
Mengingat pemain-pemain yang sekarang di-TC-kan adalah rekan-rekannya yang lalu, rasanya kemampuan Darmadi tidak akan kalah dari mereka. Dengan pengecualian untuk Rudy, Tjun Tjun, Iie, Muljadi (?), dan Christian karena nama-nama itu adalah pemain-pemain tunggal yang punya potensi meyakinkan untuk saat ini. Darmadi bagaimanapun masih lebih bisa diandalkan dibandingkan dengan Djaliteng atau Amril. “Dalam jangka 3 bulan dengan suatu latihan yang serius Darmadi akan lebih baik dari Amril dan Djaliteng”, berkata seorang tokoh bulutangkis nasional kepada TEMPO.
Tender.
Adakah PBSI bisa memanfaatkan Darmadi kini? Di sinilah Pengurus Besar dihadapkan pada suatu dilema. Memilih Darmadi berarti akan mengundang protes dari cabang-cabang, karena nama ini tidak mengikuti seleksi nasional yang diadakan untuk TC Thomas Cup. Tidak memilih, orang ini mungkin masih bisa berguna. Karena itulah barangkali Sudirman tidak mau memberi kata pasti pada Darmadi sewaktu ia menyampaikan maksudnya. Seperti yang diceritakan kembali kepada TEMPO, Darmadi hanya mendapat jawaban: “Nantilah”.
Keinginan Darmadi memang tak tanggung-tanggung. Ia – bersedia meninggalkan pekerjaannya untuk sementara dan ikut mondok di Senayan. Tentang apakah ia akan diizinkan oleh Direksi GIA, Darmadi menjawab: “Kalau PBSI mengajukan permintaan untuk memakai tenaga saya pada Garuda, saya kira fihak Direksi akan mengizinkannya”. Hasrat Darmadi itu didukung oleh kenyataan bahwa mempertahankan Piala Thomas ini adalah tugas nasional yang patut mendapat bantuan.Tentu saja yang jadi soal kemudian adalah masalah biaya tambahan. Barangkali di sinilah keberatan Pengurus, karena kas organisasi yang tak pernah berlebihan harus akan dikuras lagi. Siapakah yang diharapkan akan membantu, sementara yang disebut “Bapak Angkat” hanya sekadar nama? Agaknya perlu di buka tender donatur, agar yang berkepentingan sama-sama mencapai maksudnya.
Sumber : Arsip Majalah Tempo
Leave a comment