Lembek.
“Peraturan lembek, permainan meningkat kasar. Dan lebih celaka lagi wasitnya tidak berdaya”, kata sang Kapten yang sebagai pemain PSMS Medan bukan tidak terkenal dengan permainan keras, malahan kasar sewaktu-waktu. “Jika di Indonesia, mungkin sudah banyak pemain mereka dikeluarkan wasit, tapi karena wasit tidak bertindak kami pun tidak mundur melayani mereka”, sambungnya, “pokoknya kami ini cap mau ! “Barangkali dengan semangat “cap mau” itu PSSI B berhasil menundukkan Kidderpore 1–0 dan Aryan ymkhana 2-1, tapi tak kuasa melindungi gawang Suharsojo dari kebobolan 0-3 ketika berhadapan di semi-final dengan Mohun Bagan (Juara Turnamen).
Di semi-final ini puncak insiden terjadi. Back kanan lawan dengan sengaja menghunjamkan kedua kakinya kearah lutut kanan Andi Lala. Lala cedera dan “anak-anak tak dapat menguasai diri”. Terjadilah baku-hantam yang menurut Sarman “tak dapat dihindarkan karena emosi sudah tak terarah”. Dan apa yang bisa meredakan luapan emosi anak-anak tidak lain adalah mangkok-mangkok sirih (terbuat dari tanah liat) yang melayang kearah pemain-pemain Indonesia. “Kami jadi takut, karena tak mungkin penonton dilawan”.
Medan
Bagaimana kalau Medan yang menghadapi mereka? “Medanpun takut kalau menghadapi permainan tanpa peraturan”, komentar Sarman, “mungkin kita harus bawa semua pemain model Jacob yang tahan banting”. Kesimpulannya sederhana: untuk pembinaan, lain kali tak usaha PSSI belajar dari sana — meski kemudian diakui juga, bahwa pengalaman di India boleh juga dijadikan bekal untuk melayani anak-anak Muangthai dalam Turnamen King’s Cup Nopember yang akan datang.
Dari kasar permainan beralih ke lembek. Di Assan PSSI B dengan melalap Kesebelasan India (pilihan) 4-0 dan mengalahkan Malaysia (Selangor) 3-0 sebelum tampil sebagai juara. Kemenangan tersebut, menurut Sarman, terutama disebabkan ‘pemain-pemain tingkat nasional lebih mengerti peraturan dan tahu permainan sepakbola yang sebenarnya”. Adakah ini pertanda PSSI B meningkat dewasa ataukah hanya gejala-gejala penyakit “salon semata?
Sumber : Arsip Majalah Tempo
Leave a comment