Tempo 13 April 1974. DARI Medan sementara ini tidak banyak yang dapat dikabarkan nmengenai nasib turnamen Marah Halim Cup ke-3 yang dimulai 18 Maret dan berakhir pada 5 April ini. Dugaan cara membukanya seperti pada tahun lalu yang bertele-tele, rupanya diulang lagi. Bukan hanya bagi penonton Medan, tapi bagi tamu-tamu asing yang ingin menyaksikan pertandingan bola dipaksa harus bersebal hati melihat lebih dahulu pertunjukan yang non-bola. Bukan saja pidato yang nyaris seketiak ular dan diterjemahkan dalam dua bahasa, Inggeris dan Perancis, malahan upacara selamat datang bagi kesebelasan-kesebelasan telah dielukan dengan tari-menari gaya Melayu. Balai-balai yang meniru adat-adat turut diboyong ke tengah lapangan. Kemudian ada silat. Ada acara melepas merpati dan balon. Tapi persembahan Sekapur Sirih turut pula di gendong ke muka para pembesar.

Agak terhibur penonton. Karena para penarinya kebetulan dipilih yang aduhai pula. Tapi orang bolehlah membayangkan bahwa kehidupan raja-raja sudah menjelma di Stadion Teladan. Dan waktu disita untuk yang begitu-begitu lebih dari 1 jam. Untungnya gubernur Marah Halim sendiri berfikir singkat. Turnamen itu walau tak dimulai dengan sepak bola pertama dari kakinya, tapi pidato pembukaannya yang langsung ber-Inggeris-Inggeris itu hanya terdiri dari beberapa kalimat singkat. Hurra, orang menyambutnya gembira. Dan kompetisi dimulailah. Yang turun ke Iapangan pertama kali adalah PSMS lawan Persib Bandung. Babak kedua menyusul Irian Jaya versus Thailand.

Persija.

Yang tidak turut Turnamen Marah Halim Cup tahun ini selain Birma juga Persija. Orang Medan membayangkan ketidak hadiran Persija tahun ini ke Teladan karena soal ricuh tahun lalu ketika berhadapan dengan PSMS di final. Begitu juga dengan Burma, yang sempat membuat heboh. Seorang pemainnya telah memukul wasit Ong Eng Yong dari Singapura. Tapi semua dugaan itu keliru. Persija kebetulan selama setahun ini telah membuat jadwal pertandingannya di beberapa tempat, termasuk di luar negeri. Ketika acara regional baru-baru ini berlangsung, mereka juga tidak turut. Birma sendiri, yang kebetulan pemainnya banyak dari pegawai negeri, merasa tidak cukup waktu untuk bermain bola di Medan. Itulah keterangan yang diterima Koresponden TEMPO, Zakaria M . Passe dari O.C. Marah Halim Cup.

Menjelang babak semi final pada 28 Maret kemarin, tak banyak lagi yang dapat diceritakam Dalam babak perempat final ada 12 kesebelasan yang ikut bertarung. Enam kesebelasan dalam negeri, yaitu PSMS, Aceh, Bandung, Surabaya, PSM Ujung Pandang dan Irian Jaya. Dan enam kesebelasan luar negeri, masing-masing, Jepang, Vietnam, Korea, Khemer (keempat kesebelasan ini tahun lalu tidak ikut), Singapura, dan Thailand. Malaysia yang ikut tahun lalu, tahun ini absen. Tak diketahui apa sebabnya.

Insiden.

Selama turnamen babak pendahuluan itu rupanya perkara insiden tak terelak juga. Pada penentuan siapa yang harus masuk ke Semifinal untuk merebut runner-up antara dengan Thailand. pada 25 Maret kemarin, sehabis Thailand memberi gol balasan dan stand menjadi 1-1 pada babak kedua seorang pemain Korea telah menerjang kiri dalam Thailand, Surim. Kemudian baku hantam seru terjadi dan alat-alat negara terpaksa masuk ke lapangan. Sekitar 10 menit pertandingan terhenti dan Surim sendiri tidak dapat meneruskan permainannya karena kena terkam tinju pemain Korea. Sebelum itu seorang pemain Korea juga babak belur dihantam anak-anak Thailand dan terpaksa diangkut dengan tandu keluar lapangan dan tidak bisa bermain lagi.

Tapi turnamen tahun ini agak melegakan hati juga. Bukan karena keamanan dapat ditertibkan tapi ada kesebelasan-kesebelasan luar negeri yang diundang itu mutu permainannya agak baik jika dibandingkan dengan tahun lalu. Misalnya Vietnam (team nasional) dan Thailand. Dibandingkan dengan kesebelasan Jepang, agaknya Korea lebih baik dan seorang pemain nasionalnya (kanan dalam Lee Chonh Han, juga pemain pre-Olympic Korea) turut memperkuat kesebelasannya. Ujung Pandang sendiri kelihatannya makin menurun permainan mereka. Aceh walau tergelincir pada babak pendahuluan tahun ini termasuk boleh diandalkan jika dibandingkan dengan tahun kemarin.

Tentang kesebelasan Irian Jaya, maklum saja. Anak-anak Acub Zainal itu toh baru memulai. Tapi banyak orang meramalkan, bahwa tiga atau empat tahun kemudian mereka tidak mungkin terlepas dari perhatian sebagai kesebelasan yang menentukan. Begitulah harapan banyak orang yang tertumpu pada pemain-pemain alam dari daerah Obaharok ini. Akan hal Persebaya, ketika di Medan kelihatan agaknya lebih bersih dan tangguh jika dibandingkan dengan tahun lalu. Ketika menghadapi Korea yang draw kaca mata (0-0), ternyata Jacob Sihasale dan kawan-kawannya berhasil mencuri siasat Korea. Mereka tidak bermain panjang, walaupun kedua kesebelasan ini bermain cukup manis dan sama-sama gesit.

Over.

Yang agak kesal bagi orang Msendiri adalah tingkah polah kesebelasan PSMS. Walaupun bisa juara pool A, ketika menghadapi Vietnam (2-2) seharusnya PSMS bisa membendung serangan Vietnam. Pada babak pertama Medan sudah unggul 2-0. Tapi pada babak kedua PSMS kehahisan nafas dan permainannya jauh di bawah mutu. Tapi itulah satu penyakit dari anak-anak Medan ini. Bila sudah menang di atas kertas, ternyata mereka lebih banyak main-main dan penyakit “tinggi sebenangnya” kambuh pula. Suka anggap enteng pada lawan.

Overacting ini ditambah pula dari tingkah sang kiper Pariman. Ia selalu tidak berada pada posisi. Walaupun ada serangan lawan, tapi Pariman terlalu percaya bahwa pertahanan PSMS cukup kuat dan merasa tidak perlu berjaga-jaga. Bukti agak menyolok yaitu ketika menghadapi Singapura, ( 1-6 untuk PSMS). Seharusnya gol balasan satu-satunya hingga pertandingan berakhir tidak akan terjadi. Tapi ia begitu lengah pada posisi dan gol itu masuk ke gawangnya hanya karena tendangan efek semata. Bola berhasil diraihya. Tapi entah mengapa lepas kembali dan muntah ke belakang kepalanya. Dalam soal mental memang agak menyolok perbedaannya jika orang harus keburu nafsu membandingkannya dengan Rony Pasla. Apa lagi kalau disinggung pada soal pengalaman.

Mengenai soal mutu ini kelihatannya Kamaruddin Panggabean, Ketua O.C. Marah Halim Cup, dengan turnamen itu memang sedang mencari mutu. Sehingga uang dari kocek gubernur Marah Halim tidak pula sia-sia dihamburkan untuk bola. Sepuluh. “Tahun depan saya akan mengundang sekitar sepuluh kesebelasan saja”, katanya pada TEMPO. “Tahun ini saya harapkan sebenarnya Korea bisa masuk final. Tapi keburu kalah dan Thailand”, sambungnya lagi. Selama melihat turnamen itu dalam otak Panggabean telah terencana untuk mengundang sekitar 6 kesebelasan luar negeri dan 4 kesebelasan dalam negeri. “Irian Jaya tidak saya unang Iagi tahun depan. Pak Acub juga bilang bahwa mereka terlalu capek bermain. Tapi bagi saya yang penting, bukan jumlah kesebelasan yang harus bermain di dalam perebutan Marah Halim Cup ini. Tapi kesebelasan yang berkwalitas”, katanya.

Sumber : Arsip Majalah Tempo

Leave a comment

Quote of the week

"People ask me what I do in the winter when there's no baseball. I'll tell you what I do. I stare out the window and wait for spring."

~ Rogers Hornsby

Designed with KlipStori.com