“Membiasakan Dengan Gamelan”
GURUH – putera almarhum Presiden Sukarno yang bungsu – lahir di Jakarta 13 Januari 1953, sekolah taman kanak-kanak di dalam kompleks Istana, dan sekolah dasar sampai selesai di Perguruan Cikini. Tahun 1972 sampai 1974 di Negeri Belanda, belajar Arkeologi di Universitas Amsterdam. Katanya kepada Adi Putera Taher dari TEMPO: “Masa kecil yang mungkin juga mendorong saya kini sangat terikat kepada musik, yaitu seringnya saya melihat dan mendengar para pegawai Istana bermain gamelan. Teman-teman bermain saya waktu kecil itu adalah para pegawai Istana dan keluarganya, tukang kebun dan sopir sopir. Bapak juga mengharuskan kami semua, anak-anaknya, belajar menabuh gamelan, belajar tari Jawa, Bali, Sumatera . . .”.
Mengenai pendidikan musiknya, ia mengatakan: “Saya tidak pernah belajar musik klasik. Main piano, baca not balok dan gitar saya dapat dari teman teman dan belajar sendiri. Begitu pula dalam gamelan Jawa tidak pernah saya belajar kepada seseorang, sedangkan gamelan Bali saya pernah berguru kepada I Made Grindem dari desa Teges Kanginan yaitu pada tahun 1971 “Sekolahnya belum selesai. “Mungkin bulan Juni ini saya akan kembali ke Belanda untuk sekolah, tapi saya ingin mengambil bidang lain, mungkin sosial politik, tapi belum pasti, karena saya sendiri juga tidak tahu apa wadah yang tepat untuk diri saya . . . “.
Mengenali cita-citanya dia berkata: “Saya ingin mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari pada menjadi seorang arkeolog atau musikus saja. . . saya ingin aktif mengurusi masyarakat dan berguna di masyarakat . . .”. Di bawah ini wawancaranya dengan Eddy Herwanto:
Tanya: Apa musik anda punya dasar ide?
Guruh:Ya. Bukan khayalan semata. Tapi suatu cita-cita buat Indonesia. Supaya generasi muda yang tadinya nggak pernah mikir-mikir dan kayaknya sudah nggak ada kerjaan, tenggelam dalam rock Barat, mulai kembalilah ke kepribadian nasional. Tapi saya nggak mau ini disebut proyek nasional.
T: Tapi agaimana kalau anak-anak muda itu memang sukanya rock keras?
G: Musik itu memang bagus untuk orang Eropa. Buat orang sini sebetulnya sih bagus kalau bisa memakainya. Musik yang dihasilkan dari dunia ke-I masuk ke dunia ke-III, ndilalah masuk bersamaan dengan pengaruh hippies, ganja, free sex dan sebagainya. Musik itu bikin malas orang mikir. Untuk sementara waktu belum cocok. Di sini banyak orang yang belum mengenal kota dengan baik. Banyak orang snob. Sesungguhnyalah secara nggak langsung musiknya itu sebagai stimulator untuk berbuat mat-matan sambil nyuntik morphin atau heroin. Saya sendiri misalnya ketika mengisap ganja pernah pasang PH Led Zeppellin, supaya lebih stoned.
T: Apakah acla wajah musik pribu mi?
G: Keroncong asli, seperti O.K. Tugu, itu wajah Indonesia. Juga gamelan Jawa, Bali, ataupun Sunda. Danglut saya kira juga wajah musik Indonesia.
T: Mengapa anda mencampurkan musik Barat dengan gamelan?
G: Tujuan saya adalah membiasakan orang Indonesia mendengarkan gamelan. Sebab membiasakan diri itu tidak dapat langsung sekaligus, melainkan berdikit-dikit. Mana mau orang Indonesia “modern” mendengarkan atau memperhatikan, kalau hanya suara gamelan tok? Mereka kebanyakan buta tentang gamelan atau musik tradisionil lainnya. Sedang orang Jawa saja zaman sekarang tambah banyak yang tidak menggubris gamelan, terutama angkatan mudanya yang “berada” dan tinggal di kota besar seperti Jakarta, apalagi dengan orang luar Jawa-Bali! Musik Indonesia asli seperti garmelan harus digalakkan. Saya tidak bermaksud merusak yang asli. Sedang dari aslipun kesenian perlu berkembang, sebab kesenian bukan barang mati. Ia harus tumbuh bersama masyarakatnya dalam garis sejarah suatu bangsa.
T: Bagaimana pendapat anda tentang musik Harry Rusli?
G: Harry Rusli oke, tapi saya harap kita lebih memperdalam musik gamelan dan sejarah lagi. T: Bisakah eksperimen anda dimainkan di panggung? C: Kalau misalnya ada yang menyediakan Rp 10 juta, mungkin baru bisa. Sebab para pemainnya, banyak yang berasal dari Bali, banyak juga yang sudah kawin. Paling sedikit dibutuhkan 50 pemain naik panggung. Belum ongkos penginapan, dekorasi dan sebagainya. Cuma musik kami ini meninggalkan sifat komersiil. Bukan seperti lagu kacang goreng. Untuk naik panggung kami membutuhkan setidaknya 2 bulan latihan dengan pemain lengkap. Musik kami, memang lebih bisa dihayati bila dipertunjukkan langsung. Lewat rekaman susah diungkapkan, karena ini memang bukan tipe rekaman. Seperti misalnya suasana ramai yang dikehendaki dalam lagu Janger, karena track terbatas, akhirnya bunyi yang kedengaran tampil dengan melankolis.
T: Apa rencana anda selanjutnya
G: Tunggu kondisi. Kalau suasana agak santai, saya ingin rekaman lagu pop. Saya ingin merekam lagu saya, seperti Januari Kelabu, akon Manusia, dan banyak lagi. Mungkin saya akan turun dengan Gipsy, dengan sedikit gamelan. Bezettingnya sederhana, sehingga tidak memerlukan banyak track.
Sumber : Arsip Majalah Tempo
Leave a comment