PADA waktu hujan begitu, air laut justru lebih hangat. Kami yakin tak ada pembesar pelabuhan yang akan keluar mengusir kami karena hari hujan. Ketika hujan berhenti, kami naik ke dermaga mengambil dan mengenakan pakaian.

Tahu-tahu ada kapal putih mendekat untuk merapat. Tiba-tiba saja Controleur Kortman, penanggung jawab administrasi daerah Kepulauan Banda, sudah ada di sana bersiap menyambut. Buru-buru kami “menyelamatkan diri” mengendap dan mengambil pakaian dari bawah meja, selagi ia sibuk. Dalam kebasahan, kami ikut-ikut mengamati penumpang yang turun.

Kapal itu putih, dengan tulisan “FOMMAL HAUT.” Penumpangnya dua pria Indonesia yang tak begitu tinggi tubuhnya, pucat, menjinjing koper kayu mereka. Yang seorang mengenakan kaca mata yang tebal, yang amat mengesankan saya. Menurut kakek saya pihak ibu, orang-orang yang pucat biasanya datang dari Boven Digul, tempat pengasingan “tapol” yang melawan Belanda. Pada koper orang berkaca mata saya baca, Drs Mohammad Hatta. Yang satu lagi agak sulit dibaca cepat, karena saya baru kelas dua ELS (sekolah dasar berbahasa pengantar Belanda).

Pria yang tak berkaca mata menanyakan rumah Dokter Tjipto Mangunkusumo kepada saya, berbahasa Belanda. Saya jawab, rumah itu agak jauh dari pelabuhan. Rumah Mr Iwa Kusuma Sumantri yang lebih dekat ke dermaga. Saya kenal kedua tuan-tuan itu karena anak-anak mereka teman saya bermain.

Kelak setelah Indonesia merdeka, kedua pria itu menjadi orang-orang penting dalam pemerintahan. Mereka juga menjadi ayah-ayah angkat saya, yang turut mengubah hidup saya yang lahir di tempat yang sulit dicari di peta.

Mereka pindahan dari Boven Digul. Sebagai “tapol” sekarang mereka dibuang ke Banda. Untuk berapa lama, tidak diberitahukan. Tunjangan hidup mereka 75 gulden per orang per bulan. Uang tersebut diperhitungkan cukup untuk biaya sandang, pangan, dan papan yang tidak mewah. Bahkan, juga untuk biaya pos ke seluruh dunia dan langganan sejumlah bahan bacaan.

Sebuah gedung besar mereka sewa dari keluarga De Vries. Sebelum dibuang ke Banda, mereka telah mampir ke penjara Sukamiskin di Bandung dan Cipinang di Jakarta. Semua “tapol” di Naira saya sapa sebagai Oom, artinya paman. Ada Oom Tji, Oom Iwa, dan kini tambah Oom Rir (Sjahrir), dan Oom Hatta. Oom Hatta saya juluki Oom Kaca Mata, atau Kaca Mata saja, sebagai panggilan kesayangan. Selain mereka berempat, di Naira banyak “tapol” lain dari Syarikat Islam, yang kenal kakek saya.

Kakek saya, Said Baadilla, orang terpandang di Banda. Beliau punya tempat pengambilan mutiara alami di Kepulauan Aru, dengan armada sekunyir (perahu khusus) berjumlah banyak. Beliau pernah bertemu muka dengan Ratu Belanda. Semua penduduk mengenalnya.

Kepribadian Oom Hatta dan Oom Rir sangat berbeda. Yang satu berdisiplin, tepat waktu, dan rapi; yang satu lagi seperti seniman Bohemia yang serba bebas, riang, dan suka bertualang kecil-kecilan bersama kami, anak-anak asuh.

Selama sekitar enam tahun hidup bersama Oom Hatta, pola hidupnya dapat saya simpulkan sebagai berikut. Bangun pagi langsung bercukur. Saya senang sekali mengamatinya diam-diam karena hanya pada saat itulah ia tidak berkaca mata. Waktu demikian, Oom tampak lebih lembut, lebih ramah, dan lebih muda dari tiga puluh lima tahun. Selesai ini, pergi mandi, menghirup kopi tubruk, baru berpakaian.

Hampir pasti, pakaiannya kemeja lengan panjang putih. Celana panjang putih dan sepatunya putih juga. Pukul delapan tepat Oom Rir akan dipanggil sarapan. Menunya roti dengan mentega dan selai atau nasi goreng. Kadang-kadang Oom Rir sarapan masih pakai piyama.

Lalu Oom Hatta masuk ke kamar kerjanya untuk “bekerja”. Yakni membaca berbagai kertas dan menulis artikel untuk diterbitkan di luar Banda. Pukul sepuluh, Halima, akan ditemui untuk merundingkan menu hari itu.

Makan malam tak selalu dapat bersama. Oom Rir kadang pergi ke pesta ulang tahun, pesta dansa atau perjamuan perkawinan. Jika acara berbeda, Oom Hatta makan malam sendirian. Oom Rir makan malam bersama kami.

Kedua Oom ini dari Sumatera. Mereka suka makan enak. Namun, sayur dan ikan jadi hidangan wajib tiap kali. Baik bagi kesehatan, kata Oom. Sambal, untuk menggugah selera, katanya. Pola hidup itu begitu teratur dan berdisiplin, sampai hari makan ayam dan kambing pun dijadwalkan. Rabu untuk ayam goreng, Sabtu untuk ayam digulai. Jumat giliran makan kambing.

Yang kerap saya kenang dengan humor ialah sayur daun pepaya dengan bunganya. Sayur ini pahit, walau sudah direbus dengan daun singkong untuk penawar. Tak satu pun anak angkat yang menyukainya. Oom Hatta bersemangat tinggi menganjurkan makan sayur itu. Supaya tak kena malaria, katanya. Kami menggerutu di belakang. Itu pasti karena beliau dari Digul, yang penuh malaria, kata kami. Padahal, di Banda, seekor nyamuk saja tak dapat ditemukan.

Bangun tidur siang, setelah mandi, biasanya mengajari anak-anak setempat. Menjelang petang, pergi berjalan kaki menjelajahi kebun pala di pulau kami. Inilah satu-satunya olahraganya, selain berenang sekali-sekali.

Pulang berjalan kaki, minum kopi tubruk lagi dan bersiap makan malam. Sehabis makan, Oom masuk lagi ke kamar kerja dan membaca sampai jauh malam. Kopi tubruk terakhir disiapkan pukul delapan malam.

Sabtu sore dan sepanjang hari Minggu Oom Kaca Mata libur. Waktunya disediakan untuk teman-temannyya. Mereka yang datang bertamu, atau sebaliknya. Temannya tak terlalu banyak. Menurut penilaian orang di Naira, Oom Hatta terlalu pintar, terlalu serius, dan terlalu sibuk.

Walau Boven Digul sudah jauh di mata, tetapi masih dekat di hati kedua Oom ini. Setiap surat kabar, majalah atau buku yang sudah dibaca oleh keduanya, tak boleh dibuang atau dibakar. Diapakan? Dibungkus rapi, diberi surat pengantar, lalu dikirim per pos ke Digul. Untuk bacaan sesama tapol yang masih di sana. Kadang-kadang disisipi pil kina obat malaria, atau dendeng. Mereka selalu ingat rekan-rekan di Digul.

Menjadi tugas sayalah mengurus pengepakan dan pengirimannya ke kantor pos. Saya dapat lari cepat ke kantor pos, kenal hampir semua petugasnya dan hapal biaya pos ke mana-mana.

Tugas serius saya yang lain, menyortir begitu banyak bahan bacaan yang datang. Mana untuk Oom Hatta, mana yang punya Oom Rir. Seperti majalah De Groene Amsterdam ke Sjahrir, De Locomotief untuk Hatta, surat kabar Pemandangan dan Java Bode untuk Hatta, SK Suara Oemoem untuk Sjahrir, dan sebagainya. Saya juga dihadiahkan perangko- perangko dari surat yang di kirim dari mana-mana, Perancis, Jerman, Belanda oleh Oom Kaca Mata karena saya adalah pengumpul perangko sampai saat ini.

Semua disusun rapi, saya letakkan di kamar kerja masing-masing. Jika mereka selesai membaca, saya boleh ikut-ikut membaca. Yang saya cari cerita komik seperti Bruintje Beer dan Flash Gordon. Dalam perjalanan waktu, saya nanti ikut-ikut baca hal-hal politik dari surat kabar mereka.

Pertengahan tahun 1937 Banda disinggahi pesawat amfibi milik KNILM (Koningkijke Nederlandse Indies Luchvaart Maatschappij), perusahaan penerbangan Belanda milik KLM untuk wilayah Hindia Belanda). Saya tanyakan kepada beliau, apa kepanjangan KNILM? Jawabnya, “Kalau Naik Ini Lekas Mati”

Saya jawab sambil tertawa, “Ya, nanti semua surat Oom terbakar.” Beliau tertawa oleh jawaban saya. Dengan adanya pesawat amfibi, pelayanan pos dipersingkat satu sampai dua minggu. Pelayanan ini dihentikan karena kedatangan tentara Jepang.

Pendidikan salah satu keprihatinan kedua Oom. Anak-anak setempat mendapat pelajaran tambahan gratis waktu sore, dari keduanya. Tamatan sekolah dasar berbahasa Melayu tak ada pendidikan lanjutannya di Banda. Mereka bergantian memberi pelajaran.

Kelompok saya pun, yang bersekolah di ELS, masih mendapat les tambahan di rumah. Ada pelajaran berhitung. Oom Hatta mengajar saya bahasa Jerman, Oom Rir mengajar saya bahasa Inggris.

Tanah Air

Jangan dikira kami mudah menguasai Bahasa Indonesia. Waktu itu di Banda disebut Melayu Tinggi. Kami mendapat les bahasa Melayu Tinggi memakai buku karya Buya Hamka. Buku bacaannya, Matahari Terbit dari jilid satu sampai enam.

Dalam pelajaran sejarah di sekolah, Negeri Belanda harus kami sebut “Tanah Air kami”. Tetapi, dalam pelajaran sejarah di rumah, menurut kedua Oom, yang disebut tanah air bagi saya, seluruh Indonesia.

Pergaulan bertahun-tahun itu menularkan banyak manfaat bagi saya. Misalnya cinta membaca. Saya meniru sifat mereka sebagai kutu buku. Jika mereka akan memberi hadiah, saya pastikan pertanyaannya: mau dapat buku apa? Bukan, mau hadiah apa?

Saya ingat beberapa buku yang kami nikmati bersama, Abu Nawas, Baron von Munchhausen, Don Quixote, Tijl Oeilen Spiegel, Jantje Valk Oog, Alice in Wonderland dan sebagainya.

Di Banda tak banyak tempat hiburan. Kami hanya sering pergi ke laut atau ke pulau. Tempat yang sering didatangi, Pantai Kolam Rotan, Pantai Mangole atau Pulau Pisang.

Menjadi tugas saya menyediakan makanan bagi sesama anak-anak semang. Oom Hatta selalu memberi uang 25 sen untuk belanja. Saya belanja di pasar, di toko atau pada penjaja yang lewat. Oom tak pernah minta laporan atau menanyakan uang sisa. Bahan makanan amat murah waktu itu.

Sisanya banyak, saya simpan baik-baik. Pada waktu malam Oom Rir memeriksa saku-saku celana yang akan dicuci. Saku saya berisi banyak uang. Oom Rir tanya asal uang itu karena ia tahu orangtua saya tak pernah memberi saya uang.

Sudah saya katakan yang sebenarnya, beliau tak percaya. Oom Kaca Mata ditanyai. Dijawab, memang beliau selalu memberi uang belanja demikian. Oom Rir lega, Oom Hatta beri komentar, “Des ini pandai berhitung. Ia hemat. Ia punya bakat jadi saudagar.” Oom Rir tertawa. Mungkin karena di matanya saya seorang badut yang amat nakal.

Oom Hatta senang juga melaut bersama kami. Anehnya selalu duduk di tengah kalau di perahu. Ke laut tetapi takut basah. Kemejanya selalu tangan panjang. Topi putihnya tak pernah ketinggalan. Bila Matahari meninggi segera topi dikenakan. Alasannya, supaya kulitnya tidak terbakar. Kalau sudah begini di mata saya beliau seperti orang kolonial.

Sepatu tenisnya juga selalu dipakai saat ke laut, padahal tak ada acara main tenis. Kalau berjalan di atas karang yang mati, kakinya tidak luka kena karang tajam, katanya. Biar berenang di laut, sepatu itu tak dicopot. Saya tak pernah tahu orang lain berenang di laut pakai sepatu tenis.

Seringkali sebelum acara melaut, soal sewa perahu agak memusingkan. Saya merayu Oom Hatta, supaya membeli perahu sendiri. Tidak mudah mempengaruhi beliau, namun akhirnya usul saya yang disampaikan dengan manis dan lucu, diterima. Orambai (perahu) yang dibeli berasal dari Desa Lontor, di Banda Besar. Harganya sepuluh gulden.

Kami mengecat perahu. Warna bagian atas merah, bawah putih. Itu warna bendera kita bukan? Siapa sangka Mantri Polisi Se-Banda akan datang bertanya, gara-gara warna perahu merah dan putih. Oom Hatta menjawab santai,

“Bendera Belanda warna apa?”

“Merah, putih, dan biru”

“Laut warnanya apa?”

“Biru”.

“Ya. Sekarang coba lihat. Atas merah, tengah putih, bawah biru toh?”

Tak tahu apakah polisi itu turut tertawa oleh humor Oom Hatta, tetapi ia menjawab, ya betul…betul… Katanya, ia akan menyampaikan jawaban itu kepada Tuan Kontroleur yang menyuruhnya bertanya.

Awal tahun 1942 kami harus berpisah. Tentara Jepang sudah tiba di Ambon. Pemerintah Belanda mengungsikan kedua Oom balik ke Jawa. Pesawat penjemput tak dapat memuat satu penumpang ekstra lagi. Hati saya hancur waktu berpisah….

Tiga bulan kemudian, saya naik perahu secara estafet ke Ambon, Makassar, dan Surabaya menembus penjagaan Jepang yang ketat. Lewat darat saya ke Sukabumi tempat mereka berada.

Tahun 1945, Indonesia merdeka. Saya masuk dinas diplomatik awal tahun 1950, tinggal di Eropa. Kami berhubungan dengan surat. Kelahiran anak dan kabar keluarga lainnya saya laporkan. Lewat pertengahan tahun 1950-an, terjadi gerakan menentang Presiden Soekarno di beberapa provinsi. Saya tidak setuju kebijakan pemerintah waktu itu, maka saya “kabur” (ini bukan bahasa Melayu Tinggi ajaran Oom Hatta) dari pos. Waktu pertentangan terjadi pertumpahan darah, saya memihak PRRI/Permesta yang anti-Soekarno

Saya bertemu lagi dengan Oom Hatta di Manila tahun 1957. Beliau sudah “cerai” dari Dwitunggal Soekarno-Hatta, sudah bukan wakil Presiden lagi.

Saya tanya, “Oom, kenapa berhenti?” Oom menjawab, “Habis dia mau atur semua sendiri. Dia mau saya hanya atur koperasi. Wikana dan Djawoto (dua tokoh komunis-Red) sama teman-temannya sudah sering datang ke Istana.”

Jawaban itu memantapkan pendirian saya memihak PRRI/Permesta. Untuk masa yang lama saya tinggal di luar negeri. Lalu mengusahakan diakhirinya permusuhan dengan Malaysia. Usaha saya mendapat pujian dari Oom Hatta.

Tahun 1980, Oom harus ke rumah sakit. Pada tanggal 12 Maret 1980, saya datang dan ditanya, “Des, mana itu buku Indonesian Banda Colonialism and Its Aftermath?” Buku tersebut saya bawakan. Berdua kami memeriksa halaman demi halaman. Oom tampak senang sekali. Saya tahu bahwa sebuah buku adalah benda yang akan menyenangkan hatinya. Lalu Oom ke rumah sakit naik ambulans.

Pada tanggal 14 Maret 1980, saya datang menjenguk. Saya lihat dua wanita keluar dari kamarnya mengusap mata. Saya bergegas masuk, tetapi tinggal melihat dokter berusaha mengaktifkan jantung Oom. Lalu, Oom Hatta pergi untuk selamanya pada usianya yang ke-77 tahun. Sulit mengungkapkan kesedihan saya saat itu. Ada saat bertemu, ada waktu berpisah. Apa yang dapat saya lakukan untuk mengenangnya? Saya merasa lega ketika April 1973 dapat mengundang beliau sekeluarga datang ke Banda bersama keluarga saya.

Adam Malik sebagai Menteri Luar Negeri waktu itu, mengusahakan kapal perang mengantar beliau, supaya kunjungan itu menjadi peristiwa kenegaraan. Keadaan Banda yang terbengkalai mendukakan beliau.

Saya mendapat amanat supaya melestarikan Banda dengan keindahan dan sejarahnya. Telah diremajakan 55.000 pohon pala, 10.000 pohon kenari untuk peneduhnya, dan pohon khas Banda seperti buah gayam, buah terpati, dan mangga. Burung-burung khas kebun pala seperti walor, luri, dan kakaktua tak boleh diburu. Dua gedung bekas hunian mereka dipugar menjadi Museum Hatta dan Museum Sjahrir. Benteng Belgica sudah rapi. Hotel dan fasilitas taman laut juga kini tersedia.

Walau pamor biji pala tak mungkin setinggi abad ke-17, tempat asalnya yang bersejarah dapat dilihat seperti diharapkan kedua Oom itu.

Oleh Des Alwi Anak angkat Bung Hatta ——- ” Kepribadian Oom Hatta dan Oom Rir sangat berbeda. Yang satu berdisiplin, tepat waktu, dan rapi; yang satu lagi seperti seniman Bohemia yang serba bebas, riang, dan suka bertualang kecil-kecilan bersama kami, anak-anak asuh.”

Leave a comment

Quote of the week

"People ask me what I do in the winter when there's no baseball. I'll tell you what I do. I stare out the window and wait for spring."

~ Rogers Hornsby

Designed with KlipStori.com