Di bulan Ramadhan ini para bapak dan ibu dibikin puyeng masalah ekonomi. Sejak kenaikan harga BBM, harga sembako naik gila-gilaan. Belum lagi bakalan mikirin keperluan lebaran mendatang. Mesti punya cukup fulus untuk membelikan keperluan lebaran anak-anak, tapi sebaiknya mari sejenak kita menghindari kepedihan hidup ini, lewat humor.
Orang Betawi terkenal humoris. Humor merupakan bagian kehidupan mereka. Refleksi rasa humor itu terlihat dalam lakon-lakon lenong dan topeng Betawi. Padahal masih banyak lagi seni budaya Betawi yang sarat humor. Salah satunya sahibul hikayat budaya Betawi tempo doeloe yang lahir karena pengaruh Parsi (Timur Tengah). Tidak heran kalau ceritanya bersumber pada cerita Seribu Satu Malam atau Alfu Lail wal Lail. Kata sohibul hikiyat (bahasa Arab) yang berarti si empunya cerita ditanggung bisa mengendorkan urat syaraf yang tegang.
Untuk itu, sebaiknya kita ke Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang kini tengah disiapkan jadi kawasan pusat bisnis dan perdagangan paling gede di Asia Tenggara, bahkan Asia. Di Jl Kebon Pala, Tanah Abang, tinggal Sofyan Jait (65), si empunya cerita. Dia mewarisi kebolehannya itu dari almarhum ayahnya, Muhamad Jait (meninggal 1970), yang sejak 1946 jadi tukang cerite kesohor seantero Betawi.
Si tukang cerite ini duduk bersila di permadani, dikitari puluhan bahkan ratusan penonton. Dia sanggup bercerita berjam-jam dari pukul 21.00 sampai menjelang subuh. Tidak heran kalau jalan ceritanya harus ditambah bumbu-bumbu. Dan, yang paling banyak menyelipkan unsur humor, yang membuat penonton tertawa ngakak, terpingkal-pingkal. Kadang-kadang menyinggungg suasana masa kini. Seperti korupsi, dan mungkin sekarang ini kenaikan BBM. Tidak ketinggalan unsur dakwah diselipkan dalam sohibul hikayat/. Pada tahun 1950-an dan 60-an, sohibul hikayat banyak digemari masyarakat Betawi. Ditanggap pada acara malam perkawinan dan khitanan.
Di bawah ini, cuplikan kisah yang sering dibawakan H Sofyan Jait:
Seorang raja di negeri Sarkistan memiliki putri bernama Harsani. Keelokannya kesohor ke seantero negeri. Harsani memiliki hidung mancung serudung. Leher jenjang semarang. Rambut ikal mayang terurai. Pipih bak pauh dilayang.
Tidak heran, kalau banyak orang tergila-gila pada gadis molek ini. Tidak terhitung anak raja dari negara tetangga. Lamaranpun banyak berdatangan. Sayangnya, entah karena apa lamaran itu selalu ditolak raja dan permaisuinya.
Suatu ketika puteri semata wayang raja Sarkistan itu menderita sakit. Makin hari tambah parah. Berbagai tabib, termasuk tabib-tabib jempolan dari kerajaan tetangga, didatangkan. Tapi kagak berhasil menyembuhkan penyakit sang putri. Raja yang sudah begitu khawatir terhadap penyakit putri kesayangannya itu akhirnya mengambil keputusan, membuat sayembara, ”Barangsiapa dapat menyembuhkan putri Harsani, bakal menjadi menantu raja dan menjadi pewaris kerajaan Sarkistan.” Karena belum ada suratkabar apalagi televisi, pengumuman itu disebarkan melalui corong di pasar-pasar dan tempat orang banyak ngumpul.
Beberapa anak raja yang dulu ditolak lamarannya, kini melihat peluang baru dan mendaftarkan diri. Sayangnya mereka gagal menyembuhkan sang putri. Achirnya ada seorang tukang kacang memcoba peruntungannya. Dasar nasib baik, ia berhasil menyembuhkan sang putri.
Karuan saja, rakyat Sarkistan geger karena raja punya menantu tukang kacang. Di mana-mana mereka tidak lain ngomongin mantu raja si tukang kacang. Gosip yang meluas itu akhirnya dilaporkan wazir pada sang raja. Raja yang sangat murka langsung membuat pengumuman, ”Yang berani nyebut kacang akan digantung di alun-alun.”
Untuk mengamankan SK-nya, raja menyebar para hulubalangnya ke berbagai pelosok kerajaan, guna mematai-matai dan mendengar siapa yang berani nyebut ‘kacang’. Mereka akan dipenggal kepalanya tanpa diadili. Konon, sejak saat itu tidak ada seorangpun yang berani menyebut ‘kacang’.
Suatu saat diperapatan jalan ada seorang pemuda iseng sengaja menunggu tukang kacang lewat. Pedagang kacang itu lewat dengan lesu dan tidak berani meneriakkan dagangnnya. ”Hei bang, dagang apaan tuh,” tanya si pemuda. ”Gue tau lu mau jebak gue. Lu liat sendiri aje gue dagang ape. Coba kalo berani lu nyebut, kepala lu bisa hilang,” jawab tukang kacang ketus.
Sementara, para hulubalang yang ngumpet di atas pohon dan semak-semak mengikuti percakapan itu dan sudah siap melakukan tindakan. ”Begitu lu nyebut kacang, gue tegreb dan leher lu tanggung hilang,” pikir hulubalang.
Setelah cukup lama kata ‘kacang’ tidak terdengar di Kerajaan Sarkistan, akhirnya raja sendiri yang menyebutnya. Saat memarahi sang menantu, ia ngomel, ”Dasar tukang kacang lu.” Sayang, sang raja kalis dari hukuman meskipun ia sendiri yang melanggarnya.
Di negeri kita kini bukan kepalang banyaknya para pemimpin dan aparat yang melakukan pelanggaran, termasuk koruptor, luput dari hukuman. Termasuk belasan perwira tinggi kepolisian, yang diisukan memiliki kekayaan triliunan perak, tidak diperiksa. Apakah mereka seperti Raja Sarkistan yang kebal hukum?
(Alwi Shahab)
Leave a reply to judin Cancel reply