Tempo 27 April 1974. ADU jotos di lapangan hijau sebagai konsekwensi permainan yang keras memang tak mungkin terelakkan. Apalagi kalau kedua kesebelasan sudah merupakan musuh berbuyutan. Turnamen Piala Marah Halim kali ini pun tak terlepas dari keadaan semacam itu.
 
Diawali dengan saling baku hantamya pemain Korea Selatan dengan anak-anak bola Vietnam Selatan di babak pendahuluan, kericuhan berikutnya dibungai oleh Tumsila (PSMS) dan Jacob Sihasale plus Didiek dari Persebaya. “PSMS sudah menang dua mainnya kok begitu”, protes Jacob Sihasale kepada Ketua OC Kamaruddin Panggabean sambil menjelaskan bahwa meningkatnya suhu permainan adalah akibat ulah Tumsila ketika ia ingin menyelesaikan tendangan penjuru rekannya yang menyusur di depan gawang Didiek. Sementara menurut pandangan mata koresponden TEMPO Zakaria M. Passe, adu tinju itu justru dimulai oleh Didiek yang luput menangkap bola. Tapi tak meIiwatkan tangannya untuk mampir di tubuh maskot PSMS Tumsila.
Oknum Polisi.
Melihat kawannya diperlakukan begitu oleh pemain tuan rumah, Jacob Sihasale pun tak dapat menahan diri. Lalu ia menerkam Tumsila. Namun masih sial. Karena keadaan menjadi berbalik ketika seorang oknum Polisi sempat menerjang Jacob dengan sepatunya. Kalau ia tak cepat-cepat lari ke tengah lapangan pukulan popor senapan tak ayal bakal singgah pula di kepalanya. Dalam suasana pertandingan yang hangat itulah Persebaya sempat memperkecil kekalahan 3 menit menjelang pertandingan berakhir. Sehingga dengan kedudukan 2-1, arek-arek Suroboyo ini menjadi runner-up Pool D, dan berhak maju ke babak selanjutnya. “Alhamdulillah. soal ini tidak berkepanjangan”. tulis Zakaria M. Passe.
Tapi rasa syukur itu ternyata tidak dengan sendirinya meredakan anak-anak Medan. Karena pada pertandingan antara PSMS melawan kesebelasan Vietst bunga api kericuhan nyaris pula menyala di tangan hakim garis Polinaidu yang juga dari Medan. Kejadian ini gara-gara Poli kelihatan ragu-ragu untuk menganulir gol yang dibikin pemain PSMS dalam posisi of side. Tentu saja kapten Nguyen Van Mon mengajukan keberatan kepada wasit Takayama dari Jepang atas perlakuan demikian. Namun ketika sang wasit berkonsultasi dengan Polinaidu, hakim garis ini tanpa fikir panjang lagi malah membenarkan gol tersebut: ia menunjuk titik titik di tengah lapangan dengan benderanya. “Kalau begini caranya, tahun depan kami fikir dulu untuk ikut lagi”, keluh team manager-Vietsel kepada TEMPO selepas pertandingan.
Tutup buku.
Mendengar keluhan tamu yanlg diundang itu, Kamaruddin Panggabean merasa tersinggung juga oleh perbuatan Polinaidu. “Ini sungguh keterlaluan”, ujar Ketua OC itu. “saya sudah minta sebagai tuan rumah kita harus berlaku jujur tanpa melihat siapa yang sediang betanding. Tapi ini apa “Saya sungguh malu, saya malu”, keluh- nya berulang-ulang. Lantas apa tindakan Panggabean terhadap hakim garis yang membuat kesalahan itu? “Saya sudah tutup buku untuk Polinaidu. Ia sudah saya coret menjadi wasit karena susah untuk mempertanggung-jawabkan bila ia diberi kesempatan lagi”, kata Panggabean kepada Zakaria M. Passe, koresponden TEMPO di Medan.
Merasa tidak diberi ampun oleh Ketua Komda PSSI Sumatera Utara itu Polinaidu dengan pasrah menyerahkan nasib kepada Yang Maha Esa. “Saya menerima hukuman itu”, ujarnya dengan air mata berlinang. “Entah bagaimana waktu itu saya bisa khilaf”, tambah orang Tamil itu dengan suara yang lemah, karena “saya bersalah, saya menyerahkan diri pada Tuhan dan bersembahyang. Agar Tuhan menenangkan hati saya”. Amien.
Lelucon.
Cerita turnamen yang agak lain, meski tidak membuahkan arena tinju adalah pertandingan antara kesebelasan PSM, Ujung Pandang dengan team Muangthai dalam memperebutkan tempat kc-3 dan ke-4. Setelah bermain seri (1-1), kedua kesebelasan menyatakan keberatan untuk penambahan waktu 2 x 15 menit buat penentuan urutan. Karena mereka sudah sama-sama capek dan lesu. Ketika kedua team manager masing-masing kesebelasan bersepakat untuk saling undi saja, tapi Kamaruddin Panggabean tak bisa menerima. Sebab memahami peraturan turnamen yang sudah disetujui dalam tehnical meeting sebelumnya. “Kelebihan gol yang akan menentukan siapa yang jadi pemenang kata Panggabean menyetop usul yang dimajukan.
Karena sama-sama ngotot tak mau bermain lagi, pertandingan terpaksa ditunda hampir setengah jam sampai kemudian Panggabean turun dengan ancaman. “Bila kalian tidak mau main saya akan tuntut ganti kerugian lima ratus poundsterling”, ujarnya kepada team manager Muangthai Kolonel (U) P. Sidhi Sook Bhung Boon Nayudhya. Dan “tiket kalian saya claim tuding Panggabean untuk Ilyas Hadade, pimpinan rombongan PSM. Rupanya gertak Medan Ketua OC ini cukup menciutkan nyali kedua team manager: Sehingga mereka lantas membujuk pula pemain untuk sekedar memenuhi persyaratan panitia. Dan para pemain pun mengalah.
Tapi di lapangan anak-anak Muangthai dan Ronny Pattinasarani dkk sudah saling sepakat untuk membuat lelucon. Ketika wasit meniup peluitnya kembali, Anwar Ramang pun mengatur sembah kepada kapten kesebelasan Muangthai Precha Kittbon. Dan putera negeri Sirikit ini pun membalasnya dengan sikap yang anggun. Baru kemudian pertandingan dimulai dengan saling berguling, mengkili-kili bola dan menjatuhkan diri berpura-pura sakit meski itu tak tersentuh oleh lawan. Setelah capek baru si kulit bundar digulirkan ke arah gawang dengan tembakan yang lemah. Begitu sampai di kaki kesebelasan lain, para pemainnya juga berbuat serupa. Sehingga penambahan tempo itu pun tak merubah kedudukan.
Bangsaku, Bangsamu.
Sesudah kenyang menikmati lelucon yang menggemaskan hati itu, Panggabean pun mendamprat kedua team manager. “Selama tak ada perbedaan gol pertandingan harus dilangsungkan terus, biar semalam suntuk”, bentak Kamaruddin Panggabean. Dan untuk Ilyas ia pun menambahkan makian tambahan: “Kalian saya undang kemari. Tapi kalian datang untuk menghina saya dan Gubernur Marah Halim. Sungguh sayang, kalian bangsaku sendiri mau diajak oleh bangsa lain untuk menghina bangsamu sendiri”. Dan Ilyas hanya mampu berdiam diri mendengar ucapan itu, karena ia tidak tahu mau bilang apa? Barulah ketika Panggabean mengulangi ancamannya kepada kedua team manager, pertandingan diselesaikan dengan tendangan penalti. Tapi masih dangan suasana olok-olok. Karena beberapa tendangan yang dilakukan oleh masing-masing kesebelasan, angka yang diperoleh tetap seri. Meski kemudian kemenangan diraih oleh anak-anak PSM dengan angka tipis: 13-12.
“Selama hidup saya, baru pertama kali saya melihat kelakuan seperti ini”, kata hakim garis Ho Van An dari Vietsel. Sementara wasit Korea Han Kwee Suck tak berkomentar sama sekali. “Saya tidak akan mengundang kedua kesebelasan tersebut tahun depan”, kata Panggabean kepada wartawan, “tulis di surat kabar besar-besar, Muangthai dan PSM menghina Marah Halim”, tambahnya selepas pertandingan yang berakhir menjelang jam 24.00 tengah malam itu. Untuk final antara PSMS dan kesebelasan Jepang, Panggabean yang diliputi rasa kesal terpaksa menerima pil pahit lagi. Anak asuhannya tak berjaya mempertahankan Piala Marah Halim, meski dengan perpanjangan waktu 2 x 15 menit pula. Juswardi dkk kalah lihay dalam tendangan penalti dengan putera negeri aji no moto. PSMS ditundukkan dengan angka tipis 3-2. “Pak Gubernur memang lebih senange pada piala itu dibawa ke Jepang”, komentar M Syarifuddin, Humas OC seusai pertandingan. “Dengan diboyongnya Piala Marah Halim ke negeri itu paling tidak Sumatera Utara sudah dikenal di sana”, kata anggota panitia yang lain. Dan apa kata orang Medan ? “Macam promosi pariwisata saja, mamak”. Apa iya?
Sumber : Arsip Majalah Tempo

Leave a comment

Quote of the week

"People ask me what I do in the winter when there's no baseball. I'll tell you what I do. I stare out the window and wait for spring."

~ Rogers Hornsby

Designed with KlipStori.com