 1978)

    Tempo 23 Desember 1978. KETIKA nama Heryanto Saputra, 24 tahun, dicantumkan sebagai pemain tunggal kedua untuk menghadapi tim bulutangkis RRC di final beregu putera, banyak orang terkesima. Prestasinya di lapangan tadinya masih payah untuk diandalkan. Dari 2 kali panggilan memasuki pelatnas tahun lalu, ia tak berhasil menempatkan diri dalam regu Indonesia. Juga Nopember, ketika seleksi… Continue reading

  • Kalah Tapi Tak Kaget (Piala Uber 1978)

    Tempo 27 Mei 1978. TIM Piala Uber Indonesia kalah. Jepang pemegang supremasi bulutangkis wanita beregu sejak tahun 1966, merebut kembali Piala yang dimenangkan Indonesia pada tahun 1975 di Istora Senayan. Tapi kekalahan dalam final di Selandia Baru itu tak lagi mengejutkan seperti kemenangan regu Indonesia 3 tahun yang lalu. Penggemar bulutangkis di Tanah Air ternyata… Continue reading

  • Rudy Kalah, Tapi Menang Untuk Promosi (Final All England 1978)

    Tempo 25 Maret 1978. SUASANA di kamar pakaian tim bulutangkis Indonesia di Empire Pool Wembley, London, seusai pertandingan final tunggal putera All England Sabtu 18 Maret petang, terasa penuh haru. Liem Swie King 22 tahun) yang baru saja meraih gelar juara, duduk lepas di kursi. Kepalanya menundak dalam. Ia menangis. Haru lantaran menang. Di kursi… Continue reading

  • Takdir Di Taiwan Open 1984

    Tempo 21 Januari 1984. INDONESIA membuka lembaran bulu tangkis tahun 1984 dengan awal yang agak mengecewakan. Dalam Kejuaraan Bulu Tangkis Taiwan Terbuka di Taipei (12-15 Januari) hanya Ivanna Lie yang berhasil merebut gelar juara tunggal putri dari lima kejuaraan yang diperebutkan. Orang jadi dag-dig-dug, apakah Indonesia bisa berjaya, baik dalam All England bulan Maret maupun… Continue reading

  • Ratih dan Edy Juara Junior 1981

    Pos Kota Bandung 1981. Pemegang medali emas bulutangkis PON X,Ratih Komalasari (DKI Jaya), berjaya di Bandung, meraih mahkota juara Nasional Bulutangkis Yunior 1981, setelah di final mengalahkan Lanny Tedjo.Dan harapan Jambi Musrifin harus menyerah pada pemain muda berbakat Jateng Eddy Hartono.Dengan demikian gelar juara putra diraih Eddy Hartono, adiknya Hastomo Arbi.Dalam final itu Ratih meraih… Continue reading

  • Pelajaran Baru Untuk Putri (Sea Games 1977)

    Tempo 10 Desember 1977. KEMENANGAN regu bulutangkis Indonesia di SEA Games (6 emas, 2 perak, 1 perunggu) malah membikin dada PBSI sesak. Rupanya kekalahan Verawati dan Ivana dalam kejuaraan perorangan — masing-masing kalah dari Sylvia Ng dari Malaysia dan Patam Sirisriro dari Thailand — tak tercerna begitu saja. Soalnya kedua pemain itu merupakan andalan utama… Continue reading

  • Piala Uber Perlu Iklim Segar

    Tempo 13 Agustus 1977. SUPERMASI bulutangkis puteri Indonesia tak ayal kini sedang terancam. Bayang-bayang menakutkan itu tercermin dari prestasi yang muncul dalam PON IX, pekan lampau. Meski turnamen menampilkan pemain muda usia seperti Ivana, Wong Mei Fong, maupun Tiwuk Lestari, tapi mereka kesandung dalam pertarungan yang tak imbang dengan pemain puncak Verawaty, Tati Sumirah. Sri… Continue reading