Tempo 07 Februari 1976. SELEPAS pertandingan percobaan di Bangka pekan lalu, terbetik berita bahwa Coerver telah menyaring ke- 20 pemain team Pra- olimpik Indonesia. Mereka adalah Ronny Pasla, Taufik lubis, Sutan Harhara, Oyong Liza, Lukman Santoso , Johanes Auri, Nobon, Suaeb Rizal, Burhanuddin, Harry Muryanto, Suhatman, Sofyan Hadi, Junaedi Abdillah, Anjas Asmara, Iswadi, Waskito, Risdianto, Andi Lala dan Robby Binur. Dengan catatan pemain yang ke-20 mungkin Rivai, mungkin Eddy Sabenan. Adakah itu merupakan pilihan terakhir, tak seorang pun berani berspekulasi. Lebih-lebih mengingat batas waktu untuk mengajukkan daftar ke-20 pemain masih tersisa sampai dua hari menjelang turnamen dimulai (15 Pebruari). Dan para peninjau yang mengamati kegiatan Coerver mengolah asuhannya, percaya bahwa pada saat-saat terakhir bisa saja terjadi perubahan anggota team.
Namun berdasarkan pilihan yang mendekati final itu, orang mulai mengalamatkan beberapa pertanyaan kepada Coerver. Adakah Taufik misalnya memang lebih baik dari Sudarno yang lebih berpengalaman dalam pertandingan internasional? Dan bagaimana pula dengan Eddy Sabenan, adakah ia te]ah pulih sepenuhnya dari cederanya? Keraguan untuk memastikan siapa yang berhak menempati back kiri juga masih menjadi problim. Untuk yang terakhir ini Coerver sampai berani mencoba-coba Renny Salaki, yang pada akhirnya disisihkan juga. Gencatan Senjata Namun demikian, mendahului pembentukan team yang resmi, soal team manager telah terselesaikan. Bukan T.D. Pardede, Ketua Badan Team Nasional PSSI, bukan Dono Indarto, Ketua PSSI dan bukan juga Frans Hutasoit, Ketua Jayakarta yang resmi diminta membantu pembinaan para pemain TC Pre-Olimpik di Ragunan. Team manager itu tak lain tak bukan adalah Ketua Umum PSSI sendiri: Bardosono. Penunjukan ini tidak banyak menimbulkan reaksi, meskipun sebelumnya Coerver sendiri pernah mengajukan persyaratan tentang seorang team manager yang lain.
Penggemar awam pun nampaknya tidak tertarik untuk memperbincanglan lagi kedudukan tersebut. Hari-hari ini suasana persepakbolaan kita lebih menjurus pada persiapan terakhir menjelang turnamen Pre Olimpik. Seperti kata Hutasoit: “Siapa team manager itu tak penting lagi sekarang. Waktu sudah mendesak. Kita harus menangkan Pre Olimpik yang menjadi kepentingan nasional”. Sejalan dengan pernyataan tersebut adalah sikap para penggemar sepakbola yang dulunya mengecam keras kebijaksanaan Ketua Umum Bardosono. Bahwasanya mereka menganggap perlu sekali diadakan”gencatan senjata”, supaya dalam penyelenggaraan maupun dalam pertandingan menang ataupun kalah –peran PSSI sebagai tuan-rumah tidak jelek di mata orang luar negeri. Bardosono sendiri nampaknya berusaha memelihara “minggu-minggu tenang”, dengan mengurangi membuka suara kepada pers. Konon supaya suasana tenang tetap terpelihara, ia segera mengangkat tiga orang asisten yang akan mewakilinya sebagai team manager dalam urusan Pre Olimpik ini. Tak disangka, kehormatan sebagai penyelenggara turnamen Pre Olimpik yang pertama kali ini, bisa membangkitkan pula semacam “persatuan nasional”.
Sumber : Arsip Majalah Tempo Online
Leave a comment