Tempo 23 Maret 1974. “INI PSSI kok ada-ada saja, pertandingan lah pakai regu”, komentar seorang pembeli karcis yang antri di depan loket Stadion Utama menafsir istilah regional dengan jalan fikiran sendiri. Dan memang tak banyak orang yang mengerti akan ungkapan baru itu karena selama ini PSSI membagi diri dalam wilayah-wilayah. “Itu hanya sebagai pengecualian saja”, kata Jumarsono, Sekjen PSSI menguraikan pengembangan wilayah Indonesia Timur yang menjadi Regional IV dan Regional V, mengingat “sifat pertandingannya merupakan invitasi. Lain halnya dengan kompetisi maka kedua regional tersebut akan digabung ke dalam wilayah kembali”. Teoritis struktur pelebaran daerah PSSI memang tak berubah banyak dengan pembagian yang lama. Cuma geografisnya untuk istilah yang ditelorkan Kongres ke-24 di Jakarta 3 tahun lampau itu kelihatan sedikit dipersempit.

Bila Regional I untuk daerah seluruh Suma-tera, Regional II terdiri dari Jawa Barat, Jakarta dan Kalimantan Barat Regional 111 meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan sekitarnya dan sisa Kalimantan, Regional IV untuk daerah Sulawesi dan Maluku, dan Regional V khusus Irian Jaya. “Jika pemain-pemain inti regional sekarang ini hanya kelihatan dari beberapa daerah tertentu saja, hal itu dikarenakan dalam seleksi yang lalu mereka-mereka itulah yang menonjol”, ujar Kamaruddin Panggabean, meski “untuk keperluan itu saya telah memanggil 3 pemain terbaik dari tiap daerah”. Agak berbeda dengan keempat team regional lainnya, maka kesebelasan Regional 1 itupun ke lapangan tanpa pemain-pemain teras Persija. “Ah, itu kan karena mereka lagi tour saja”, kilah Panggabean.

Kendati dugaan Ketua KONI Sumatera Utara ini ada benarnya tapi Iswadi melihatnya dari sudut yang lain. “Kalau mau tahu, cara yang ditempuh Regional II inilah yang terbaik untuk talent scouting”, kata Iswadi menjelang keberangkatannya ke Australia. sebab “jika pemain-pemain senior lagi yang masuk kapan kesempatan untuk mereka bisa maju”. Tapi tidak semua orang berpendapat begitu, apalagi penonton yang sudah kelanjur jatuh hati pada permainan bintang-bintang lapangan tertentu seperti Ronny Pasla, Andjas Asmara, Sutan Harhara dan Ronny Pattinasarani. Ketidak-hadiran itu lantas dikaitkan pengunjung dengan mutu pertandingan antara regional yang tak memadai. “Tanpa Ronny Patti memang agak sulit buat kami”, kata Suaib Rizal, kapten kesebelasan Regional IV, karena “tak ada orang yang akan mengatur serangan”.

Faktor kekalahan team dengan inti pemain-pemain PSM tak kurang dihubungkan pula oleh Suaib dengan unsur fanatisme bond “Saya rasa, kami akan lebih bersemangat dalam permainan jika bertanding di bawah panji PSM”, tambahnya. Namun Kamaruddin Panggabean kendati membawa team minus Ronny Pasla mengakui juga pentingnya fanatisme bendera dalam suatu turnamen. Ia tidak sepenuhnya mendukung pendapat Suaib Rizal. “Dua tahun lagi faktor fanatisme ttu akan tumbuh dan saat itulah nama regional akan bersemi di hati penonton”, katanya. Adakah invitasi antar regional yang kali ini masih jauh dari tujuan komersialisasi akan dilanjutkan PSSI? “Semua itu tergantung pada keputusan Kongres tahun depan”, kata Jumarsono.

Kalah Dengan Optimisme

BERAPA lama bola mampir di kaki seorang pemain sepanjang pertandingan yang lamanya sembilan puluh menit? “Paling lama cuma tiga setengah menit”, kata pelatih Choo Seng Que, “selebihnya, bola berada di lapangan permainan”. Artinya, bola bergulir kian ke mari di lapangan adalah atas kehendak orang yang memainkannya. “Bukan pemain yang harus menjadi hamba bola”, kata Choo.

Nampaknya apa yang selama ini dikenal pemain-pemain Irian Jaya adalah kebalikannya. “Dulu kami mengutamakan boyontet, dan kelemahan kami ialah kebiasaan setelah memberi umpan terus diam”, kata Timo Kapisa, kapten kesebelasan mencoba menilai regunya sendiri. “Akibatnya baru setengah main kita sudah habis”.

Kritiklah.

Merubah kebiasaan lama inilah tugas yang dipikul oleh Choo Seng Que, warga-negara Singapura berumur 60 tahun yang dikontrak langsung oleh gubernur Acub Zainal (TEMPO, 26 Januari). Tempo cuma hari sejak ia tiba di Jayapura, memang belum cukup guna merubah kebiasaan lama yang rupanya sudah melekat itu. Karenanya, cukup beralasan bila penggemar sepak bola merasa sedikit kecewa akan penampilan kesebelasan Regional V (Irian Jaya) dalam Kejuaraan Antar Regional PSSI yang baru selesai minggu lalu. Mereka kalah 1-3 dari kesebelasan Regional II yang berintikan pemain-pemain Persib. Kalah 1-5 dari Regional I yang terdiri dari pemain-pemain Medan dan Langkat. Sempat menang 4-2 dari kesebelasan Regional IV sebelum kemudian dikalahkan Yacob Sihasale dkk dari Regional III dengan 4-2 pula.

Mengapa Timo Kapisa cuma mampu membuat satu gol? Begitu tanya penonton di Senayan mengingat kembali reputasi pemain yang termasuk pencetak goal dengan 6 goal yang kemudian mengangkat regunya ke tempat kelima dalam Kejuaraan PSSI tahun lalu. Serta merta kritikpun berdatangan ke alamat pelatihnya. “Kritiklah, saya tak akan membela”, kata Choo yang tak suka bicara itu kepada TEMPO. Namun sekalipun mereka kalah, di mata awam yang awas pasti melihat ada sesuatu yang baru dalam regu ini. Kerja sama mereka lebih hidup, dan yang terutama: ada polanya! Itu sebabnya seusai pertandingan di hari pertama Choo dihampiri oleh Toni Pogacnick. “Jangan hiraukan kritik. Saya tahu anda pasti akan sukses”, ujar Toni seraya menepuk bahu rekannya.

Tentu saja selain Toni, Choo sendiri yakin dan optimis bahwa ia akan sukses. “Ini baru hari Bagaimana nanti kalau sudah bulan”, katanya. Di kalangan pemain pun optimisme itu tampak dan terasakan. “Memang masih terasa sedikit kaku”, kata Tinus Haipon. “Tapi rasanya sekarang lebih cocok. Kita bisa bekerja sama”, lanjut Martin Burwos pemain belakang asal Manokwari. Mereka menerapkan betul pesan pelatihnya bahwa bolalah yang harus mencari kita dan bukan sebalik nya. “Sekarang begitu terima bola, beri pass, lalu cari tempat kosong”, seperti kata Timo Kapisa. Di Jayapura, selama hari Choo Seng Que telah mulai membina kesebelasan anak-anak Irian ini dengan disiplin keras. Bangun pagi jam lima, sejam kemudian ia sudah menunggu anak-anak di lapangan. Dan latihan segera dimulai.

Selama 8 jam sehari diseling waktu makan dan istirahat, ia berturut-turut melatih fisik dan teknik dengan metodanya sendiri “Orang bilang saya pernah membikin sejarah” katanya mengingat masa 24 tahun yang lampau. Ketika itu ia membina PSSI dan melahirkan Jamiat, Chris Ong, Ramang, Tan Liong Houw dan banyak lagi. “Mereka itu sudah punya bakat saya cuma tukang gosoknya saja”, katanya merendahkan diri. Apakah ia akan membuat sejarah untuk kedua kalinya? Ini yang akan dibuktikannya. Yang terang pemain berbbakat banyak di Irian.

Sumber : Arsip Majalah Tempo

Leave a comment

Quote of the week

"People ask me what I do in the winter when there's no baseball. I'll tell you what I do. I stare out the window and wait for spring."

~ Rogers Hornsby

Designed with KlipStori.com