Dan Tony Poganik tampak ingin merubah semua kebiasaan itu. Ia punya mau semua pemain selalu dalam keadaan bergerak (moving football) dan berinisiatif untuk mengantar dan menjemput bola dari kawan. Diuji dari 3 kali pertandingan — 2 kali lawan Kristiansand dan 1 kali lawan Esbjerg — 2 pekan lalu, apa yang diinginkan Tony Poganik memang tampak berjalan. Tapi pola permainan itu hanya mampu diterapkan team Pre World Cup Indonesia untuk 15 menit pertama. Sedang untuk tempo sisa permainan yang panjang, barisan pemain PSSI kembali tergiur ke dalam sistim lama yang telah mendarah-daging: memperlihatkan kebolehan sendiri-sendiri.
Berobahnya inisiatif yang diambil dalam melanjutkan permainan memang tidak dirasakan terlalu mengganggu bagi keutuhan regu. Hanya saja gebrakan yang memukau dan menusuk tajam di daerah pertahanan lawan seperti yang diperlihatkan di awal pertandingan, tampak sedikit melemah. Di lini depan (dalam pertandingan pertama dengan Kristiansand — urutan ketiga Divisi I di Norwegia) cuma sayap kanan, Waskito yang agak sedikit mampu mempertahankan kontinuitas dalam gerak. Penyusupan hampir selalu merepotkan barisan pertahan musuh. Akan kiri luar, Andi Lala berlaku sebaliknya. Juga Risdianto.
Banyak Lagak
Di barisan penghubung, tugas yang dibebankan pada Junaedi Abdillah dan Anjas Asmara cukup menghidupkan permainan. Kekosongan pemain pengumpan dalam pertandingan Sao Paolo maupun lawan Australia lalu kembali terisi dengan kehadiran Junaedi Abdillah. Sehingga memungkinkan bagi Anjas Asmara untuk melakukan penetrasi lebih dalam ke kawasan pertahanan lawan. Akan halnya, Ronny Pattinasarany yang menggantikan tempat Junaedi Abdillah untuk setengah babak terakhir belum mungkin untuk diharapkan berbuat banyak. Ia memang seorang pemain yang cerdik. Tapi juga banyak lagak. Namun ketika ketiga pemain penghubung ini diturunkan sekaligus oleh Tony Poganik dalam menghadapi Esbjerg, Denmark — PSSI menang 2-0 — kekompakan dan saling pengertian dalam tugas kelihatan lebih terjaga. Meski Ronny Pattinasarany tetap merupakan titik yang agak lemah.
Di barisan pertahanan, kwartet yang tampak lumayan adalah Johanes Auri Suaeb Rizal — Oyong Liza — Simson Rumahpasal. Tapi ketika dalam pertandingan kedua dengan Kristiansand yang berakhir seri 2-2 (dalam pertandingan pertama team Pre World Cup Indonesia menang 4-1) sewaktu posisi back kiri yang ditempati Johanes Auri digantikan oleh Wahyu Hidayat, apa yang dimaui Tony Poganik ternyata tidak jalan. Wahyu Hidayat yang ketika di zaman PSSI Harimau memperlihatkan permainan yang baik untuk posisi tersebut, petang itu kelihatan kehilangan sentuhan. Juga sewaktu ia ditempatkan di area pertahanan rusuk kanan menggantikan Risnandar — Simson Rumahpasal tidak dapat bermain lawan Esbjerg lantaran sakit — Wahyu Hidayat berlaku serupa. Meski ia sedikit lebih baik ketimbang Risnandar sendiri.
Bertolak dari penilaian yang ditampilkan team Pre World Cup Indonesia dalam 3 kali pertandingan atas lawan yang boleh dikatakan tak sebanding ini, Tony Poganik kelihatan masih memerlukan waktu yang panjang untuk merobah gaya permainan regu Indonesia. Sistim jemput bola yang diperkenalkannya memang menguntungkan bagi pemain yang berfisik kecil dalam menggocek bola. Tapi pola itu sendiri membutuhkan stamina yang prima dari pemain. Tanpa semua itu, kemauan Tony Poganik hanya mampu untuk ditampilkan dalam belasan menit pertama seperti 3 pertandingan percobaan lalu. Akankah dalam tempo yang tersisa 2 bulan lagi Tony Poganik bisa merubah segala kebiasaan yang masih melekat di diri pemain? Tampaknya agak berat. Karena itu akan membutuhkan waktu yang panjang. Jalan ke luarnya kini, kiranya akan lebih baik bila Tony Poganik mengarahkan kebiasaan yang ada ke dalam kekompakan regu dan permainan perorangan serupa yang dilakukan Coerver dulu.
Sumber : Arsip Majalah Tempo
Leave a comment