KALAU main bola cuma menyepak menahan, menggiring, menyundul serta membuat kerjasama yang sedap dipandang, maka Kesebelasan St. Pauli boleh diberi cap “berhasil”. Bahkan ketrampilan mereka dalam mempamerkan dasar-dasar sepakboIa, agaknya boleh disejajarkan dengan disiplin dan kerapian serdadu Jerman yang sedang berbaris. Tak seorangpun yang menonjol, kecuali kiper Larsen. Dia bermain seperti anak “Gawang” yang baru pertama kali ditonton puluhan ribu penonton. Tapi kalau mau bicara soal gol dan semangat bertanding maka Kesebelasan “4-Besar” PSSI paling tidak mempunyai kefanatikan itu.
Tahun Pelita I.
Tahun 1972 seolah “tahun Jerman (Barat)”. PSSI membuka kalender 1972 dengan pertandingan internasionalnya yang pertama melawan Hamburg SV dan menjelang akhir 1972, PSSI mengunci Tahun Pelita I dengan St. Pauli. Namun berbeda dengan Kesebelasan Hamburg yang agresif dan memiliki pemain seperti Uwe Seeler dan Willy Schulz , St. Pauli lebih banyak menyuguhkan sifat-sifat seorang “santo” kalau tidak mau dikatakan “pa’ul”. Ketinggalan 0-4 sampai tiga-perempat jalan pertandingan tidak pula mengobarkan semangat mereka. Baru ketika Coach Endang Witarsa memberi jatah kepada beberapa pemain cadangan untuk dicoba, St, Pauli kelihatan diberi peluang mencetak gol. Agaknya dalam pertandingan Minggu sore, 24 Desember di Stadion Senayan yang megah itu, lebih tepat jika dikatakan bahwa St. Pauli-lah yang membayar PSSI dari pada sebaliknya.
Klop.
Tapi apa yang mengundang lebih kurang 50.000 penonton menyaksihan pertandingan pada penutup tahun itu, agaknya tidak lain adalah keinginan mereka menilai Kesebelasan PSSI yang disusun dari materi pemain 4 daerah yang baru saja mengakhiri turnamen Piala Presiden Suharto. Dalam hal ini para suporter maupun pimpinan PSSI berhasil menjalin suatu komunikasi yang klop keraguan orang mengenai kondisi Abdul Kadir dan Jacob Sihasale – yang selama ini penyerang teras PSSI terhapus oleh permainan Andjas dan Tumsila. Terutama ketika Andjas menyelusup dari sayap kiri dan berhasil menempatkan diri dalam posisi menembak di daerah penalti, ia seolah bimbang melakukan penyelesaian terakhir. Tapi ketika bola dengan tepat ditrek lewat seorang pemain belakang lawan kepada Iswadi, maka terbangunlah sementara peninjau akan keindahan permainan Andjas. Gol ke-2 yang dicetak Iswadi ini sekaligus mengungkapkan pula kebesaran Andjas. Sebagai pemain junior ia bijak sekali memanfaatkan momen yang dapat menolong rekamanya yang lebih senior untuk memainkan kepercayaannya. Dan orang pun teringat akan peristiwa-peristiwa besar pada diri di Stefano dan Puskas pada zaman jayanya Kesebelasan Real Madrid. Tidak jarang dalam momen-momen kritis di mulut gawang, mereka saling menyodorkan biji longkong yang menjadi haknya hanya untuk menguji kelihayan masing-masing.
Alternatif, Pendatang baru di barisan muka tak perlu diperdebatkan lagi adalah Tumsila. Pemain cadangan team Pra-Olimpik Rangoon ini menemukan harinya di bulan Desember ini. Ia mulai nampak konsisten sejak Turnamen 4 Besar. Gerakan-gerakan melebar maupun penetrasi ke sarang lawan hampir selalu mengandung ancaman langsung.Ditambah dengan kepandaiannya mengolah dan menyundul bola, menempatkan Tumsila sebagai penyerang yang menuntut kepercayaan lebih besar dari pengasuh PSSI untuk memasangnya dalam pertandingan-pertandingan besar.Secara keseluruhan, Kesebelasan “4-Besar” PSSI — minus Waskito, Mudjiadi dan Harsojo yang semuanya dari Malang — memberi alternatif positif dalam persiapan Pra Kejuaraan Dunia di Australia bulan Maret yang akan datang.
1/2 Lusin Untuk PSMS
Bobot.
Adakah Kesebelasan PSMS tanpa dua pemain inti tersebut menjadi kehilangan bobot? Mungkin, meskipun beberapa peninjau beranggapan bahwa setelah Juara Piala Presiden Soeharto ini diguyur oleh pujian atas prestasinya dalam Turnamen “4 — Besar” dan di cekoki dengan berbagai perangsang (inceintive) sebagai imbalannya, anak-anak Medan menjadi jenuh dan jemu bersepakbola. Dan ada lagi satu faktor yang nampaknya lebih dekat pada kebenaran: semangat pertandingan “persahabatan” agaknya kurang bisa memhangkitkan anatisme daerah — faktor yang selama ini amat menentukan Kesebelasan Medan bermain dengan kegairahan dan haus kemenangan.
Kekalahan 6 gol tanpa balas ternyata lebih tepat dinilai sebagai pelajaran ulangan bagi Kesebelasan PSMS bahwa semangat dan kemauan bisa mengimbangi teknik untuk mencapai suatu kemenangan, sementara teknik yang rendah tanpa semangat dan kemauan yang keras hanya lebih tepat menjadikan PSMS mangsa lawan. Dan faktor ketrampilan teknis inilah yang agaknya menempatkan Kesebelasan PSMS tidak konsisten dalam prestasi internasionalnya – baik di dalam negeri maupun di luar negeri sebagai wakil PSSI.
Sumber : Arsip Majalah Tempo
Leave a comment