Tak perlu jauh-jauh ke Amerika Selatan untuk mempelajari arti “voetbal is oorlog” yang membuat Honduras dan El Salvador berperang, cukup tengok hal yang menggemparkan masyarakat Kota Bandung pada tanggal 17 Desember 1950. Saat di mana lima orang tewas dan puluhan lainnya terluka akibat baku tembak antara Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI, cikal bakal TNI) dan Koninklijke Leger (KL) Belanda. Penyebabnya? Sepak bola!

Baku Tembak di Sidolig
Dalam rangka menyambut datangnya hari Natal dan syukuran atas dipulangkannya kembali prajurit Angkatan Darat Kerajaan Belanda ke negeri asalnya, pihak Rayons Sportforficer dan de KL atau Divisi Olahraga Angkatan Darat Kerajaan Belanda bersama 50 tentara terakhir yang masih tersisa di Kota Bandung mengadakan turnamen sepak bola di Lapangan Sidolig. Lokasi turnamen sengaja dipilih di Sidolig karena dekat dengan perkemahan mereka. Turnamen itu diikuti oleh klub Jong Ambon, Sidolig, Chung Hua, UNI, dan dua tim internal AD Belanda itu sendiri.
Hari itu tanggal 17 Desember 1950. Tepat pada hari Minggu pukul 16.00, pertandingan antara Sidolig dan Jong Ambon dimulai. Turnamen ini ternyata mengundang animo masyarakat Kota Bandung. Semuanya bermula dari sebuah insiden kecil di pintu masuk Lapangan Sidolig. Lima menit setelah kickoff, sekelompok tentara Indonesia dari Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) ingin masuk menonton pertandingan tanpa membayar karcis. Jelas saja permintaan ini ditolak oleh penjaga tiket asal Belanda yang kebetulan ditugasi menjadi penagih karcis. Salah satu di antaranya adalah Laisina.
Salah seorang tentara APRI yang tetap keukeuh menerobos memaksa masuk mendapatkan bogem mentah dari tentara Belanda. Tak ada yang tahu kata-kata apa yang dikeluarkan dalam diskusi itu, tapi tiba-tiba saja mereka terlibat perkelahian dan baku hantam satu sama lain.
Karena merasa terdesak, sekelompok prajurit APRI itu kemudian balik badan meninggalkan Lapangan Sidolig. Prajurit Belanda pun terkekeh-kekeh menertawakan larinya prajurit Indonesia. Namun siapa sangka, dibalik rasa dendam dan kemarahan yang memuncak, sekelompok APRI ini ternyata mundur bukan karena takut. Mereka berlari menuju pos APRI terdekat untuk mengambil senjata api.
Sekitar pukul 16.30, sekelompok APRI ini kembali ke Lapangan Sidolig. Dengan semangat yang begitu tinggi, tanpa peringatan mereka menembak secara membabi buta ke arah lapangan, dan terdapat prajurit Belanda berseragam. Tiga orang prajurit Belanda tewas dan puluhan lainnya tergeletak karena tertembak. “Saya berada di sana dan tentara Indonesia menembaki kami membabi buta. Laisina dibantai oleh mereka, padahal ia tak bersenjata,” ucap Sersan F. J. J. Berings, salah seorang saksi mata.
Ia menuturkan, beberapa serdadu Belanda yang kebetulan membawa senjata membalas tembakan prajurit APRI tersebut. Lapangan Sidolig pun jadi medan perang. Selama satu setengah jam, yakni dari pukul 16.30–18.00, baku tembak terjadi di dua pasukan. Salah seorang pasukan APRI, Bahrum, tewas. Dua jam setelah kejadian, pasukan bantuan berupa polisi militer dari AD Belanda dan APRI berusaha mendamaikan kedua kubu. Sayangnya, upaya itu gagal. Malamnya terjadi baku tembak singkat antara AURI yang mencoba melerai.
Setelah kejadian itu, Jalan Raya Pos di depan Lapangan Sidolig ditutup untuk beberapa saat. Pasukan gabungan dari Belanda dan Indonesia terlihat hilir mudik berpatroli keliling Kota Bandung, berjaga-jaga agar baku tembak tak terjadi kembali antara dua kubu.
Setelah KMB, Pasca-Westerling.
Insiden Sidolig tak bisa dilepaskan dari kondisi politik Indonesia yang masih berkonfrontasi dengan Pemerintah Kerajaan Belanda usai Konferensi Meja Bundar 1949. Meskipun Belanda sudah mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia, dalam kenyataannya masih banyak tentara Belanda bercokol di Indonesia.
Saat itu Indonesia merupakan bagian dari Uni Indonesia–Belanda. Sistem pemerintahan yang berlaku adalah Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS sendiri akhirnya bubar pada Agustus 1950 dan Indonesia kembali menjadi negara kesatuan di bawah panji Republik Indonesia.
Sebelum RIS bubar, serah terima kekuasaan sebenarnya sudah dimulai. Salah satu yang paling sensitif adalah perihal kepulangan pasukan Belanda. Dalam serah terima tersebut, Belanda berjanji menarik seluruh angkatan perangnya dari Indonesia. Namun, tiga prajurit Belanda yang tewas di Sidolig adalah bagian dari sisa-sisa terakhir yang belum sempat dipulangkan.
Kejadian Sidolig juga tak lepas dari sentimen masyarakat, khususnya APRI terhadap keberadaan Belanda. Pada 23 Januari 1950, Raymond Westerling memimpin pemberontakan di Bandung dan membunuh puluhan orang berseragam TNI. Hal itu memicu trauma kolektif dan kebencian terhadap sisa-sisa militer Belanda di Indonesia.
Korban Dimakamkan.
Rona kemerahan senja di ufuk barat memantul di atas tiga liang kubur baru yang baru saja digali di pemakaman Pandu. Liang lahat itu untuk tiga prajurit AD Kerajaan Belanda yang tewas dalam insiden sepak bola Sidolig. Ratusan warga, sipil maupun militer, datang ke pemakaman Pandu untuk memberikan penghormatan terakhir kepada korban: Letnan Van der Loos (27), Sersan de Bies (26), dan Prajurit Kelas Satu Laisina (26) — yang merupakan keturunan Ambon.

Iring-iringan tentara Belanda dengan tiga peti mati berbalut bendera biru-merah-putih disambut oleh ratusan orang Belanda yang hadir dengan duka cita. Ibu dari Laisina menangis histeris, tak kuasa menahan kepergian anaknya, yang sebelumnya meminta izin menonton pertandingan sepak bola namun tak pernah kembali.
Suara tembakan salvo menggema saat peti dimasukkan ke liang lahat, diiringi doa pendeta Katolik. Patok perak dan helm perang diletakkan di atas tiga gundukan tanah itu. Pendeta berkata, “Mereka telah memberikan hidup mereka bagi Tuhan, tanah air, dan tugas mereka.”
Beberapa perwira bergantian memberi pidato. Salah satu komandan berkata, “Kejadian ini tak masuk akal. Kami bertanya-tanya siapa yang harus disalahkan atas kematian tiga orang muda, tapi kami yakin bahwa para tersangka tak akan melarikan diri dan pasti mendapat hukuman yang setimpal.”

APRI Minta Maaf.
Beberapa hari kemudian, Komando Militer Kota Bandung mengumumkan permintaan maaf resmi atas penembakan tersebut. Kolonel Omo Abdurachman menegaskan bahwa pihaknya telah berusaha berdamai. Prajurit yang memimpin penembakan telah ditangkap dan diadili.
Dari pihak Belanda, Komisaris Kerajaan Belanda Mr. G. J. A. Veling juga menegaskan tidak akan memecat prajuritnya yang terlibat karena mereka menganggap tindakan itu sebagai pembelaan diri.
Sumber: Persib Undercover
Leave a comment