TEMPO 8 Januari 1972. Sesudah menang 6-1 atas Malaysia, regu uber cup Indonesia belum menentukan langkah selanjutnya. dari pertandingan itu dapat dilihat kelemahan-kelemahan pemain Indonesia. Utami Dewi kurang cepat & percaya diri. SESUDAH unggul 6–1 atas Malaysia, langkah selandjutnja apa? “Kita tunggu sadja hasil pertandingan Thailand-India Pebruari ini”, komentar Sudirman pada TEMPO Sudah barang tentu dalam masa menunggu selama sebulan ini Ketua PBSI tersebut tidak terpukau oleh kemilaunja angka kemenangan jang mejakinkan. Lebih-lebih sehari mendjelang pertandingan Indoesia-Malaysia Ferry Sonneville jang sempat mengundjungi TC PBSI di Djalan Polo Air pernah berkelakar dihadapan Minarni.
“Kalau bisa lebih tjepat melahirkan lebih bagus”, kata ex-Kapten Team Thomas Cup Indonesia kepada Ibu Asrama jang sedang mengandung 5 bulan, “supaja bisa memulihkan kondisi memperkuat Regu Uber Cup kita”. Agaknja kelakar itu tidak boleh dianggap sebagai pengendur sjaraf semata. Sebab bagi regu jang kebanjakan terdiri dari pemain-pemain muda –ketjuali Retno Kustijah dipartai ganda – seorang jang berpengalaman dan berwibawa seperti Minarni, paling tidak masih belum ada.
Falsafah Bertanding.
Namun untuk memantapkan perasaan para pemain jang akan terdjun kegelanggang sedjam kenudian, Ferry masih kelihatan ditengah-tengah para pemain. Dan berkatalah dia: “Meskipun anda berada diambang kemenangan dan mampu membikin 11-5, djangan tjoba-tjoba memberi kesempatan pada lawan untuk meningkat mendjadi 11-6. Inilah falsafah bertanding jang harus dikembangkan. Barangkali berdasarkan nasehat Ferry itu Minarni perlu duduk dipinggir lapangan mengikuti djalan pertandingan sambil memberi petundjuk-petundjuk langsung kepada Utami Dewi cs, meskipun segala upaja Minarni untuk mengurangi kegugupan Utami sia-sia sadja. Kemenangan Indonesia atas Malaysia dihadapan hampir 10.000 penonton Istora tidak pula sedikit menampilkan kelemahan-kelemahannja disamping memperlihatkan keunggulan Taty Sumirah, keuletan Intan atau keganasan pasangan Regi/Poppy misalnja.
Madjikan.
Problim jang menjangkut kelemahan Utami Dewi lawan Rosalind Ng dipartai tunggal pertama membikin para suporter PBSI prihatin. Bagaimana mengangkat kembali semangat bertandingnja setelah dikik-balik oleh lawan dalam rubber-set membutuhkan pendekatan psikologis diatas pembinaan teknis dan fisik. Tipe permainan jang polos tanpa variasi tidak menjulitkan lawan seperti Rosalind misalnja. Sekali pola permainannja dapat diimbangi- djinaklah gerak langkahnja. Ketjepatan dan kekuatan smashnja nampaknja tidak lagi mempersulit posisi Rosalind jang lebih matang mempermainkan raket dengan berbagai variasi pukulan. Dan dalam situasi ini Utami tidak lebih dari seorang pelajan jang setia meladeni kemauan seorang madjikan. Tapi ini masih belum fatal. Ketekunan dan kesetiaannja dengan pola permainan tersebut tjendrung mendjadi gojah pada momen-momen kritis ia ragu dan gugup dalam mengembalikan bulu angsa. Dan terdjadilah kesalahan-kesalahan jang menambah bidji bagi lawan tanpa lawan itu membunuhnja dengan pukulan mematikan. Willy Budiman, Coach Teknis PBSI bukan tidak tahu akan kelemahan ini. Tampaknja bagi Willy hanja ada dua kemungkinan: merobah pola permainan Utami ini memerlukan waktu, kedua membangkitkan kepertjajaan akan potensi ketjepatan dan ketekunan Utami.
Taty Sumirah (hampir tersisihkan dalam seleksi), memperlihatkan sikap seorang pemain jang tabah. Menghadapi Sylvia Tan jang gesit, ia mengimbangi permainan lawan dengan pukulan-pukulan pendek dan mematikan. Dan ia berani memutuskan menempatkan bola pada sudut-sudut jang sulit bagi lawan sekalipun dengan risiko kalau tidak in pasti out. Gerak-tipu jang sekali-kali di lantjarkan terhadap lawan mejakinkan sekali bahwa Taty masih memiliki berbagai variasi pukulan jang dapat di kembangkan. Dengan bentuk permainan sekarang tidak mustahil dalam waktu dekat ia akan mendjadi pemain tunggar utama Regu Uber Cup Indonesia.
Intan Nurtjahja tidak banjak mengalami kesulitan bermain daIam 3 partai sekaligus: satu tunggal dan dua ganda. Dengan pola permainan ala Utami, Intan mempunjai kelebihan: tak mudah terpantjing meninggalkan pola permainan nja. Kelemahan backhandnja diimbangi dengan ketjepatan overhead stroke dan daja antisipasi jang tadjam. Tetapi itu semua membutuhkan kondisi fisik jang prima – dan memang selama di TC ia tertjatat sebagai pemain jang paling segar fisiknja.
Theresia.
Kekuatiran akan pasangan ganda lebih berat pada Retno/Intan, sementara pada pasangan lainnja orang mengharapkan peranan Poppy bisa lebih tjermat dalam mentjiptakan peluang peluang bagi Regina untuk melantjarkan smash-smash mematikan. Ada kemungkinan pasangan Retno/Intan akan mengalami perubahan, mengingat kedua pemain ini gandrung pada pola permainan jang sama: kuat bertahan dan tjukup tjermat dalam penempatan bola, tapi kurang daja menjerang. Itulah sebabnja beberapa penindjau menjarankan supaja Theresia Widiastuty ditjoba untuk berpartner dengan salah seorang pasangan tersebut. Dengan demikian diharapkan ada keseimbangan antara bertahan dan menjerang.
Tetapi apapun pendapat orang luar, penilaian Minarni seperti jang dituturkan kepada Yusril Djalinus dari TEMPO(lihat box: Apa Kata Minarni?), paling tidak akan mempengaruhi pula kebidjaksanaan PBSI untuk menentukan langkah selandjutnja.
Apa Kata Minarni
Tapi bagaimana kalau Rosalind dihadapkan dengan Taty Sumirah? Permainan Taty malam itu memang baik, karena lawannja djauh berada dibawahnja. Mungkin kalau lawan Rosalind dalam keadaan pertandingan besar seperti itu, kemungkinannja akan lain. Saja tak bisa memastikan, hanja paling tidak fify-fifty. Kalau dibandingkan dengan Intan, permainan Rosalind mempunjai tipe jang sama. Hanja kelebihan pemain lawan, ia mempunjai smash jang lebih keras ditambah pengalaman jang lebih banjak. Dan ini akan membuat Intan lebih pajah. Rosalind memang harus dihadapkan dengan Utami atau Taty, dimana ia tak bisa dengan mudah menguasai permainan kedua orang ini.
Bagaimana pendapat Minarni mengenai pasangan Retno Kustijah dan Intan? Sebenarnja mereka bukannja tidak kompak, tapi kurang serangan. Djadi kalau sudah menghadapi satu lawan, mereka kurang bepat untuk merobah permainannja, sehingga suatu saat mendjadi terlambat. Pasangan ini terlalu mendasarkan pada permainan stroke, tanpa adanja ketjepatan. Disamping mempunjai kelebihan dalam penempatan bola jang sangat baik. Tapi satu saat kalau mereka sudah katjau sendiri, penempatan bolanja dengan sendirinja katjau djuga. Sehingga terkesan seolah-olah permainan pasangan ini tidak kompak. Oleh karena itu salah satu dari mereka harus berfungsi sebagai killer. Salah seorang harus berlatih untuk mendjadi penjerang, atau mereka harus dipetjah dengan djalan mentjari jang lain, misalnja jang bisa memanfaatkan penempatan bola jang baik.
Dalam hal ini siapa jang mesti ditjopot dan siapa jang harus dimasukkan? Sementara ini belum dapat kita lihat, karena belum pernah diadakan pertjobaan. Tapi mudah-mudahan untuk jang akan datang bisa dipilih orang jang lebih baik lagi.Mengenai Wydiastuty bagaimana? Dia memang mempunjai peluang besar untuk dapat ikut.Antara Retno dan Intan siapakah kira-kira jang tjotjok dengan Wydiastuty? Saja belum tahu, sebab kedua orang itu menundjukkan stroke jang baik. Tapi untuk bisa mendidik, membimbing, dan membawa naik Tuty jang kurang stabil ini, saja kira Retno bisa melakukannja.
Tapi bagaimana mengenai permainan Retno sendiri? Sebetulnja dia merupakan seorang pemain jang tjepat, dengan penempatan bola jang baik. Tapi tanpa mengimbangi ketjepatan dengan penempatan bolanja jang baik, satu saat kelihatan pintjang. Oleh karena itu harus ditjari jang dapat mengisi kekurangan itu. Sementara Intan hanja mengimbangi dengan pola permainan jang sama.Bagaimana dengan pasangan Popy Tumengkol dan Regina Masli? Mereka terlalu mendasarkan permainan pada unsur menjerang. Karena itu harus diperbanjak permainan stroke dan main pantjing. Tidak harus permainan itu tjepat terus. Satu saat kita harus melihat permainan musuh. Kadang-kadang tjepat harus dilawan tjepat, dan kurang tjepat berarti kalah. Kalau merasa kalah tjepat sebaiknja berusaha untuk membawa lawan ke permainan lambat.
Sumber : Arsip Majalah Tempo
Leave a comment