Di samping itu nama Stanley Gouw yang belakangan ini menyatakan mengundurkan diri dari kegiatan PBSI, kembali tercantum sebagai (supervisor Pengawas) kelompok pengasuh yang terdiri dari Drs Willy Budiman, Darmawan Saputra (keduanya pelatih teknik), Ridwan dan Taher Djiede (keduanya pelatih fisik). Sementara anak buah yang sudah terkumpul adalah Rudy Hartono, Christian, Ade Chandra, Iie Sumirat, Nara Sudjana, Tjuntjun, Yohan Wahjudi, Djaliteng dan Amril Nurman. Sedang Indra Gunawan dan Muljadi konon akan menggabungkan diri dalam waktu dekat.
Disiplin. “Saya tekankan pada disiplin”, ujar Sukada kepada TEMPO, ketika kepadanya ditanyakan mengenai berbagai larangan PBSI antara lain larangan untuk memberikan keterangan kepada pers sonder izin Pengurus PBSI di samping jadwal latihan yang cukup ketat. Persiapan yang,nampaknya serba tertutup di kompleks yang serba terbuka agaknya memancing berbagai tanda-tanya.
Mengapa justru Sukada yang mendapat kehormatan memangku jabatan Komandan? Adakah dengan wewenang yang ada Sukada cukup berwibawa mempertahankan disiplin seperti yang termaktub dalam keputusan Sudirman? Pertanyaan tersebut segera mengingatkan orang pada tokoh Kolonel Muljono dan Almarhum Mohamad Irsan yang masing-masing pernah bertindak sebagai Komandan TC team 1967 dan 1970. Meskipun Sukada kurang kena dibandingkan dengan kedua tokoh, tersebut, tapi pilihan PBSI agaknya cukup teliti. Sebab komandan yang merupakan pimpinan tertinggi dalam Pelatnas dibebankan pula kewajiban untuk menjamin kelancaran logistik para pemain dan pengasuh. Di sinilah letak penunjukan Bendahara PBSI untuk memikul beban tersebut. “Saya perkirakan dalam 3 babak persiapan dibutuhkan Rp 12 juta”, tambah Sukada kepada Tinaro. Ini berarti selama 9 bulan (September 1972 – Mei 1973) Pelatnas Thomas Cup membutuhkan biaya sekitar Rp 1,3 juts sebulannya suatu jumlah yang sudah barang tentu tidak terlalu besar, andaikata Piala Thomas dijanunkan akan bermukim untuk masa 3 tahun lagi.
Babakan persiapan itu sendiri dibagi dari September sampai Kejuaraan Dunia di Jakarta pada bulan Nopember 1972, lalu para pemain dipulangkan seminggu ke masing-masing tempat asalnya. Kemudian pada Desember dimulai lagi babak kedua sampai pada Kejuaraan All England bulan Maret 1973 dan selanjutnya babak ke-3 dari April sampai akhir MEi, pada waktu mana Turnamen Thomas Cup akan berlangsung di Jakarta.
Bagaimana PBSI bisa mengumpulkan dana sebanyak itu, padahal sampai sekarang induk-organisasi ini terbilang yang enggan minta-minta? Apalagi sumbangan Presiden Suharto dalam bentuk deposito hanya mencukupi tunjangan-tunjangan bagi para pemain tertentu. Tetapi jumlah tersebut bukan tidak ada paling tidak masih berupa janji dari KONI dan tjara yang masing-masing akan menyediakan Rp 5 juta. “Tapi jika janji itu tak terpenuhi, kita toh harus jalan juga”, kata Komandan Pelatnas ini “pokoknya uang harus ada”. Tekad Sukada ini agaknya yang merebut kepercayaan PBSI untuk menampilkan Bendaharanya selaku penguasa tertinggi di Jalan Polo Air.
Pelumas Untuk PBSI
Hubungan dengan Pertamina tentu saja membuka lembaran baru bagi PBSI yang belakangan ini mengalami kesulitan mencari “bapak angkat”. Tapi itupun tergantung pada peranan Pengurus Besar PBSI yang sangat berhati-hati untuk menerima uluran tangan plus amplopnya. Sebab orang seperti Budiman sangat peka sekali terhadap “harga diri” PBSI — satu-satunya induk-organisasi yang berhak menamakan dirinya Juara Dunia. Tapi dengan perantaraan Budiman, rasanya kesulitan mencari “bapakangkat” yang hak dan kewajibannya dapat diatur menurut ketentuan-ketentuan KONI, dapat diatasi.
Dewasa ini dalam mempersiapkan team Thomas Cup, disamping mencari material pemain baru dan meningkatkan yang ada, masalah keuangan PBSI bukan hal yang dengan sendirinya menjadi beres. Pengalaman masa lalu masih menghantui beberapa pemain yang pernah ditelan PBSI. Itulah sebabnya orang menyambut hangat perlawatan exhibisi PBSI ke Amerika Serikat yang menyangkut kehormatan Pertamina – sebagai permulaan kerjasama yang positif dalam usaha PBSI mempersiapkan teanm Thomas Cup nya.
Belajar Di Jakarta
Tangkas Baru Di Bulungan, Kamis 21 September malam sewaktu team Piala Thomas ini dipertemukan dengan klub Tangkas Baru yang tampak bukan suatu pertandingan yang bermutu untuk suatu regu nasional, tapi tak lebih dari suatu turnamen antar klub. Dari 7 partai yang dimainkan hanya kemenangan untuk partai perorangan yang mereka raih. Itupun dalam rubber set yang melelahkan. Baik Wee Kin maupun Ng Chor Yau, pemain yang menundukkan Budiman dan Hendra dengan tipe permainan yang sekarang kelihatan akan menemui kesulitan buat bisa memukul Bandid Jaiyen atau Sangob Rattanusom maupun jagojago Muangthai yang lain. Ng Chor Yau masih saja bermain ceroboh dan kurang kontrol. Wee Kin idem dito. Begitu juga yang lain. Semuanya tampak tidak punya pukulan yang boleh diandalkan untuk mematikan serangan lawan. Pada partai ganda masih ditambah lagi dengan kekurang-kompakan mereka.
Alhasil dari cari pengalamannya ke Indonesia buat mengukur sampai di mana kemampuan teknis dan stamina mereka sebagaimana Malaysia menurut info dari Ade Chandra konon akan melawat ke RRT untuk maksud yang sama tidak akan lebih menambah kepesimisan saja. Sebab terlihat ukuran kekuatan Singapore tidak lebih dari kekuatan suatu klub di Indonesia. Boleh jadi juga ketidak-bolehan anak asuhan Omar Ibrahim karena lawannya ada lah Indonesia. Tapi memang begitulah kemampuan mereka. Kalau tidak dengan Indonesia dengan siapa lagi mereka harus belajar.
Leave a comment