Hancurnya desa saya
KETIKA gempa terjadi tepat pukul 14.10 WIB Rabu pekan lalu saya sedang membaca koran di muka kios Corsika Denpasar. Saya masih sempat berteriak bersama rekan-rekan wartawan, agar buruh-buruh proyek pertokoan turun dari tingkat atas untuk menghindari diri dari hal-hal yang tak diinginkan. Lalu lintas macet. Kemudian, saya berkeliling kota Denpasar, ingin mencari kisah unik dari gempa tadi. Maklum bayangan bencana alam nasional di Irian Jaya mencekam penduduk dunia ini. Dan saya mendapatkan hal yang lucu-lucu. Sore itu saya masih aktif mengumpulkan bahan-bahan. Di mana saja gempa itu terjadi. Tiba-tiba ada laporan bahwa gempa yang hebat terjadi di Tabanan, di Kecamatan Penebel. Rumah-rumah hancur, bahkan seorang dikabarkan telah meninggal di RSU Tabanan. Seorang teman yang baru datang dari Tabanan mendengar kabar, bahwa Desa Apuan hancur. Saya mencoba untuk mengumpul bahan lebih banyak, dan ternyata di RSUP Sanglah saya ketahui, yang hancur adalah Desa Pupuan. Rupanya Apuan yang dimaksud teman tadi adalah Pupuan. Belum juga tersentuh hati saya. Belum terbayang bagaimana hebatnya gempa di hari suci, Buda Keliwon Pahang itu. Barangkali dibesar-besarkan saja, maklum berita dari mulut ke mulut. “Desa Pujungan juga hancur. Balai banjar Pujungan yang indah itu rata dengan tanah”. kata seorang di RSUP. Pada saat saya mendengar kabar itu, saya bagaikan tak percaya, bagaimana mungkin balai banjar yang kokoh itu rata dengan tanah. Jadi bagaimana dengan rumah saya yang tak jauh dari bangunan kokoh itu. Ketika saya meninggalkan RSUP menjelang malam, memang terjadi sesuatu yang lain. Dikabarkan korban-korban gempa ramai-ramai dikirim ke Denpasar, dari Negara juga dari Buleleng. Dan spontan hati saya terlonjak, bagaimana dengan desa Pujungan, desa saya? Bagaimana dengan ibu dan 2 adik saya yang kecil? Malam itu pula saya langsung meminjam jeep Toyota untuk dibawa pulang. Barangkali ada yang perlu pertolongan mendesak, fikir saya. 3 Kali Benar. Kabupaten Tabanan tak ubahnya seperti negeri kalah berperang. Orang ramai berkerumun di muka rumah, di tanah lapang. Mobil-mobil patroli hilir mudik. Rabu malam itu ada instruksi dari Bupati Tabanan, agar penduduk jangan tidur di dalam rumah. Barangkali untuk menghindari adanya gempa susulan, yang tentu tak diingini. Sampai di Bajera, memang belum ada tanda-tanda bahwa terjadi gempa yang dahsyat, kecuali melihat kerumunan orang di jalan. Juga emper-emper toko dipenuhi oleh anak-anak yang tertidur, sementara orang tuanya (terutama ibu-ibu) terpaku dengan mata melongo. Berjalan melewati Desa Antosari ke utara, suasana lebih menakutkan. Bukan rumah yang roboh, tetapi mobil pickup, bemo, truck mengalir dari kaki gunung membawa orang-orang. Ada pengungsian besar-besaran? tanya saya di hati. Dan belum juga terbayang, bagaimana besarnya gempa itu. Sampai di Belimbing, baru terasa ada bencana alam. Balai banjar dan beberapa rumah penduduk retak-retak dan roboh sebagian-sebagian. Desa Belimbing jaraknya 15 km dari Desa Pupuan, yang dikatakan hancur itu. Suasana di sini masih agak biasa penduduk ramai-ramai keluar rumah, ke tempat lapang. Dan di Desa Sanda, mulai kesedihan mengguncang hati saya. Rumah-rumah bata hancur. Pinggir jalan dipenuhi tenda-tenda untuk tidur darurat. Hansip siap mengawasi jalan dan berjaga-jaga. Setiap mobil yang lewat, mata mereka nanar menatap. Jika mobil berhenti, mereka berkerumun, dan tanpa ditanya, penduduk ini sudah menjelaskan: “terjadi lebih dari 3 kali gempa”. Di Desa Batungsel mobil yang saya bawa berhenti sejenak. Di desa yang jalannya lurus ini pemandangannya seperti agak lain. Beberapa rumah kelihatan hancur, namun pinggir jalan dipenuhi mobil penumpang “Manis”. Mereka rupanya bersiap-siap untuk “lari” kalau ada gempa lagi. Yang dikuatirkan adalah senasib dengan Irian Jaya, terjadi tanah longsor. “Syukur di sini belum ada korban jiwa. Kita selamat. Dan ini belum seberapa parahnya”, kata orang ramai di Batungsel, 6 km dari Pupuan. Kalau di Batungsel, di mana tenda-tenda berjajar di pinggir jalan belum parah, bagaimana dengan Pupuan dan desa saya Pujungan? Bak Perang Bratayudha Pernahkah saudara membaca cerita wayang tentang perang Bratayudha? Tenda-tenda prajurit di medan Kurusetra pindah ke desa Pujungan. Jalan raya penuh dengan tenda-tenda darurat, di mana anak-anak, bayi-bayi, nenek-nenek duduk-duduk tercenung menatap bulan yang bersinar terang. Duhai sedihnya. Sedihnya. Jalan raya, sawah-sawah (di mana padi baru diketam), tanah lapang, dipenuhi anak-anak kecil, wanita-wanita yang membisu, sementara orang-orang laki menyalakan api mengusir dinginnya malam. Saya melupakan sejenak kesedihan itu. Saya ingin cepat-cepat melihat rumah saya, ingin tahu nasib ibu dan adik-adik yang kecil, tanpa ada orang laki lain. Ternyata rumah saya, sudah tak bisa dikenal identitasnya lagi. Yang ada hanya tumpukan bata dan genteng yang pecah. Syukur keluarga saya selamat, dan saya temui dalam “pengungsian” di tengah sawah setelah cukup payah mencari atas bantuan Kelihan Dinas setempat. Anda ingin tahu kerusakan di Desa Pujungan yang dikatakan “belum separah Pupuan atau Seririt?” Desa Pujungan dulunya berstatus Banjar. Karena besar menjadi Desa Dinas, melepaskan diri dari Pupuan. Garis tengah desa ini 1,25 km, dan bukan saya sombong, kebanyakan rumah bata. Untuk mencari rumah yang utuh seperti sebelum gempa, sangat sulit. Tetapi untuk mencari rumah yang hancur total, yang rata tanah (seperti rumah saya) ada di mana-mana. Jika kita ada di jalan raya, katakanlah di muka Balai banjar yang hancur 99,99O itu, menoleh ke selatan roboh, ke utara rumah roboh. Di mana-mana roboh. Malam itu pula saya ikut berkeliling ke Desa, bukan untuk mencari bahan berita saja, tetapi lebih banyak tugas kemanusiaan untuk desa saya. Siapa tahu ada penduduk yang luka berat dan segan untuk melaporkan. Sedihnya, lampu petromak yang ada sangat terbatas, padahal setiap rumah di desa ini gampang ditemui lampu petromak. Ternyata, lampu petromak adalah satu di antara barang-barang yang tak sempat diselamatkan. Rupanya gempa yang paling dahsyat adalah yang pertama (jam 14.08 wib di Pupuan. Catatan di Meteorologi jam 14.10 wib. Kalau catatan ini benar semua, gempa dahsyat itu terjadi 2 menit. Begitu gempa begitu ada tanda-tanda rumah roboh. Orang berlarian keluar, tak ingat lampu petromak, baju-baju, barang-barang berharga atau selimut. Sekejap mata saja kehancuran total telah terjadi. Begitu penduduk tersadar dari bencana ini, mereka ramai-ramai menangis tersedu. Sambil menangis yang dikerjakan adalah mencari anggqta keluarga. Setelah kumpul, merenungi nasibnya di depan rumah yang roboh. Baru kemudian mencoba mengangkat reruntuhan ingin mencari barang-barang yang tertindih. Tetapi, gempa kedua menyusul sekitar jam 15, ada yang mengatakan sekitar jam 16. (Di Denpasar tidak terasa). Pendudukpun mulai panik. Akhirnya semua berkesimpulan, gempa akan terus susul menyusul. Ditinggalkanlah barang-barang yang tertindih itu. Nyawa harus dipentingkan dengan pergi ke tengah sawah, ke tanah lapang atau ke jalan raya. Yang dibawa hanya pakaian yang melekat di badan. Kalau desa Pujungan sudah demikian sedihnya, bagaimana dengan Pupuan? Atau Seririt? Atau Negara? Atau desa-desa antara Seririt dan Pupuan? Atau pondok-pondok di pinggir tebing? Barangkali saya bisa laporkan di lain kesempatan. Yang jelas gempa ini termasuk luar biasa. Malam itu semua pejabat daerah dan Kabupaten turun ke lapangan, meninjau.
Leave a comment