Tempo 01 Juni 1974. KETIKA Kadir pada menit ketiga luput memanfaatkan tendangan penalti ke dalam gawang Kesebelasan Piala Dunia Australia, sekitar 60.000 penonton pun ikut merasakan kehilangan peluang untuk membuat revans. Pertandingan tanggal 21 Mei di Stadion Utama itu memang memberi beban khusus kepada anak-anak asuhan Djamiat untuk membalas kekalahan yang pernah dideritanya dalam babak kwalifikasi Kejuaraan Dunia di Sydney tahun lalu (1-2 dan 0-6). Tapi tak seorang pun menduga sebelumnya hukuman penalti yang diberikan wasit FX Juremi, akan disia-siakan Kadir seperti yang dilakukannya dalam pertandingan percobaan di Stadion Menteng (TEMPO, 1 Mei 1974).Hanya kali ini bedanya: lebih pahit. Penjaga gawang Jack Reilly telah terkecoh ke kanan, sementara bola melenceng beberapa senti dari tiang gawang sebelah kiri. Boleh saja orang memaki-maki algojo PSSI ini yang dalam dua kali penalti, dua kali menghasilkan angka nol, meski lebih tepat jika kemarahan publik di alamatkan kepada Coach Djamiat. Coach PSSI ini barangkali masih belum lupa pada peristiwa dua tahun lalu di Rangoon ketika PSSI lewat kaki Kadir gagal pula membobolkan gawang iss-ker dari Israel dalam tendangan 12-pas, sehingga peluang untuk ke final Olimpiade Muenchen tertutup.

Maka betapa pun kerasnya kepala Djamiat, rasanya ia akan menjadi lunak untuk melatih seorang algojo baru. Tapi rupanya Djamiat tidak terlampau mengharapkan kemenangan dari tendangan penalti dalam pertandingan itu. Formasi penyerangan yang mengandalkan pada dua ujung tombak — Kadir dan Waskito — dibantu oleh penyerang-penghubung Ronny Patti, Anjas Asmara dan Risdianto, nampaknya merupakan pola yang ingin dimatangkan bentuknya. Berbeda dengan Coach Endang Witarsa yang memilih kedua pemain sayap sebagai penggempur — mengingat kedua back Australia, terutama back kanan Utjesenovio sering kali ikut naik menyerang — Djamiat tanpa Iswadi mengharapkan Kadir Ian Waskito bisa merepotkan poros halang Peter Wilson dan Manfred Schaefer. Siasat ini tidak terlampau ngawur. Beberapa kali kerjasama pendek dan tajam hampir mendatangkan kuah, tapi sekali siasat itu kentara di mata lawan, nampak sekali trio Ronny — Anjas — Ris kurang cekatan menarik pertahanan lawan bergumul di kedua daerah sayap.
Apa yang dilakukan mereka kebanyakan mengangkat bola tinggi-tinggi yang selalu menjadi umpan empuk buat pemain Australia yang tinggi dan gede badannya. Sungguh pun Ronny berhasil memulihkan bentuk permainannya dengan tidak banyak mengolah bola, namun bukan maksud Djamiat tentunya untuk menutup pintu penyerangan lewat kedua Sesekali Sutan Harhara ikut membantu menyerang, tapi kelihatan ia sedikit kaku setelah dicoba dua kali bermain di posisi gelandang.
Profesional
Munculnya Baco Ahmad bersama Subodro dan Oyong Liza di pertahanan tidak mengecewakan. Tapi tanpa Anwar Ujang dan Widodo yang lebih trampil dalam perebutan bola di udara, absennya keduapemain ini sangat dirasakan. Lebih-lebih masuknya kedua gol ke gawang Ronny Pasla akibat sundulan lawan. Mengenai gol ini sebenarnya tidak perlu “langsung” terjadi, andaikata Ronny dan Baco mau bertingkah sedikit profesional. Mengapa mereka tak menggunakan tangan menyelamatkan gawang, setelah melihat bola yang menyudut di atas kanan gawang tidak tertolong dengan cara biasa. Soal penalti urusan belakangan.
Akan halnya Kesebelasan Australia permainan fors, rajin dan tak sayang badan nampaknya masih merupakan modal yang akan dibawa mereka ke babak final Kejuaraan Dunia. Polanya mudah terbaca, tapi buat anak-anak PSSI nampaknya masih sulit dicernakan. Gol balasan PSSI yang dicetak Waskito lewat sodoran Andi Lala — membikin kedudukan 1-2 untuk Australia — hanya menunjukkan kurang tegasnya kerjasama antara wasit Juremi dan hakim garis. Ternyata petugas pertandingan ini perlu juga ditingkatkan mutunya.

 

Sumber : Majalah Tempo Online

Leave a comment

Previous Post
Next Post

Quote of the week

"People ask me what I do in the winter when there's no baseball. I'll tell you what I do. I stare out the window and wait for spring."

~ Rogers Hornsby

Designed with KlipStori.com