Untuk menerangkan “cara dan waktunya bermain kasar”, agaknya Tanoto terpaksa meluangkan waktunya 2 jam kepada reporter Renville Almatsier yang bertamu dirumahnya di Jalan Sentul 34. Permainan kasar yang berhasil, menurut Tanoto harus didasarkan pada skill sepak bola yang tinggi di samping pembawaan pemain yang bersangkutan. “Kuasai dulu teknik dribble, menyetop bola, heading dan lain-lain ketrampilan teknis”. Hanya dengan dasar itu “feeling” untuk bermain keras bakan kasar dalam setiap kesempatan dan waktu bisa berkembang wajar dan diresapi publik. Mengenai legalitas “main kasar”, “itu tergantung pada wasit yang memimpin. Bukankah sifat pemain bola keras dan kasar? Karenanya seorang wasit diperlukan dan di patuhi” katanya sambil mencela peranan wasit yang memimpin pertandingan Indonesia-Australia.
Iswadi
Tapi menurut Otje, permainan keras yang dikembangkan beberapa pemain PSSI untuk mengimbangi kelicikan anak-anak Australia, lebih kentara kekotorannya. “Kalau kita dimakan, dan laln kesempatan, membalasnya. Tidak pada kesempatan pertama, carilah kesempatan kedua dari seterusnya”, demikian petuah Tanoto, jangan sedikit-sedikit mau memukul, dan pasang kuda-kuda. Saya kepingin tahu dengan sikap itu apa yang akan terjadi dalam prakejuaraan dunia di Australia nanti?”
Menunjuk pada “peristiwa Iswadi” yang menghebohkan, Tanoto mengingatkan kembali pertandingan Indonesia-Uni Soviet dalam Olimpiade Melbourne 1956. Ketika itu Tanoto terlibat dalam permainan keras dengan Salnikov. Tapi rupanya pemain Rusia itu tak dapat menguasai diri. Ia mengejar Tanoto untuk membalasnya. Di saat itu kaki gelandang PSSI bersarang di perut Salnikov. “Saya kira perbuatan saya lebih kasar daripada Iswadi. Tapi perlu dimaklumi bahwa pada waktu itu saya berada dalam ancaman tanpa bola”.
Tanoto mengingatkan kembali bahwa setelah pertandingan, Maladi, pimpinan Kontingen Indonesia, bukan main marahnya, “pada hal siapa pun tidak akan membiarkan dirinya dihajar lawan”. Oleh karena itu ia berpendapat bahwa “permainan keras pula taekwondo seperti yang diperlihatkan Iswadi sewaktu ia tidak langsung terlibat dalam perkelahian, adalah tidak dapat ditolerir”. Bekas bintang lapangan hijau ditahun 50-an ini merasa cemas akan kode etik permainan sepakbola seperti yang diperlihatkan PSSI. “Sebab bagaimanapun falsafah main kasarnya saya tidak lain cuma untuk mengurangi tenaga lawan dalam permainan itu. Saya bentur dan hantam mereka supaya mereka tidak menganggap enteng pemain-pemain yang kecil seperti saya. Tidak saya membikin patah kaki lawan atau dengan sengaja makan orang tanpa bola. Kalau mau berbuat seperti Iswadi, lebih baik ambil pestol dan dor lawan. Semua, beres”.
Hansip
Dan apa yang tak dapat ditolerir itu sesungguhnya berkisar pada fungsi Iswadi dalam pertandingan tersebut. Pemain nomor 13 ini bertindak sebagai kapten kesebelasan yang seyogyanya dapat menguasai emosi disamping peraturan permainan. Tapi oleh Tanoto soal itu dikatakan sebagai lebih banyak mencerminkan keadaan PSSI umumnya”. Ia mencoba mengasosiasikan penunjukan Iswadi sebagai kapten sebagaimana pimpinan PSSI menunjuk team-manager, sonder mempertimbangkan “apakah mereka yang ditunjuk itu benar-benar kapabel untuk menjalankan fungsinya”. “Menentukan kapten bukan main tunjuk atau main jatah jatahan. Kapten harus dididik khusus, kalau tidak mau dicap sebagai kapten-toss”. Tanoto juga berkeberatan andaikata tujuan pengangkatan seorang- pemain sebagai kapten terutama untuk menjinakkan temperamen pemain tersebut. “Bagaimana pun maling tidak bisa dijadikan hansip!” ujarnya.
Tapi adakah Tanoto sendiri pernah mendapat didikan khusus dari PSSI. “Itulah soalnya. Saya menganjurkan kepada para pemain untuk menambah pengetahuan sari buku-buku dan belajar dari yang tua-tua”, kata bekas Kapten PSSI yang kini telah berusia 42 tahun. Menurut pengakuannya bahwa didikan Dr Nawir – bekas pemain PSSI di zaman Hindia Belanda – amat menolongnya untuk melakukan peranan kapten, di samping tentunya coach Pogacnik dan ayahnya sendiri Tan Chin Hoat yang tak bosan-bosannya memberi petunjuk-petunjuk berharga. Pemenang Satya Lencana untuk Olahraga ini yang pernah “mengalami” dua kali patch-kaki, pada akhirnya mengingatkan bahwa “seni” main kasar pada hari-hari ini telah menjurus kepada permainan kotor, sementara usaha menegakkan norma-norma sportifitas melalui peranan seorang kapten dan wasit kurang memadai. Dalam kondisi dan situasi seperti sekarang paling tidak nasihat pemain-pemain dua PSSI masih dibutuhkan, apalagi kalau mereka, dapat menyediakan waktu untuk sekedar bercengkerama dengan pemain-pernain muda sekali waktu selama mereka berada di TC.
Arsip Majalah Tempo 28 Oktober 1972
Leave a comment