Tempo 6 Oktober 1998. Jeruji penjara sudah menjadi kawan akrabnya. Abdul Latief, dalam usianya yang 72 tahun, jalannya tertatih akibat luka tembak di kakinya, bibir bergetar karena stroke, dan bicaranya terbata-bata. Namun, dia tak pernah mengeluh.
Padahal, hidup Latief memang sebagian besar dilewatkan di dalam penjara. Ia ditahan di penjara Salemba sejak 1966, tetapi vonis pengadilan baru dijatuhkan 16 tahun kemudian. Pada Januari 1983 ia dipindahkan dari Salemba ke penjara CipinangÑsampai sekarang. Itu semua berdasarkan tuduhan keterlibatannya dalam Gerakan 30 September 1965. Di Blok D-IIÑsebutan bagi blok tahanan politikÑseperti yang dilaporkan wartawan TEMPO Ahmad Taufik, Latief adalah warga yang bangun paling pagi. Setiap subuh, ia membangunkan tahanan lain untuk salat subuh. Tiga hari dalam seminggu, Latief dijadwalkan menjadi imam salat jamaah. Itu dilakukan sambil duduk karena kakinya yang pincang tak memungkinkan dia berdiri. Di kamarnya, Latief tinggal bersama dengan Husni HidayatÑnarapidana kriminalÑyang bertindak sebagai pendampingnya yang mengantar Latief ke ruang tamu bila ada yang membesuk.
Setiap kali berkisah tentang masalah G30S-PKI, ia menyatakan penyesalannya yang mendalam tentang sebuah peristiwa gelap pada akhir September 1965 itu. Ia masih belum bisa melupakan peristiwa para jenderal dijemput dan dihabisi nyawanya. Dia mengaku kaget dengan penembakan itu tapi tetap merasa bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
Namun, sejarah telah mencatat namanya. Dan peristiwa itu, oleh Orde Baru, sudah direkam dalam film Pengkhianatan G30S-PKI (meski Latief protes karena merasa “tidak pernah memakai pakaian dinas dalam pertemuan” seperti yang digambarkan dalam film arahan Arifin C. Noer itu). Di mata pemerintah Indonesia (terutama Orde Baru), A. Latief tetap dianggap sebagai salah satu dedengkot peristiwa berdarah itu. Menurut Latief, dirinya bukan anggota PKI. Dia menganggap dirinya sebagai loyalis Soekarno, yang memerintah menjemput para jenderal untuk dihadapkan ke Soekarno. Menurut Latief pula, adalah Syam Kamaruzaman yang memerintah di lapangan untuk menangkap para jenderal hidup atau mati. Benar atau tidaknya hal ini tentu sukar mengeceknya kepada Syam, yang sudah almarhum.
Yang jelas, Kolonel Latief lantas ditangkap pada Oktober 1966. Setelah itu, hidupnya hanya berkisar dari penjara ke ruang operasi rumah sakit. Ia sudah sembilan kali dioperasi sejak masuk bui pada 1966. Dua tahun kemudian, Latief masuk Rumah Sakit St. Carolus akibat serangan otak atau stroke. Namun, jauh sebelum itu, sejak kena tembak pada 11 Oktober 1966, Latief sudah akrab dengan rasa sakit.
Setelah ditembak, ia dioperasi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD)Ñtanpa rawat inap. Ia kemudian dikembalikan ke Makodam Jaya V, Lapanganbanteng, Jakarta Pusat. Di sana, gipsnya diganti, lalu dikirim ruang isolasi di Salemba. Latief tinggal di ruang isolasi itu selama 10 tahun. “Saya tidak pernah keluar sedetik pun dari tempat ini,” tuturnya. Fisiknya hancur. Luka di kedua kakinya sempat ditumbuhi ratusan belatung. Namun, Latief mampu bertahan dan sembuh. Bekas tembakan itu tetap terpatri dan itulah yang menyebabkan kaki kirinya jadi lebih pendek.
Di luar soal kaki, Latief juga tidak lebih beruntung. Berkali-kali ia mengajukan hukuman terbatas ke pemerintah Orde Baru dan selalu ditolak. Terakhir, ia memohon grasi ke Presiden Soeharto pada 17 Agustus 1994Ñbersama dengan Dr. Soebandrio, Marsekal Oemardhani, dan Brigjen Polisi Sutarto. Hasilnya? Nama Latief dicoret sedangkan ketiga rekannya mendapat grasi pada 17 Agustus 1995.
Namun, dalam tiga kali pertemuan dengan TEMPO di penjara Cipinang, September 1998, Latief menyatakan “tidak keranta-ranta (merasa sengsara),” ujarnya sembari menegakkan punggungnya yang tipis.
Wawancara dengan ayah enam anak (satu meninggal) ini berlangsung dalam percakapan terbata-bata dan bercampur baur antara bahasa Indonesia dan Jawa.
Latief tampak segar saat menerima TEMPO di ruang tunggu penjara Cipinang, dengan mengenakan celana cokelat muda, kaus batik leher bundar, serta tangan kirinya berhias dua bentuk cincin bermata merah dan putih. Suara tawanya masih agak lantang. Berikut petikan wawancara Yusi A. Pareanom dan Hermin Y. Kleden dari Tempo.
Menurut Anda, mengapa Anda tak kunjung dibebaskan?
Saya pikir, kalau saya dibebaskan, saya dianggap akan omong macam-macam. Padahal, menurut Keppres No. 156/1950 RIS, seseorang setelah penambahan masa hukuman bisa bebas dengan izin dari Menteri Kehakiman saja. Namun, menjelang saya dibebaskan, Keppres itu dicabut dan diganti Keppres No. 5/1987, yang menyatakan bahwa untuk pembebasan itu perlu grasi dari presiden.
Peristiwa G30S-PKI masih menimbulkan tanda tanya. Sebetulnya, apa yang terjadi malam itu?
Pada malam 30 September 1965 itu saya datang ke RSPAD untuk menemui Jenderal Soeharto (Latief menyebut pangkat Soeharto tanpa diawali mayor di depan jenderal). Saat itu ada musibah kecil. Anak Pak Harto, Tommy, ketumpahan kuah sup. Di tempat itu banyak sekali tamunya. Ada yang militer, tetapi banyak yang sipil. Saya hampir tidak punya kesempatan. Maka, saya nyelonong saja. Saya bilang, “Pak, maaf, besok pagi jenderal-jenderal yang tergabung dalam Dewan Jenderal akan dihadapkan ke presiden untuk mengetahui benar-tidaknya kabar para jenderal akan melakukan kup. Yang menjemput nanti Resimen Cakrabirawa.” Mestinya, karena ini sangat penting, ia bertanya, “Bagaimana dengan Jenderal Yani? Apa sudah lapor ke yang bersangkutan?” Ternyata, Pak Harto diam dan manggut-manggut.
Apakah sebelumnya Soeharto telah mengetahui kabar tersebut?
Malam sebelumnya saya sudah ke rumah Pak Harto. Di situ ada Bu Tien, kedua mertuanya, dan ada tamu yang lain. Ada juga Kolonel Suyoto (salah seorang perwira Angkatan Darat) dan istrinya. Mereka datang untuk urusan keluarga. Saat itu saya bertanya, “Pak, ini ada berita tentang Dewan Jenderal. Ini bagaimana?” Pak Harto menjawab bahwa kemarin ada anak buahnya dari Yogya bernama Bagyo yang memberi tahu soal Dewan Jenderal. Pak Harto mengatakan akan menyelidiki terlebih dulu kabar ini. Lalu saya pulang.
Jadi, Anda yakin Soeharto tahu benar tentang gerakan itu?
Ya. Tapi tentu ia membantah, seperti yang ada di buku otobiografinya. Saya agak lupa. Memang ada tiga versi seputar kejadian malam 30 September itu. Yang pertama, Soeharto bilang bahwa ia melihat Latief dari balik jendela. Artinya, saya tidak lapor, terus kembali ke arah tangga. Versi kedua, Soeharto ngaku sendiri kepada penulis buku Arnold Brackman (penulis The Communist Collapse in Indonesia). Soeharto berkata, “Saya berterima kasih sekali atas kedatangan Latief, atas perhatiannya terhadap musibah yang terjadi pada Tommy. Saya tidak mengira bahwa Latief ternyata orang penting yang akan mengadakan kup. Saya kira Latief datang untuk melihat kelengahan saya.” Versi ketiga dari (mingguan Jerman) Der Spiegel. Di situ ditanyakan mengapa Jenderal Soeharto tidak termasuk jenderal yang dibunuh. Soeharto membantah. Ia berkata bahwa Latief datang untuk membunuh tetapi tidak jadi karena ada banyak orang.
Bagaimana hubungan Soeharto dan Untung?
Tidak bersifat administratif. Soalnya, Cakrabirawa itu resimen yang berdiri sendiri. Letkol Untung pernah bergabung dengan pasukan Raiders di Jawa Tengah saat Kodam Diponegoro dipegang oleh Pak Harto. Maka, ketika Untung kawin, Pak Harto sempat datang.
Bagaimana hubungan antara Soeharto dan jenderal lain saat itu?
Menurut saya, Pak Harto dengan Pak Nasution dari dulu tidak cocok. Dengan Pak Yani biasa-biasa saja. Tetapi, kalau dengan Pranoto, jelas sekali pertentangannya. Pak Harto itu orangnya tertutup. Yang namanya komandan batalyon itu tidak ada yang berani menghadap dia. Hanya saya yang enak nyelonong pakai bahasa Jawa Timuran. Salam saya biasanya, “Yokopo, Pak.”
Kalau hubungan Anda sendiri dengan Soeharto?
Dekat. Saya kenal sejak zaman gerilya, kok. NRP saya 10685, sedangkan NRP Pak Harto 10684. Pada 1948 Pak Harto memimpin sektor Purworejo dan Gombong dengan pangkat letkol, sedangkan saya di sektor Wonosobo dan Temanggung dengan pangkat mayor. Setelah itu kan ada rasionalisasi pangkat. Saya diturunkan menjadi kapten, tetapi pangkat Pak Harto tetap. Saat Clash ke-2, saya sempat diminta bantuan oleh Pak Harto ketika bertempur di Yogya. Setiap Lebaran, saya silaturahmi ke rumahnya. Istri saya dan Bu Tien juga begini (Latief menautkan dua telunjuknya). Tapi dekatnya itu hubungan silaturahmi biasa, bawahan ke komandan. Sampai 1965 saya masih ke rumahnya.
Apa sebenarnya Dewan Revolusi itu? Dan dari mana Anda mendapatkan info tentang kup itu?
Saya baru tahu bahwa kumpulan saya ini dinamai Dewan Revolusi setelah Presiden Soekarno berhenti. Info tentang kup itu, Untung mendapatkannya dari Syam.
Isu Dewan Jenderal itu sudah lama beredar di antara para perwira. Kalaupun akhirnya kami bergerak, karena kami yakin bahwa Bung Karno akan dibunuh. Apalagi saat itu Bung Karno sedang sakit. Masa, kita sebagai perwira yang setia kepada Presiden tidak bergerak?
Bagaimana awal terbentuknya kelompok ini?
Letkol Untung yang mengontak saya dan perwira muda lainnya. Saya lupa kapan persisnya perkumpulan ini dimulai. Namun, saya yakin, pada September 1965 itu juga. Kami diberi tahu ada kabar tentang Dewan Jenderal yang berencana mau menggulingkan Bung Karno. Bahkan, Bung Karno mau dibunuh. Nah, karena perwira-perwira muda ini setia pada Bung Karno, mereka mau mencegah ini. Soalnya, saat itu kan Bung Karno sudah mengalami percobaan pembunuhan berkali-kali. Pertentangan di tubuh tentara ini sebetulnya sudah dimulai sejak zaman revolusi. Makin tajamnya pada 1965 karena adanya ancaman terhadap Bung Karno.
Siapa saja yang tergabung?
Banyak. Yang menonjol adalah Letkol Untung (Komandan Resimen Cakrabirawa), Brigjen Soepardjo (Panglima Komando Tempur II, Kalimantan), Mayor Suyono (Komandan Resimen Pengawal Lapangan Udara Halim Perdanakusuma) Letkol Udara Heru Atmojo, dan Mayor Gatot Sutrisno. Yang lain-lain saya tidak ingat. Syam Kamaruzaman juga datang. Tapi saat itu ia dikenalkan sebagai intel Cakrabirawa. Kita berkumpul di beberapa tempat. (Latief tak bersedia menyebut namanya).
Siapa yang memerintahkan penculikan terhadap para jenderal?
Yang memerintahkan penjemputan itu, ya, kami. Jadi, kalau ada pendapat Bung Karno yang memerintahkan itu tidak betul. Bung Karno tidak tahu-menahu tentang ini. Di luar dugaan, yang terjadi di lapangan lain. Pasukan bergerak bertindak di luar komando. Ini karena perintah dari Syam kepada Letnan Doel Arief. Tampaknya, Syam mendatangi pasukan dan menitipkan pesan. Isinya, ambil hidup atau mati. Kami yang di markas tidak tahu-menahu tentang ini. Maka, kami kaget setengah mati begitu mendengar hal ini. Kok, jadi demikian?
Mengapa pasukan Cakrabirawa patuh kepada Syam?
Soalnya, Syam kan gandeng-gandengan terus dengan Untung. Saya tak tahu pasti, tetapi mungkin Untung memberi perintah agar patuh kepada Syam.
Selain para perwira muda ini, adakah jenderal lain yang menjadi atasan?
Tidak ada. Ya, hanya kami.
Lantas mengapa berani bergerak melakukan penjemputan para jenderal?
Karena Jenderal Soepardjo bilang ia berani bertanggung jawab.
Meskipun pasukan di lapangan bertindak sendiri, bukankah Anda tetap terlibat?
Lo, iya dengan sendirinya. Jelas, kami harus bertanggung jawab. Saya juga gela (menyesal). Makanya, pagi itu kami langsung menghadap Bung Karno.
Apa yang terjadi pada pagi hari 1 Oktober?
Pagi 1 Oktober itu, Pardjo (Brigjen Soepardjo) datang ke Istana untuk bertemu dengan Presiden, tetapi beliau tidak ada di tempat. Ternyata, Bung Karno ada di Halim. Kami menyusul ke sana. Jadi, sama sekali tidak benar bila dikatakan Bung Karno bersama dengan kami saat itu. Bung Karno kaget setengah mati ketika kami datang. Ia bertanya, “Kamu setia sama Presiden?” Kami jawab, “Lo, kami melakukan ini justru untuk membela Bapak.” Bung Karno bertanya lagi, “Tidak ada rencana apa-apa?” Kami menggeleng. Lantas, Bung Karno berkata, “Kalau setia, patuhi perintah saya.” Ia lalu mengeluarkan perintah: Hentikan gontok-gontokan, hindari pertempuran, tarik pasukanmu, dan konsolidasi. “Nanti semua akan saya selesaikan secara politik,” ujar Bung Karno.
Lalu?
Saat itu kan menjelang 5 Oktober. Yang menjadi pertanyaan bagi kami, mengapa Banteng Raiders yang di bawah Pak Harto itu dipersenjatai lengkap seperti mau bertempur. Kalau mau defile kan tidak perlu membawa peluru? Namun, pasukan Banteng Raiders taat pada kami karena mereka setia pada Bung Karno. Buktinya, mereka ragu-ragu. Maka, Pardjo sempat berkata bagaimana nanti kalau Pak Harto menyerang. Ternyata, memang benar. Kami diserbu memakai RPKAD, dengan memakai tank segala. Saat itu di pihak kami ada senjata penghancur tank. Tapi saya cegah karena ingat pesan Bung Karno. Ternyata, mereka maju terus. Terpaksa saya menghindar dan bersembunyi sampai tertangkap.
Menurut Anda, sebetulnya di mana posisi Soeharto pada 1965 itu?
Perkiraan kami waktu itu, Harto loyal pada Bung Karno. Maka, sebelum bergerak, kami menghadap Pak Harto untuk menetralkan agar tidak terjadi benturan. Diputuskan saat itu bahwa saya yang berangkat menemuinya.
Mengapa Soeharto lolos dari daftar jenderal yang menjadi sasaran?
Karena ia dianggap loyal kepada Bung Karno.
Omong-omong, Anda pernah menonton film tentang G30S-PKI yang ditayangkan di televisi?
Wah, banyak yang ngawur itu. Saya tidak pernah memakai pakaian dinas saat pertemuan. Lagi pula, pertemuannya itu santai, lesehan di bawah. Nggak tegang-tegang kayak di televisi. Di film itu saya juga digambarkan bertemu dengan Aidit. Padahal, ketemu rai (wajah) saja belum pernah. Rasanya, televisi itu mau saya antem saja, ha-ha-ha….
Di mana Anda tertangkap?
Di Bendunganhilir, di rumah saudara istri saya. Kalau tidak salah, tanggalnya 11 Oktober 1965. Saya ketahuan karena dari tempat itu saya menulis surat kepada Bung Karno. Isinya menagih janji. Kata beliau, perselisihan yang terjadi akan diselesaikan secara politik. Tapi mengapa Soeharto mengadakan serangan ke kami? Karena janji itulah kami berhenti melawan.
Apa yang terjadi saat penangkapan?
Lutut kanan saya ditusuk bayonet, kaki kiri saya kena tembak. Kaki saya lalu digips. Namun, berbulan-bulan tidak pernah diganti sampai suatu hari keluar belatung dari gips. Mungkin saya satu-satunya orang di dunia yang pernah dirubung belatung. Saya dikirim ke Kodam selama satu minggu sebelum disekap di Salemba selama 10 tahun. Selnya seluas 2 x 3 meter, halamannya hanya 2 x 4 meter (Latief menggambarkannya untuk Tempo). Saya tak pernah mendapat kesempatan keluar sedetik pun dari tempat itu.
Anda ini sebetulnya tergabung dengan PKI atau tidak?
Saya ini mau dituduh PKI atau malah embahnya PKI, ya, silakan saja. Tapi saya bukan PKI. Saat saya dihadapkan sebagai tertuduh, Syam sebagai saksi ditanya hakim apakah saya seorang anggota PKI. Syam menjelaskan bahwa ia tidak pernah tahu karena dalam daftar anggota (nama Latief) tidak pernah ada. Lantas Syam berkata, “Bila melihat gaya hidupnya saat di RTM (rumah tahanan militer di Jalan Budi Utomo), Kolonel Latief itu seorang borjuis. Tidak mungkin seorang PKI seperti itu. Yang dimaksudkan borjuis oleh Syam itu adalah cara makan dan cara berpakaian saya yang selalu rapi. Sebetulnya ini disebabkan karena saya seorang yang gentle, terbiasa santun.
Apa lagi yang Anda ketahui tentang Syam?
Saya tidak tahu banyak. Tapi, saat berada di Cipinang bersama, saya lupa tahunnya, Syam bercerita bahwa ia tahu banyak tentang aksi saya saat gerilya di Yogya. Ia tahu ketika saya menyerang Malioboro dan Hotel Garuda. Saya terkejut, lantas saya tanya saat itu ia ikut siapa bila di Yogya. Syam menjawab, “Ikut Pak Harto.”
Lantas Anda tergabung dengan partai apa?
Parindra (Partai Indonesia Raya). Semula, saya tergabung di dalam kepanduannya, namanya Suryawirawan. Saat itu saya sedang berada di Madura. Saya ikut karena faktor kakak saya. Yang mulai membangkitkan minat politik saya adalah naskah pembelaan Bung Karno, “Indonesia Menggugat”. Itu betul-betul mengilhami saya.
Apakah Anda diperbolehkan melayat saat anak sulung Anda meninggal?
Sama sekali tidak boleh. Kalau tidak diberi tahu CPM yang menjaga saya, saya juga tidak akan tahu. Untung, penjaga itu baik. Anak saya tewas tertabrak mobil di depan Patung Tani. Umurnya baru 18 tahun saat itu (mata Latief tampak sedikit berair). Saat itu Gatot sedang mengurusi adik-adiknya setelah diusir dari rumah.
Selain untuk berobat, apakah Anda pernah keluar dari penjara?
Zamannya M. Yusuf (sebagai Menhankam/Pangab) pernah dua kali (keluar dari penjara) pergi ke Yogya dan Solo untuk urusan keluarga. Menengok anak juga pernah. Saya selalu kembali ke penjara tepat waktu. Begitu Benny (Moerdani) naik, wus…, langsung dibabat kesempatan itu.
Bagaimana keadaan di luar penjara menurut Anda?
Semrawut.
Sumber : Majalah Tempo Digital 6 Oktober 1998
Leave a comment