Pada zaman Belanda, bahkan sampai 1950-an, sebagai syarat untuk diterima di sekolah dasar, siswa diharuskan menjulurkan tangan menyentuh telinga. Maklum kala itu kebanyakan anak tidak tahu tanggal lahirnya. Sialnya, mereka yang bertubuh kecil baru bisa menyentuh telinga saat berusia 10 tahun.Karena itu, anak-anak di masa lalu baru lulus SR (kini SD) setelah berusia 14 tahun. Kini, berdasarkan ketentuan, mereka baru bisa diterima di SD setelah berusia 6 tahun. Kenyataannya, banyak yang memanipulir umur. Banyak anak umur 5 tahun sudah masuk SD. Pada zaman Belanda dan awal kemerdekaan, sekolah gratis. Orang tua tidak dipusingkan seperti sekarang. Karena tidak bayar satu sen pun. Dapat buku, peralatan sekolah dan satu gelas susu per hari. Kini, sesudah lebih 50 tahun merdeka, untuk masuk sekolah perlu uang banyak. Harus bayar uang bangunan yang nilanya ratusan ribu hingga jutaan perak. Belum lagi uang pembinaan sekolah antara Rp 10 ribu sampai 30 ribu per murid. Sekarang, sebagai konpensasi kenaikan harga BBM, pemerintah mencanangkan belasan juta anak sekolah gratis dari tingkat SD-SLTA. Kalau saja ini berjalan mulus, bisa jadi salah satu prestasi pemerintahan SBY.
Pada masa penjajahan anak-anak Betawi lebih banyak mengaji atau ke madrasah. Maklum, banyak orang tua yang mengharamkan anaknya sekolah di sekolah Belanda. ”Lebih baik ke sekolah agama daripada sekolah kafir,” kata orang tua tempo doeloe. Maklum, di sekolah Belanda murid diwajibkan mengikuti pelajaran agama Kristen. ”Anak musti punye pegangan ugama. Bawa ke langgar dulu belajar ngaji,” kata para orang tua ketika itu. H Irwan Sjafi’i (75 tahun), menuturkan pengalamannya ketika masuk sekolah pada 1935-1936. ”Dari kampung saya di Setiabudi, hanya saya sendiri yang masuk sekolah umum,” katanya, hingga kakeknya mengejeknya masuk ke sekolah kafir. Mengaji merupakan keharusan bagi warga Betawi. Mashud Mahdani (54), yang ketika kecil tinggal di Kuningan, dalam sehari dua kali mengaji, di madrasah dan dengan mualim. Tidak heran dalam usia 10 tahun ia sudah khatam Alquran dan bisa tulis baca bahasa Arab. Ada acara istimewa yang diadakan khusus untuk mereka yang khatam Alquran. Acara meriah, tahlilan, bikin nasi kuning dan goreng ayam bersama kawan-kawan sebaya.
Para murid pengajian dengan patuh sering membantu pekerjaan ustadnya. Termasuk mencari rumput untuk makan kambing sang ustadz. ”Karena saya tinggal di Kuningan, setelah ngaji mencari rumput untuk sapi ustadz,” kenang Mahdani. ”Kita ikhlas melakukannya sebagai tanda hormat pada mualim.”Waktu itu sistem Iqra dalam belajar membaca Alquran belum dikenal. Sistem bacaan ini baru dikenalkan pada 1980-an. Dulu anak-anak yang belajar Alquran duduk di tikar sambil memegang lidi. Juz Amma di leker, sementara engkong guru ngaji memegang rotan, sewaktu-waktu siap menyabet anak bandel dan bebel.
Alip di atas an
Alip di bawah in
Alip di depan un = an in un.
Demikian cara mengeja Alquran waktu itu.
***
Pada awal abad ke-20 sudah berdiri perguruan Islam modern di Jakarta. Para murid tidak lagi duduk di tikar, tapi di kelas. Dimulai dengan berdirinya Jamiatul Khair (1901) di Pekojan, kemudian Tanah Abang. Di susul Al-Irsyad, dan kemudian Unwanul Falah di Kwitang. Laksana jamur di musim hujan, kemudian berdiri perguruan Al-Marzukiyah di Rawabangke (kini Rawabunga Jatinegara), Al-Mansyuriah (Jembatan Lima, Jakarta Barat), Al-Islamiyah (Bali Matraman).Boleh dikata pada masa itu madrasah dan perguruan Islam terdapat hampir di tiap kampung. Sementara, dengan bergairah para pemuda Betawi menuntut pendidikan di berbagai negara di Timur Tengah. Seperti KH Abdul Madjid (1887) belajar agama pada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki di Masjidil Haram. Ia kemudian menjadi salah satu pimpinan Masyumi di Jakarta. Murid-muridnya tersebar di berbagai tempat. Seperti KH Tabrani (Paseban), KH Abdul Rajak Ma’mun (Tegal Parang-Buncit), dan KH Nahrawi (Kuningan).
KH Abdullah Syafi’ie, penyokong Masyumi pada Pemilu 1955, pada usia 17 tahun sudah mendapat Soerat Pemberitahoean boleh mengajar di langgar partikulir. Pada masa gagahnya, ia berdakwah keliling Jakarta dengan motor merk BSA. Lalu meminta izin pada ayahnya untuk menggunakan kandang sapi sebagai kegiatan dakwah. Ulama seangkatannya, KH Tohir Rohiri, pendiri perguruan Attahiriyah di Bukitduri Tanjakan, berdakwah keliling dengan naik sepeda. Ada ratusan ulama muda Betawi yang dihasilkan oleh perguruan Syafiyah dan Tahiriyah. Sementara, Habib Ali Kwitang, guru dari para kyai Betawi, berjualan kain di Pasar Tanah Abang. Banyak ulama Betawi lulusan Mekkah dan Madinah. Seperti H Darif (Klender), guru Mansyur yang masjidnya ditembaki NICA karena memasang bendera merah putih saat revolusi, guru Marzuki di Rawabunga yang kegiatannya kini diteruskan seorang putranya.
Di antara ulama paling terkenal adalah Habib Ustman Bin Yahya, lahir di Pekojan 1822 M. Ibunya, Aminah Binti Syekh Abdurahman Al-Misri, adalah putra seorang ulama Mesir. Habib Ustman bermukim di Mekah selama tujuh tahun, berguru pada Sayid Ahmad Zaini Dahlan, seorang mufti Syafi’iyah di Mekah. Masih belasan lagi guru-gurunya, baik di Mekah, Medinah, Hadramaut, Tunisia, Aljazair, Turki, maupun Siria. Ia kemudian diangkat sebagai mufti Betawi menggantikan Syekh Abdul Gani. Ia juga penulis produktif.Menurut cicitnya, MA Alaydrus (73 tahun), Habib Ustman yang meninggal dalam usia 93 tahun telah mengarang kitab sebanyak 116 judul. Hingga kini dapat dijumpai di Perpustakaan Nasional. Yang terkenal antara lain Sifat 20, yang masih menjadi bacaan di majelis taklim Betawi.
Kitab-kitabnya itu dicetak di percetakannya sendiri, Percetakan Batu. Karena belum menggunakan klise, tapi batu. Ketika hendak meninggal ia berpesan jangan dimakamkan di pemakaman khusus tersendiri, tapi di TPU Tanah Abang. Dia juga berwasiat agar tidak diadakan acara khaul khusus untuk dirinya.
(Alwi Shahab : Republika)
Leave a reply to fatoni sato Cancel reply