Menjelang turun minum, 4 gol bersarang di jala PSSI. Bagi PSSI, pengecilan angka kekalahan itu hanya dimungkinkan oleh tendangan penalti. Betapa tidak. Di barisan depan, masuknya Robby Binur di posisi kanan luar sama sekali tidak menghidupkan permainan. Ia memang sering mendapat bola, tapi seolah tidak tahu harus berbuat apa. Operannya tak pernah mantap di kaki kawan –apalagi untuk mengharap bisa mengancam gawang Dynamo Zagreb yang dijaga oleh Stincic. Di sisi kiri, tugas yang diserahkan kepada Andi Lala untuk menciptakan penghalang bagi Risdianto pun berakhir serupap. Andi hampir tak pernah lolos dari back kanan Devcic. Bentuk kerjasama yang tidak berbentuk ini sudah tentu makin mematikan gerak Risdianto yang terkenal agak malas mencari bola. Bagaimana mungkin Risdianto berimprovisasi mengancam gawang lawan, jika bola hanya hampir pernah melekat mantap di kakinya?
Kelemahan barisan penyerang dalam membuka peluang ini tak lepas pula dari kekurang-mantapan barisan penghubung Iswadi-Junaidi-Anjas. Sering serangan yang mereka bangun dengan baik dari bawah kandas di garis tengah lapangan. Karena gerak mereka dapat dengan mudah dibaca lawan. Bahkan penggantian Anjas dengan Sofyan Hadi tak merobah pola sama sekali. Mereka masih bermain dengan operan-operan panjang atau melambung. Padahal rata-rata pemain Eropa trampil sekali mencegat bola yang demikian. Kalau saja mereka mencoba bermain cepat dengan operan pendek, keadaannya mungkin akan laim Tapi untuk hermain dengan pola demikian tuntutan stamina pun tinggi — dan inilah yang tidak terlihat ketika kemarin. Nyaris semua pemain PSSI bermain seperti kurang darah — lesu.
Lumpuhnya gerak di lini tengah, menyebabkan ancaman total ke daerah pertahanan tak terelakkan. Dalam keadaan demikian kepanikan dari poros halang Oyong Liza yang mengatur pertahanan, sulit dihindarkan. Tidak heran jika ia sering mencari kaki lawan daripada bola guna menyelamatkan benteng. Cara yang kasar itu semula mungkin diharap membuat lawan gentar. Ternyata penyerang Dynamo Zagreb tidak sebodoh yang mereka duga. Mereka hampir tak pernah membuka serangan dari tengah. Selalu dari pinggir. Dan cepat.
Kepanikan pemain belakang PSSI (termasuk Kiper Ronny Pasla) tampak makin meninggi ketika gol-gol datang beruntun. Sementara balasan yang diharap dari trio Risdianto-Robby-Lala tak juga lahir. Tidak aneh jika semangat juang tim jadi mengendor. Padahal menangnya Indonesia lawan Malaysia di Kuala Lumpur sahamnya adalah semangat yang menyala-nyala itu. Angka aknir 5-1 membuktikan bahwa daya juang PSSI itulah yang merosot. Adakah ini lantaran kekurangan ‘vitamin D’, alias uang saku? Wallahualam.
Sumber : Arsip Majalah Tempo Online
Leave a comment