BENAR juga, tak banyak yang luar biasa dalam dialog antara Presiden Soeharto dengan para pimpinan mahasiswa hari Jumat lalu. Di satu fihak para mahasiswa dengan setengah tak sabar cukup bernafsu menumpahkan segala uneg-uneg selama ini. Di lain fihak Kepala Negara sadar bahwa ikhwalnya tidak semudah yang dike-hendaki anak-anak muda tadi. Tetapi barangkali pertemuan itu bukannya tanpa manfaat. Sebab seperti diungkapkan ketua DM-UI Hariman Siregar, pertemuan itu sendiri positip, apalagi menurut Presiden “adalah tugas mahasiswa untuk memberi fikiran-fikiran sebagai pewaris masa depan”. Dan Muslim Tampubolon, ketua DM –ITB, merasa puas “kalau dialog itu merupakan langkah permulaan” tetapi akan tidak berarti apa-apa” kalau tak ada perubahan selanjutnya”. Lebih dari itu, dengan dialog itu pula agaknya hapuslah soal “mau mengganti Soeharto” seperti yang dituduhkan Seorang pejabat tinggi ABRI menyatakan kesannya tentang pertemuan itu: “Anak-anak itu menghormati pak Harto sebagai Kepala Negara”.
Barangkali karena itu Sekneg Sudharmono menyatakan sehabis pertemuan, bahwa sebagai mandataris MPR dan penanggungjawab pelaksanaan pembangunan, Presiden telah menampung semua per-tanyaan dan keluh-kesah yang diajukan para pimpinan mahasiswa “Ukuran berhasil atau tidaknya sesuatu pertemuan soal puas atau tidak puas” tambah Sudharmono kepada pers. Sebab, tentu saja dengan dialog yang terbatas waktunya dan berhadapan dengan peserta yang hampir berjumlah 100 orang itu, Kepala Negara tidak sempat menanggapi secara langsung seluruh pertanyaan dan pernyataan.
Bapak & Anak. Memang tidak diketahui pasti seluruh isi pertemuan itu, karena sifatnya yang tertutup seperti sebelumnya sudah dinyatakan. Tetapi sehabis dialog, beberapa pimpinan mahasiswa yang dihubungi sempat juga membeberkan jalannya pertemuan dengan pegangan bahwa antara mereka dengan Kepala Negara tidak ada persetujuan yang disepakati untuk tidak menyampaikan isi pertemuan tadi kepada pers. Di samping beberapa orang yang menganggap dialog langsung itu “cukup memuaskan”, beberapa lagi beranggapan sebaliknya. Hatta Albanik, ketua umum DM Unpad Bandung, misalnya, merasa “tidak semua jawaban kita peroleh”. Temannya dan Unpad juga, Paulus Tamsil, mengatasi ketak-puasan itu karena “di antara kita banyak yang menganggap kenyataan yang ada sekarang berbeda dengan ucapan yang sering dilontarkan Presiden”
Masih ada pula kekecewaan dari Hariman Siregar. “Mahasiswa semula berharap bertemu dengan Soeharto sebagai Soeharto, di samping Soeharto sebagai Presiden”. Maksudnya agar sikap terbuka dan terus terang dari para mahasiswa semestinya disambut serupa oleh Kepala Negara, sehingga masing-masing memahami kesulitan fihak lain. “Kelihatannya Pak Harto lebih menunjukkan diri sebagai Presiden” tambah ketua DM-UI itu lagi, “tanggapan yang diberikan Presiden bagi kita demikian mengambangnya”.
Bukti? Rasa kurang puas dari sementara pimpinan mahasiswa tampaknya bukan saja karena suasana pertemuan kurang diliputi perasaan seperti halnya antara bapak dan anak, sebagai yang semula diharapkan Hariman. Lebih dari itu, seorang peserta pertemuan merasa isi hatinya terganggu karena “pertanyaan-pertanyaan banyak yang dijawab dengan anggukan dan senyuman”. Mungkin karena mereka belum tahu juga apa makna senyuman Pak Harto. Misalnya angguk dan senyum itu nampak ketika menghadapi pertanyaan Muslimin MT dari DM-IKIP Jakarta: “Siapakah yang membangun dan memiliki istana Kalitan di Surakarta siapa yang memberi rekomendasi kredit dan berapa kredit yang diberikan kepada Batik Keris dan Sandra Tex siapa yang punya saham PT Wana dan PT Bogasari?” Muslimin selanjutnya menanyakan mengapa saluran-saluran resmi penanaman modal asing diabaikan, tetapi “disalurkan melalui Aspri Sujono Humardani”. Masih sekitar Aspri, ditanyakan: apa benar Ali Murtopo “calo politik”? Disebutkannya peranan lembaga tidak formil ini misalnya dalam pemilihan gubernur. Menurut mahasiswa yang mengungkapkan pertemuan itu, Kepala Negara menjawab bahwa ia hanya melaksanakan prosedur, yaitu setelah calon disetujui DPRD.
Dengan menggerak-gerakkan tangannya, Michael Wangge, ketua DM-Udayana Denpasar, membantah jawaban Presiden demikian. “Kami tahu betul setiap pencalonan gubernur selalu di dahului surat-surat dari Opsus” kata Wangge sebagai yang diungkapkan teman-temannya. Untuk kesekian kalinya Kepala Negara tersenyum dan mengangguk. Demikian pula ketika menerima serbuan pertanyaan lebih tajam dan menyebut keterlibatan sementara pejabat pemerintah, nyonya-nyonya pejabat serta pengusaha-pengusaha yang ditunjang instansi atau pejabat resmi. Dan sebagainya. Mendengar ini Presiden kemudian balik bertanya: mana buktinya? Tentu saja anak-anak muda itu tidak memiliki data-data pasti. Nah, inilah kesulitan selama ini. “Tetapi andaikan data itu tidak kami peroleh” jawab seorang mahasiswa dari DM-IAIN Jakarta, “namun hati nurani kita mem-benarkan adanya penyelewengan-penyelewengan itu, yang bahkan oleh rakyat umum sudah diketahui — apakah tindakan yang akan bapak lakukan”.
Ke puncak gunung. Pertanyaan terakhir ini kabarnya dijawab Presiden: “Sebagai pimpinan, orang itu akan saya bimbing dulu, kalau tidak bisa, baru saya tindak”. Karantigo dari DM-Unas kemudian berkata kepada Syahrir Wahab dari TEMPO: “Timbul pertanyaan pada diri saya, bagaimanakah nasib saran-saran Komisi IV DPR, memorandum tentang MII dan memorandum-memorandum DPR lainnya”. Mungkin karena itu pula, Hatta Albanik terpancing untuk angkat bicara lagi dalam pertemuan itu. “Kami mendengar ucapan-ucapan bapak”, katanya, “semuanya baik. Sampai sekarangpun tetap baik. Tetapi kenyataan yang terjadi berbeda”. Kepala Negara tidak mengelak akan adanya kelemahan-kelemahan itu, tetapi “semua tanggung jawab saya”. Dan semua yang dilakukan Aspri “adalah sepengetahuan saya”.
Lalu bagaimana sikap mahasiswa yang masih resah itu, walaupun sudah mengadu di hadapan bapak mereka? “Kita akan terus seperti seharang” jawab Hariman, “sudah sejak dulu kita bilang aksi-aksi ini akan merupakan rangkaian melati, penuh bunga-bunga dan akan menjadi indah”. Sikap serupa datang dari Hatta Albanik. “Ini bukan satu-satunya cara, kita akan cari jawaban dengan cara lain” katanya. Bagaimana? Entahlah. Tetapi barangkali akan ada aksi, seperti dikatakan Paulus Tamsil. Dan aksi itu, menurut kalangan mereka akan dibuktikan dengan kedatangan PM Tanaka dari Jepang “Karena kita lihat dia datang bagaikan juragan” tambah seorang mahasiswa.
Dalam kesempatan dialog itu pula, di samping pertanyaan-pertanyaan langsung, wakil-wakil dai 35 Dewan Mahasiswa itu membacakan “Tuntutan Mahasiswa Indonesia” dari 7 DM luar Jakarta dan “Deklarasi Mahasiswa Indonesia” Dari 15 DM yang ada di Jakarta. Isinya tidak ada yang baru. Tapi hal-hal yang segar terjadi juga. Sejumlah mahasiswa yang tidak memiliki undangan, dan hanya dibolehkan menanti di ruang tunggu wartawan Bina Graha, telah mengisi waktu mereka dengan banyolan-banyolan dan nyanyian penuh kritik. Antaranya terdengar: Di sana Jepang di sini Jepang, di mana-mana modal Jepang — Cangkul Cangkul Cangkul yang dalam, cukong yang subur wajib di hibur” Tapi yang bahkan telah me-nimbulkan tertawa para petugas-petugas bersenjata yang berjaga-jaga di sana ada lah lagu anak Betawi Sang Bango dengan syair ini:
**
Tanaka, e-e-e- Tanaka Kenape ente diem-diem aje Mangkanya aye diem-diem aje Kerna aye punya Aspri
*
Aspri, e-e–e Aspri Kenape ente tenang-tenang aje Mangkanye aye tenang-tenang aje Kerna aye punya komisi
Sumber : Arsip Majalah Tempo Online
Leave a comment