Tempo 15 November 1975. PSSI tak pernah berhenti bergolak, peristiwa tiga minggu ini mengingatkan orang pada suasana menjelang Kongres PSSI di Yogya hampir setahun yang silamWaktu itu menjelang pemilihan pengurus baru, PSSI baru dibikin babak belur dari perlawatannya ke Eropa.- Sekarang menjelang turnamen Pre Olimpik, PSSI pun baru mengalami serangkaian kekalahannya dari perlawatannya ke Selandia Baru. Tapi masalahnya agak berbeda. Dulu yang dipersoalkan, pemilihan pengurus baru sekarang kristalisasi dari pengurus yang menang itu. Dulu sifatnya lebih terbuka sekarang baru terbuka setelah meledak dari dalam. Tiga orang pengurus terasnya mengundurkan diri dengan disertai pernyataan-pernyataan ramai di surat kabar. Mereka, Sutjipto Danukusumo, Kamaruddin Panggabean dan Hans Pandelaki, menyanggah keputusan Ketua Umum Bardosono (lihat Wawancara). Kendati pun begitu, pola isyu nampaknya tak banyak bergeser dari lingkaran “kekuasaan”.

Dulu Bardosono menyatalian, pencalonan dirinya “mendapat restu Presiden”- sekarang kebijaksanaannya “telah diberitahu dan dibenarkan Presiden dan Wakil Presiden”. Meskipun yang terungkapkan kemudian adalah”residen akan merestui Bardosono kalau memang Kongres memilihnya”dan sekarang “Presiden dan Wakil Presiden menginstruksikan Bardosono untuk menyelesaikan persoalan dengan pihak KONl”. Penjelasan resmi yang langsung memang tidak ada. Sikap KONI dalam menangani masalah ini pun tak banyak berbeda. Berpegang pada prinsip “tidak mencampuri urusan rumah-tangga induk organisasi”, Pejabat Ketua KONI Pusat, Suprayogi, tak pernah goyah dari norma-norma sportivitas. “Pakailah bahasa olahraga dalam urusan olahraga”. Persis seperti petuahnya di depan Kongres Yogya. Dan pedoman itu diulang lagi dalam mengarahkan Musornas KONI se-Indonesia beberapa waktu yang lalu. Cuma sekarang nampaknya Suprayogi lebih berani dan lebih terperinci sikapnya. Sesaat menemui Presiden Suharto di Bina Graha tanggal 4 Nopember lalu, ia sempat menegur Bardosono agar sang Ketua Umum ini “mempergunakan bahasa olahragai”, dan lebih demokratis. Dan peristiwa itu terjadi di depan mata para wartawan “Ya, cuma itu sikap KONI”, kata Sekjen KONI Pusat Siregar pada TEMPO.

Siregar yang dikenal sebagai otak mekanisme olahraga nasional menganggap pertikaian dalam tubuh pimpinan PSSI sekedar “soal yang sepele”. Tetapi, “ternyata PSSI masih bayi. Dan nilai apa yang bisa kita ambil dari olahraga untuk pembinaan bangsa, kalau soal yang diributkan semacam itu”, tambah Siregar sedikit filosofis. “Bagi saya”, kata Sekretaris Komite Olimpiade Indonesia, Suworo, “secara teknis kita sudah jauh ketinggalan dari luar negeri. Saya jadi malas kalau diajak untuk mencampuri tetek-bengek seperti itu. Kita sudah harus bekerja keras mengejar prestasi”. Tapi apa yang merongrong PSSI sehingga olahraga sepakbola ini bisa mengurangi nilai-nilai “pembinaan bangsa”? Dan apa pula yang menghambat prestasi PSSI? Berbicara soal sepakbola dengan latar-belakang dan masa depannya, nama Kosasih Purwanegara sekali-kali jangan dilupakan. Sarjana hukum, 62 tahun, yang kini menjadi direktur sebuah perusahaan real estate ini, adalah Ketua Umum PSSI sebelum kepengurusan Bardosono.

Dan kini selaku Ketua Kehormatan dan Wakil Ketua Dewan Penasehat, Kosasih punya versi tersendiri. Setetes Air “Bagi saya sebab pengunduran diri ketiga pengurus teras PSSI itu bukan cuma soal dibolehkannya Iswadi cs main di tengah-tengah berlangsungnya kompetisi”, katanya. “Isyu itu hanya merupakan setetes air yang menyebabkan segelas air meluap”. Tidak berhenti pada perumpamaan itu, “Diplomat Sepakbola” Kosasih menambahkan: “Burung berkicau menurut suara masing-masing. Mana bisa kita merubah suara beo, mana bisa kita merubah suara ketilang. Tapi yang penting kan nadanya, bukan suaranya”. Nada itu, kata Kosasih, identik dengan pendekatan. Sama dengan the way of handling problems (cara menangani masalah). Ia meningkat lebih konkrit. “Saya paham secara juridis formil seorang Ketua Umum PSSI yang sekarang adalah mandataris Kongres, yang mempunyai wewenang mengangkat, memberhentikan dan memutuskan.

Tapi terhadap ketiga pembantunya itu janganlah mereka diperlakukan seperti pelayan atau jongos. Mereka adalah orang-orang bola yang bukan baru lahir kemarin. Apalagi disebut-sebutlah soal dedikasi dan iktikad baik mereka”. Kosasih melanjutkan kisahnya. Pada tanggal 29 Oktober malam–dua hari setelah Bardosono menerima permintaan pengunduran diri Sutjipto Danukusumo (Ketua I), Kamaruddin Panggabean (Ketua II) dan Hans Pandelaki (Sekjen) – Kosasih memenuhi undangan rapat pengurus. Rapat tersebut dilengkapi dengan kehadiran Dewan Penasehat dan Dewan Pendapat. Langsung dipimpin oleh Bardosono. “Kemudian Ketua Umum minta kepada kedua Dewan ini untuk mengadakan rapat sendiri-sendiri. Hasilnya diserahkan kepada Ketua Umum”, ujar Kosasih yang menilai cara itu “cukup fair”.

Kosasih tidak ingat siapa saja yang hadir dalam rapat Dewan Pendapat. Tapi ia menyebutkan rapat Dewan Penasehat itu langsung dipimpin Ketuanya, Maladi Hadir sebagai anggota: Kosasih, Sri Amin, Abdurachman Setjowibowo, Wibowo dan Rasjid (dari Aceh). Karena rapat Pengurus PSSI tersebut, maka rapat Dewan Penasehat pun menyesuaikan acaranya. Hasil rapat kemudian dirumuskan Maladi. Kebijaksanaan Ketua Umum secara juridis formil diperinci sistimatisnya dan dinyatakan sah. “Setelah itu baru pimpinan rapat Maladi menanyakan, sekiranya dalam rumusan itu masih terdapat kekurangan yang perlu ditambahkan kata Kosasih. “Saya lihat justru yang terpenting tidak termuat. Cara demikian merupakan tantangan bagi diri saya. Saya minta agar ketiga pengurus itu dilepas dengan ucapan terima kasih atas dharma bakti secara terhormat.

Peristiwa itu pun dinilai Kosasih sebagai suatu cara pendekatan. sebuah contoh bagaimana Pengurus PSSI sekarang menangani masalah. “Saya sangat menghargai pendirian ketiga orang bekas pengurus itu. Tapi yang penting supaya perlakuan itu tidak terulang dengan penggantinya. Yang lewat sudahlah lewat. Lihat saja ke depan”. Masa depan PSSI pun tak seluruhnya luput dari tanggungjawab Kosasih, paling tidak secara moril. Malah ada yang menuduh, Kosasih-lah yang melahirkan kepemimpinan yang ada sekarang ini. Ia tidak membantah, meski tidak seluruhnya menerima. “Saya tetap berpendapat, untuk membina dan meningkatkan prestasi PSSI, tak mungkin hanya mengandalkan kekuatan swasta. Harus ada saluran yang dapat memperoleh dukungan dan fasilitas pemerintah. Tak peduli siapa yang memimpin syarat itu harus dipenuhi”, kata Kosasih yang nampaknya tanpa sadar berusaha menerapkan “bahasa kekuasaan” ke dalam “bahasa olahraga”. “Tapi setelah saya gagal mempersatukan Trio Plus ke dalam kepengurusan yang akan dipilih. saya dengan tegas mencalonkan Pak Tjip (Sutjipto Danukusumo) sebagai Ketua Umum. Tapi Pak Tjip menolak dengan alasan, ia tidak sanggup dan sebaliknya menyarankan Pak Bardosono, dengan catatan Pak Tjip yang lebih berpengalaman akan mendampinginya. Begitu jawab Kosasih.

Konon kabarnya. Kosasih sendiri akan mengundurkan diri dari Dewan Penasehat seusai turnamnl Pre Olimpik bulan Pebruari tahun depan. Begitulah “nada” tanggungjawab Kosasih. Satu hal yang membikin bekas Ketua Umum PSSI merasa “iri” terhadap pewarisnya sekarang adalah di samping fasilitas yang berlimpah, kekalahan yang berlimpah, tokh tidak mengundang kritik yang berlimpah. “Coba kalau dulu, PSSI kalah, habis deh kita dihajar Pers. Dituntut mengundurkan diri segala, tidak tahu malu, muka badak, sampai-sampai pak Paryo mengundurkan diri. Mengapa sekarang wartawan kok pada diam. Tidak bisa hanya mengatakan ‘sayalah yang bersalah, sayalah yang bertanggung jawab’, tapi tanpa suatu koreksi. Apakah kalian takut dibredel?”. Sindiran serupa itu baik juga ditujukan kepada peserta Kongres di Yogya maupun di Medan baru-baru ini. Buat awam memang serba susah. Kepalang sudah jatuh cinta, tapi tak tahu ke mana arah buah hatinya PSSI itu hendak pergi. Lebih-lebih buat wartawan yang dengan setia mengikuti–dari balik dinding ruang pertemuan PSSI jalan rapat team-manager pada tanggal 16 Oktober malam.

Seusai rapat, Bardosono tegas-tegas menyatakan bahwa peraturan pertandingan yang melarang Risdianto, Iswadi, Abdul Kadir, Hartono, belum dicabut – masih berlaku. “Jadi buat apa team manager-meeting ini?”, tanya wartawan. “Saya kan harus demokratis, harus berpegang pada peraturan. Setelah saya mendengarkan saran-saran dari daerah, hanya dua utusan dari Persija dan Persebaya yang setuju. Lainnya menolak dan ada yang abstain”. Lalu Bardosono yang didampingi Erwin Baharuddin dan Suhardjo, sempat memperinci sikap ke-14 utusan yang hadir dari 18 team peserta putaran final PSSI. “Kalau saya mengijinkan ke-empat pemain itu memperkuat bond mereka masing-masing, Persema akan minta juga supaya pemain-pemainnya di Diklat Salatiga diperbolehkan main”, kata Bardosono. “Ka]au begitu Coerver yang ditinggalkan sendiri di Salatiga bisa kedinginan, dong”.

Biasanya pada saat jam dinding hampir menunjuk pukul 11 malam, tak seorang pun dari ke-13 wartawan yang hadir dalam ruang kerja Ketua Umum PSSI itu, merasa ragu atas kekuatan pernyataan Bardosono. Apalagi mengharapkan akan terjadi keputusan sebaliknya di tengah proses kompetisi mendekati penyelesaian. Ternyata kemudian keputusan berbalik 180�. Kepengurusan PSSI di bawah Bardosono baru berusia 10 bulan ketika perpecahan terjadi. Kurang dari seperempat periode kepengurusan. Adakah ia dengan tindakan-tindakan drastis itu dapat menggunakan “sisa” tiga-perempat periode kepengurusan untuk memperbaiki keadaan dan menjadikan PSSI induk organisasi yang sukses? Ada yang optimis, tapi ada pula yang pesimis.

Yang pertama menganggap tindakan-tindakan yang tak lain itu perlu diambil demi disiplin dan kelancaran roda organisasi. Dasarnya, seperti berulang kali diingatkan Bardosono, adalah Anggaran Dasar, Anggaran Rumah tangga serta “Buku Hijau” – yang berisikan Garis Besar Haluan Sepakbola dan diterima Kongres Yogya sebagai pedoman pembinaan. Jadi titik-berat ada pada “bahasa kekuasaan”. Pendapat yang kedua, terang-terangan menolak konsep PSSI sebagai wadah ormas, meski diakui mula pertama PSSI lahir berkat diilhami semangat perjuangan bangsa. Tradisi PSSI itu, kata yang menganut pendapat ini, perlu dipelihara tapi harus juga diselaraskan dengan “bahasa olahraga” yang berkembang menurut zaman. Jadi praktek-praktek yang dilakukan “Orang Kuat” Bardosono berdasarkan “Buku Hijau” akan lebih kentara ketimbang akal sehat keolahragaan. Tapi ada juga yang menilai kepemimpinan Bardosono – Sutjipto – Panggabean – Pandelaki, sebagai sintese dari dua pendapat tersebut. Dan kwartet itu ibarat kartu boleh diumpamakan sebagai full house. Lengkap dan saling mengisi. Tapi nyatanya konsep pembinaannya berpijak pada dasar yang terlalu muluk. Sehingga secara strukturil dan proseduril pelaksanaan suatu program kerja acap mengalami kemelesetan.

Ibarat orkes, dirigen Bardosono ingin mempertahankan “nada”nya (yang menurut trip SPP “sumbang”). Tapi sumber lain TEMP0 di PSSI mengatakan, masalahnya tidak begitu sederhana. “Pak Bardosono mempunyai troefkaart, untuk membenarkan tindakannya Apa itu? “Tunggu saja kalau mereka menuntut soal penyalahgunaan tandatangan PandeIaki”, kata sumber itu. Itulah barangkali sebabnya. Bardosono dalam wawancara dengan TEMPO mengancam agar mereka “berpikir 2 kali mungkin 12 kali” sebelum melakukan tuntutan itu. Rupanya pergolakan yang terjadi selama ini baru merupakan pendahuluan dari kristalisasi selanjutnya.

Bardosono tidak berhenti di stu. Jabatan Panggabean sebagai Komwil PSSI dicabut dan diganti orang lain “atas permintaan para Komda”. Ia terang-terangan menyatakan bahwa team Pre Olimpik Indonesia akan ditangani Ketua Umum sendiri, meski dalam konperensi pers Coerver tanggal 76 Nopember lalu, Bardosono memperlihatkan sikap mengalah. Apa yang akan terjadi dengan PSSI menjelang kwalifikasi Pre Olimpik sukar ditebak. Kita penggemar sepakbola baiklah sabar mengikuti, tidak mendahului Kongres yang nota bene merupakan kekuasaan tertinggi untuk memvonis kepemimpinan Bardosono. Perlu 3 tahun lagi? Entahlah, lebih cepat rasanya lebih baik.

Sumber : Arsip Majaah Tempo Online

Leave a comment

Quote of the week

"People ask me what I do in the winter when there's no baseball. I'll tell you what I do. I stare out the window and wait for spring."

~ Rogers Hornsby

Designed with KlipStori.com