Dalam sebuah keluarga bernama teater rakyat Betawi, lenong dan topeng betawi ibarat saudara kandung. Wajah mereka mirip, membuat banyak orang salah terka. Bertahun-tahun, H. Bokir, Nasir T(openg) atau Mpok Nori dianggap sebagai pentolan lenong. “Itu salah kaprah. Mereka sebenarnya orang topeng,” ucap S.M Ardan. Penontonnya seperti tak memperhatikan, dari papan namanya saja jelas terbaca, kumpulan mereka bernama “Topeng Betawi Setia Warga”. Sama sekali terbebas dari embel-embel lenong.Mengapa lenong dan topeng bisa membingungkan banyak orang? Ternyata kisahnya berawal dari proyek revitalisasi TIM tahun 1970-an. Saat itu, untuk meramaikan panggung, para punggawa TIM mengundang “bintang-bintang” berbagai grup topeng betawi sebagai pemain tamu.

Nah, begitu lenong meledak, Bokir dan kawan-kawan langsung lekat dengan cap sebagai pentolan lenong. Padahal, dua teater rakyat ini banyak bedanya. Lenong wajib diiringi gambang kromong dengan rebab cina, sedangkan topeng diiringi gamelan dan rebab sunda. Lagu-lagu yang dibawakan pun lain. Kalau lenong mengakrabi tembang-tembang Betawi dan Cina seperti Jali-Jali, Cente Manis, Si Pat Mo atau Sam Yi Lok, topeng banyak mengangkat lagu Sunda.Begitu pula dramaturginya. Pertunjukan lenong dibuka dengan acara nyanyi bersama disertai gerak maju mundur para pemainnya.

Tari topeng, diawali tarian yang biasanya dibawakan seorang penari wanita dan seorang pe-bodor laki-laki. Belum lagi soal cerita, yang satu mengisahkan kepahlawanan, satunya lebih banyak soal kehidupan sehari-hari.Tapi yang paling membedakan, menurut S.M Ardan, adalah sejarahnya. Konon, lenong pertama kali muncul dan berkembang dalam masyarakat Betawi Tengah, sementara topeng lahir di kalangan masyarakat Betawi Pinggir (perbatasan dengan Jawa Barat). Ini berpengaruh ke soal bahasa yang digunakan. Misalnya, “Di tengah, masyarakatnya biasa ngomong Gue sih ogah, tapi di pinggir, kalimat yang sama diucapkan Gua mah embung!” Beda, kan? Belakangan, makin parah saja. Tak cuma topeng, tapi hampir semua sandiwara dialek Betawi disebut lenong. Sebuah salah kaprah yang harus diluruskan. Iye enggak, Bang!

Sumber : Arsip Majalah Tempo

6 responses to “Sejarah Salah Kaprah Lenong dan Topeng Betawi”

  1. barkah Avatar

    Bang, konsepnye paten. Punya celah tersendiri. Dua jempol buat abang. :)

    1. Yopie doank Avatar

      Ho,oh emang berasa beda nya , apalagi kalu nonton lenong dines..
      yang pake bahasa melayu puncer ( tinggi ) jauh banget ,

  2. dik Avatar
    dik

    tanks ya, aretikelnya bisa membantu saya dalam menulis teater rakyat

  3. nurhasan Avatar

    Wah..aye sendiri baru ngerti klo topeng ame lenong beda!, makasih infonye bang..

  4. Papah Abdillah Avatar
    Papah Abdillah

    Bener bangat bang, saya waktu kecil akrab sekali dengan topeng, dan sangat bertanya-tanya, dimana betawinya, lagunya dari mulai aja Sunda, …… rupanya ini Topeng Betawi yang memang diwarnai Sunda.
    Di kampung saya dulu sering tampil dan “ditanggap” di keriyaan (hajatan) yaitu Topeng Betawi ‘NIRIN KUMPUL (alm)
    populer-nya Topeng Nirin

    1. Jabrix Avatar
      Jabrix

      Setuju Bang, pengalaman yang sama, saya juga mengamati sejak kecil, kenapa ya nuansa sunda nya kental dengan musik dan lagu lagu sunda. Pengaruh Sunda memang mewarnai seni, budaya dan bahasa betawi, terutama di wilayah perbatasan

Leave a reply to Yopie doank Cancel reply

Quote of the week

"People ask me what I do in the winter when there's no baseball. I'll tell you what I do. I stare out the window and wait for spring."

~ Rogers Hornsby

Designed with KlipStori.com