KOMPAS edisi Senin 31 Oktober 1994 . Kesebelasan pelajar Indonesia berhasil menjuarai Kejuaraan Sepak Bola Pelajar se-Asia ke-23, setelah hari Minggu (30/10) di Stadion Utama Senayan, mengalahkan Cina 2-0 (1-0). Sebelumnya, Korsel tampil sebagai juara ketiga, setelah menundukkan Thailand 5-2 (3-0).
Sejak menit pertama wasit Widianto Nugroho (Indonesia) meniup peluit, anak-anak Diklat Sepak bola Depdikbud se-Indonesia ini sudah tampil ganas, seolah-olah yakin juara. Sebaliknya, Cina yang di semifinal menghancurkan Thailand 4-1, berusaha mencoba mengimbangi permainan cepat Indonesia dengan peragaan teknik yang memang lumayan.
Kegigihan “Diego” Tugiyo dkk akhirnya membuahkan hasil di menit ke-25. Melalui sebuah serbuan yang serentak oleh empat penyerang Indonesia, Kusdiayanto tiba-tiba berhasil menguasai bola di kotak penalti. Melihat itu, dua pemain belakang Cina, berusaha menyergap Kusdianto –karena menyangka dia akan menembak–, namun Kusdianto mengecoh mereka dengan “menekuk” bola, baru menembak ke gawang Cina, yang dikawal Liang Qing San.
Pada menit ke-30, striker Cina, Song Yu Ming dikeluarkan wasit karena dianggap terlalu keras menghadang Sapto Nugroho. Seharusnya, Song tak perlu kena kartu merah atas pelanggaran itu, sebab ia tak melihat jika bola “tanggung” itu akan disundul oleh Sapto. Sehingga dengan keras dia menendang bola tersebut yang mengenai wajah Sapto.
Gol kedua Indonesia tercipta di menit ke-44 (pertandingan 2 x 40 menit), namun agak berbau off-side. Bermula dari umpan Tugiyo, ke Ferry –yang sudah berada di belakang seluruh pemain bertahan Cina, lalu Ferry dengan mudah menjaringkan bola. Hakim Garis Chairul Agil, tidak mengangkat bendera tanda Ferry off-side, akibatnya sempat mengundang protes keras dari pemain-pemain Cina.
Selain Tugiyo, Kusdianto dan Ferry Taufik, yang menjadi bintang lapangan semalam adalah kiper Abdul Rahman. Ia berkali-kali berhasil mematahkan tembakan-tembakan keras yang dilepas penyerang Cina. Bukan cuma ditepis, kadang bisa ditangkap atau dipeluknya dengan lengket.
Melihat penampilan pelajar Indonesia semalam, sesungguhnya wasit tak perlu “membantu” mereka, sebab selain secara teknik tidak kalah, mereka pun jauh menang dalam soal semangat bertanding. Mantan pelatih pelajar Indonesia, yang sekarang menangani tim Thailand, Bukhard Pape menegaskan hal itu. Menurut dia, Indonesia layak juara karena memang punya teknik yang lumayan dan semangat bertanding yang sangat bagus.
“Di seluruh dunia ini sudah wajar jika wasit berpihak kepada tuan rumah, tapi yang pasti saya tegaskan bahwa Indonesia tampil lebih bagus dari Cina dari sudut apa pun. Memang sebaiknya wasit tak perlu terlalu keras kepada Cina, sebab akan merusak kemenangan Indonesia sendiri,” ucap Pape yang asal Jerman ini.
Hadiah Depdikbud
Kemenangan Indonesia tersebut bisa disebut merupakan hadiah Depdikbud kepada PSSI, sebab di tengah-tengah “kering”-nya prestasi PSSI tahun ini –yang gagal di Piala Kemerdekaan dan Piala Asia Usia 19 tahun–, anak-anak Diklat Depdikbud itu seperti menyenjukkan “kerongkongan” yang dahaga karena prestasi tersebut. Hal itu pun membuktikan pembinaan model Diklat itu perlu dikembangkan.
Hal itu diakui pelatih Indonesia, Andy Teguh. Ia mengatakan, kemenangan itu membuktikan bahwa pembinaan pemain sepak bola jangka panjang itu perlu dikembangkan, dan jangan lagi terlalu mengandalkan crash program (program jangka pendek) saja. Ia pun mengingatkan, yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana langkah selanjutnya dari pembinaan Tugiyo Dkk tersebut.
“Kita sudah harus membangun pondasi pembinaan pemain yang baik, agar semakin banyak tumbuh bibit-bibit unggul dari Diklat tersebut. Kemenangan ini membuktikan pula bahwa sepak bola kita belum mati,” tegas Andy.
Mengenai kemenangan timnya, Andy mengungkapkan, satu-satunya ucapannya kepada anak-anak adalah tantangan untuk membuktikan kepada masyarakat Indonesia bahwa sepak bola negeri masih bisa jaya. Tentu saja, lanjutnya, asal dibina dengan program yang jelas dan benar.
“Mudah-mudahan kemenangan ini membuat sepak bola tetap menjadi olahraga utama di negeri ini, sehingga pemassalannya di masyarakat tetap terjaga dengan baik, agar banyak tumbuh bibit yang baik pula. Hanya saja perlu diingat, pemain yang baik itu lahir dari pelatih yang baik, dan pelatih yang baik itu ada jika kesejahteraannya baik pula bukan,” kata Andy sambil tertawa.
Indonesia: Abdul Rahman–Imron M, Agus Suprianto, Sapto Nugroho, Syaiful Amri, Sugiantoro, Haryanto PAU, Kusdiyanto, Tugiyo, Ferry Taufik, Dwi Priyo Utomo. Cina: Li Qing Shan–Yu Yuan Wei, Wang Jin, Shu Hu, Wong Chao, Li Bo, Li Gang/Hu Peng, Jiang Yong, Qiu Zhong Hui, Dai Zhen Peng/Gao yao. (bar)
Sumber : KOMPAS
Leave a comment