Pertemuan yang berlangsung di gedung milik mahasiswa Katolik itu menjadi semakin menarik dengan hadirnya Mayjen Ali Murtopo. Tidak mengenakan baret, Aspri Presiden ini muncul dengan kemeja batik Pekalongan. Ia bcrkata: “Sejarah pergerakan mahasiswa sebaiknya disusun oleh mereka-mereka yang pernah terlibat langsung, bukan oleh peninjau-peninjau asing yang mempergunakan kaca mata asing pula”. Sambil menyebut sarjana-sarjana lndonesia yang disebutnya kebanyakan hanya bisa meniru tulisan ahli-ahli dari Australia dan Amerika tentang Indonesia, Ali Murtopo bertanya: “Mengapa kita sendiri tidak menulis sejarah pergerakan menentang orde lama, sehingga nantinya orang-orang asing yang memplagiat kita?”. Rupanya karena itulah antara lain yang membuat Jenderal Ali bersemangat membantu usaha penulisan sejarah tersebut. Usaha itu harus segera dimulai, sebab kalau tidak menurut Ali Murtopo, “gambaran sejarah ini akan luntur”. Desakan semacam itu mendapat gaungnya dalam sambutan David Napitupulu, salah seorang dari yang sepuluh. “Mumpung kebanyakan saksi-saksi hidup yang bernyawa masih ada di sini”, katanya.
Sudah wajar kalau diskusi antar bekas tokoh mahasiswa ini berlangsung dengan ide-ide beragam. Drs Zamroni mcndesak supaya interpre tasi yang berbeda-beda dihindarkan. “Cukup dituliskan fakta-fakta apa adanya”, kata bekas pimpinan KAMI yang dulu mewakili PMII (organisasi mahasiswa N U.) itu Cosmas Batubara juga terdengar Sebagai orang yang mengutnumkan Tritura (singkatan dari Tri Tuntutan Rakyat), bekas tokoh mahasiswa Katolik yang kini jadi tokoh Golkar itu cenderung menitik beratkan pada konsepsi Tritura, dan bukan pada pelaku-pelakunya. “Kita sebaiknya membatasi diri pada data tertulis saja baik yang masih ada di Samratulangi nlLIupun yang ada pada Ismid Hadad” kata Cosmas. Mendengar namanya disebut, bekas ketua Biro Penerangan KAMI pusat itu mendadak angkat bicara. Katanya: “Bahan-bahan tertulis saja tidak lengkap”.
Bagi Sugeng Saryadi yang lebih penting kelihatannya adalah soal penekatan yang akan dipakai untuk menulis sejarah itu. Bekas pimpinan mahasiswa Bandung yang kini jadi pcngusaha meangkap wartawan majalah dwi pekan mimbar ini berbicara sedikit dengan mengutip Arnold Toynbee Ahli sejarah Inggris yang terkenal dengan teorinya mengenai tantangan dan tanggapan (challenge & response) itu. Maksud Sugeng, perlu pendekatan pada manusia sebagai pembentuk sejarah. “Penulisan ini hendaknya diserahkan pada team penulis yang memang professionil, yang sudah mempelajari ilmu sejarah”, katanya pula. Dan mengenai panitia 10 tersebut (terdiri dari: Dr Abdul Gafur, David Napitupulu, Zamroni. Cosmas Batubara, Lim Bian Kun, Fahmy Idris, Abersn, Mar’ie Muhamad, JMV Suwarto Johny Sunarya) menurut bekas tokoh Bandung ini, “cukup sebagai pengumpul bahan saja”.
Fahmi Idris juga tidak ketinggalan. Lebih tegap dan klimis dari 7 tahun silam, bekas kepala Lasykar .mpela Arif Rachman Hakim ini nampaknya tidak berbeda pendapat dengan Sugeng yang kini menjadi teman seusahanya. Ia hanya menambahkan “setelah penulisan itu selesai, panitia 10 memeriksa kembali kebenarannya”. Terhadap pendapat terakhir ini nampaknya tidak banyak oposisi lagi. Mengenai soal pengumpulan bahan, David malahan bcrkata: “Juga terbuka bagi fihak-fihak luar”. Apa maksudnya, kurang dijelaskan. Tapi yang terang usaha itu sudah resmi dimulai, dan kepada para peminat boleh menghubungi mereka yang lagi sibuk menyiapkan sejarah itu pada salah satu kantor di jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru.
Sumber : Arsip Majalah Tempo Online
Leave a comment